3 Cara Mengobati Usus Bantu dan Pantangannya yang Perlu Diketahui
ยทwaktu baca 5 menit

Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah peradangan pada usus buntu atau apendiks (umbai cacing) akibat infeksi oleh bakteri. Apabila sisa makanan masuk ke dalam apendiks, makanan tersebut akan busuk dan sulit dikeluarkan, sehingga menyebabkan peradangan.
Usus buntu dapat menyerang semua kalangan usia, baik pria maupun wanita, tetapi lebih sering menyerang pria berusia 10-30 tahun. Kondisi ini ditandai dengan nyeri perut bagian bawah yang disertai demam ringan, mual, muntah, konstipasi, dan hilangnya nafsu makan.
Cara Mengobati Usus Buntu
Pengobatan radang usus buntu umumnya melibatkan pembedahan untuk mengangkat usus buntu yang meradang. Usus yang meradang tersebut harus segera dioperasi. Sebab, jika dibiarkan, usus buntu akan pecah dan menyebabkan peradangan pada selaput rongga perut.
Dirangkum dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, berikut adalah beberapa cara mengobati usus buntu yang bisa dilakukan.
1. Pemberian Antibiotik
Beberapa kasus radang usus buntu tertentu (apendisitis ganggrenosa atau apenditis perforasi) memerlukan antibiotik, kecuali usus buntu tanpa komplikasi. Namun, perlu diingat bahwa penundaan tindakan bedah sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi.
2. Apendiktomi
Apendiktomi adalah tindakan pembedahan untuk mengangkat apendiks. Tindakan ini harus segera dilakukan untuk menurunkan risiko perforasi (kondisi terjadinya luka atau lubang pada dinding organ pencernaan).
Mengutip jurnal Appendectomy: Surgical Removal of the Appendix oleh American College of Surgeons, apendiktomi dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode pembedahan, yaitu secara teknik terbuka (pembedahan konvensional laparatomi) atau dengan teknik laparoskopi. Berikut penjelasannya:
Laparatomi adalah prosedur medis untuk memeriksa atau menangani berbagai gangguan pada organ di dalam rongga perut. Prosedur ini memungkinkan dokter melihat dan merasakan organ dalam untuk menentukan diagnosis.
Laparoskopi adalah prosedur medis yang memungkinkan dokter bedah untuk mengakses bagian dalam perut dan panggul tanpa harus membuat sayatan yang besar.
3. Perawatan Pascaoperasi
Perawatan pascaoperasi dimulai dengan mengobservasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, hipertermia, syok, atau gangguan pernapasan.
Satu hari setelah dilakukan operasi, pasien dianjurkan duduk tegak di tempat tidur selama dua kali 30 menit. Hari kedua dapat dianjurkan untuk duduk di luar kamar. Sementara pada hari ketujuh pasien biasanya sudah diperbolehkan pulang.
Baca Juga: Radang Usus Buntu: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatannya
Pantangan Usus Buntu
Setelah seseorang melewati tindakan operasi usus buntu, ada beberapa pantangan yang harus dihindari untuk mengurangi nyeri pada perut. Dikutip dari Southlake General Surgery, sejumlah pantangan usus buntu, yaitu:
1. Makanan Berlemak Tinggi
Setelah operasi usus buntu, penderita harus menghindari makanan yang terlalu berlemak karena susah dicerna dan dapat menyebabkan mual dan diare. Makanan berlemak tinggi termasuk gorengan, daging, keju, kue manis, dan produk susu.
2. Makanan Manis
Berbagai makanan manis atau mengandung gula yang tinggi harus dihindari penderita usus buntu. Makanan manis mencakup kue kering, permen, hingga berbagai jenis minuman kemasan. Mengonsumsi makanan manis dalam jumlah besar bisa menyebabkan diare setelah operasi usus buntu.
