kumparanMOM Festival Hari Anak 2026 Hadirkan Edukasi DBD Bersama Dokter Ikhsan

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat adanya 39.672 kasus DBD terjadi di Indonesia hingga Mei 2026.
Anak-anak menjadi kelompok yang rentan terjangkit DBD. Bahkan mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi dan kondisi dengue yang berat dibandingkan orang dewasa.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi kumparanMOM Festival Hari Anak 2026 menggelar talkshow bertajuk “DBD atau Demam Biasa? Saatnya Kenali Gejala DBD” bersama Cegah DBD di Panggung Bintang Kecil, Sabtu (25/7).
Sesi ini menghadirkan dr. Ikhsanuddin Qothi yang berbagi wawasan mengenai perbedaan gejala DBD dan demam biasa, sekaligus menjelaskan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegahnya keluarga terjangkit DBD.
Menurut dr. Ikhsan, selain sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang, faktor lingkungan turut berperan besar meningkatkan risiko demam berdarah dengue. Terlebih, anak-anak kerap beraktivitas di luar ruangan pada pagi hingga sore hari, saat nyamuk Aedes aegypti pembawa virus dengue lebih aktif menggigit.
“Nyamuk Aedes aegypti ini lebih sering menggigit di pagi dan sore hari, saat anak-anak sedang beraktivitas. Saat di sekolah pun, risiko tergigit nyamuk penyebab DBD ini bisa terjadi,” ungkap dr. Ikhsan.
Hingga kini, masih banyak orang tua yang kesulitan mengenali gejala awal DBD sehingga penanganannya berisiko terlambat dilakukan. Bukan tanpa alasan, Moms. Menurut dr. Ikhsan, tahap awal gejala DBD memang sering kali menyerupai demam akibat infeksi biasa.
Setelah terinfeksi virus dengue, penderita umumnya akan mengalami demam tinggi yang disertai tubuh lemas, nafsu makan menurun, hingga sakit kepala. Meski demikian, ada sejumlah tanda khas DBD yang dapat dicermati oleh orang tua.
“Demam berdarah dengue diawali dengan demam, namun ada juga gejala lainnya, contohnya nyeri pada bagian mata, myalgia atau nyeri pada bagian otot, lalu diikuti dengan mimisan, mual dan muntah parah, sakit perut, hingga sesak napas,” terang dr. Ikhsan.
Selain itu, dr. Ikhsan menyebut ada tanda khas lain yang dapat terlihat secara langsung pada tubuh penderita DBD, yakni munculnya bintik-bintik kemerahan di kulit.
“Selain itu, DBD ini kan dapat menyebabkan pendarahan, sehingga umumnya akan muncul bintik-bintik kemerahan di sekujur tubuh. Jadi bila gejalanya terus berlanjut dan demamnya tidak kunjung turun hingga hari kedua, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan agar bisa mendapatkan penanganan lebih awal,” tambahnya.
Pentingnya Penanganan DBD Sejak Gejala Awal
Bila tidak segera ditangani, penyakit DBD dapat menyebabkan berbagai komplikasi, mulai dari masalah pencernaan, paru-paru, otak, kesadaran menurun, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Di sisi lain, salah satu miskonsepsi yang masih sering terjadi di masyarakat adalah menganggap anak telah sembuh ketika demamnya mulai turun. Padahal, hari ketiga hingga kelima sejak mulai demam justru dapat menjadi fase kritis yang perlu diwaspadai oleh orang tua.
“Ketika demam yang sebelumnya tinggi tiba-tiba turun, banyak orang menganggap penderita sudah sembuh. Padahal, pada fase ini kondisi kesehatan dapat memburuk dan risiko terjadinya syok juga meningkat,” jelas dr. Ikhsan.
Oleh karena itu, upaya perlindungan tidak cukup hanya pada penerapan 3M Plus, Moms. Selain menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, keluarga juga perlu melakukan perlindungan tambahan agar terhindar dari gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menyarankan vaksinasi sebagai salah satu upaya perlindungan tambahan terhadap penyakit DBD. Vaksinasi ini berfungsi membantu menurunkan risiko gejala yang lebih berat sekaligus membentuk perlindungan terhadap empat serotipe virus dengue.
dr. Ikhsan juga menjelaskan, vaksin dengue dapat diberikan kepada anak-anak dan orang dewasa sesuai ketentuan usia serta kondisi kesehatannya.
“Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan DBD. Karena itu, salah satu langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk memberikan perlindungan tambahan kepada keluarga adalah vaksinasi dengue,” pungkas dr. Ikhsan.
Jadi makin paham kan, Moms, pentingnya perlindungan menyeluruh dari DBD dengan menerapkan 3M Plus dan vaksinasi! Untuk informasi lebih lanjut mengenai pencegahan DBD, yuk kunjungi www.cegahdbd.com.
C-ANPROM/ID/QDE/1263 | Juli 2026