3. Makanan Bertekstur Padat
Dalam masa pemulihan pascaoperasi usus buntu, makanan bertekstur padat harus dihindari. Sebab, makanan padat sulit dicerna oleh tubuh. Makanan padat yang menjadi pantangan termasuk daging merah, beberapa jenis sayuran, kacang-kacangan, dan makanan padat lainnya.
4. Makanan Mengandung Gas
Setelah operasi usus buntu, pasien biasanya akan merasakan sejumlah gejala, seperti perut kembung dan keinginan buang angin. Karena kondisi ini, penderita sebaiknya menghindari makanan yang mengandung terlalu banyak gas.
Makanan dengan kandungan gas yang tinggi dapat memperparah perut kembung dan membuat perut terasa tidak nyaman. Adapun beberapa makanan yang mengandung gas tinggi, yaitu kacang-kacangan, kol, brokoli, dan selada.
5. Makanan Pedas
Makanan pedas merupakan pantangan usus buntu lainnya yang harus dihindari. Makanan ini bisa menyebabkan risiko komplikasi pada pencernaan, seperti diare dan sakit perut.
6. Makanan yang Mengandung Garam Tinggi
Makanan yang mengandung garam tinggi dan penyedap rasa, seperti mi instan, dapat memperparah kondisi usus buntu. Hal ini karena makanan bergaram tinggi bisa menyebabkan iritasi pada usus, sehingga tidak baik bagi penderita penyakit ini.
7. Minuman Beralkohol
Selain beberapa makanan di atas, minuman yang harus dihindari setelah seseorang menjalani operasi usus buntu adalah minuman beralkohol. Sebab, minuman beralkohol dapat bereaksi negatif jika bertemu dengan sisa pembiusan dalam tubuh pascaoperasi.
Apakah Usus Buntu Bisa Sembuh Sendiri?
Pada dasarnya, usus buntu tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Jika peradangan usus buntu yang terjadi masih ringan atau belum terlalu parah, kondisi ini bisa disembuhkan dengan beberapa pengobatan tanpa harus operasi, seperti:
Mengonsumsi antibiotik. Jika mengidap radang usus buntu, kondisi ini bisa sembuh dengan terapi antibiotik dan tidak perlu melakukan operasi untuk mengangkat usus buntu. Sebagian besar kasus radang usus buntu tidak parah, yang berarti organ belum pecah, sehingga bisa diobati dengan antibiotik.
Mengonsumsi makanan kaya serat. Beberapa jenis makanan yang dapat memicu tersumbatnya organ usus adalah makanan yang tinggi karbohidrat dan rendah serat. Karenanya, konsumsi makanan tinggi serat dapat membantu mengatasi penyakit usus buntu.
Dikutip dari VeryWell Health, dalam kasus yang ringan, meski bisa ditangani tanpa operasi, Anda tidak dianjurkan untuk mengobati usus buntu sendiri tanpa penanganan medis dari dokter. Hal ini karena peradangan pada usus buntu bisa cepat memburuk dan tidak selalu dapat diobati dengan antibiotik.
Untuk pemeriksaan menyeluruh dan mencegah perkembangan kondisi yang lebih serius, Anda tetap perlu memeriksakan diri ke dokter ketika mengalami gejala usus buntu.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa itu penyakit usus buntu?

Apa itu penyakit usus buntu?
Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah peradangan pada usus buntu atau apendiks (umbai cacing) akibat infeksi oleh bakteri.
Siapa saja yang bisa terkena usus buntu?

Siapa saja yang bisa terkena usus buntu?
Usus buntu dapat mengenai semua kalangan usia, baik pria maupun wanita, tetapi lebih sering menyerang pria berusia 10-30 tahun.
Apa gejala usus buntu?

Apa gejala usus buntu?
Kondisi usus buntu ditandai dengan nyeri perut bagian bawah yang disertai demam ringan, mual, muntah, konstipasi, dan hilangnya nafsu makan.
