Analgesik: Manfaat, Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping

Konten Media Partner
10 November 2022 9:09
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi obat-obatan analgesik. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat-obatan analgesik. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Analgesik obat apa? Analgesik adalah golongan obat yang digunakan untuk meredakan rasa sakit atau nyeri, seperti sakit kepala, sakit gigi, dan nyeri haid.
ADVERTISEMENT
Analgesik terdiri dari berbagai jenis obat pereda nyeri. Setiap jenis obat ini memiliki cara kerja masing-masing. Salah satu jenisnya adalah obat analgesik non-opioid, seperti paracetamol.
Paracetamol 500 mg (Analgesik Non-Opioid)
Harga
Rp9.000 - Rp20.000 per strip (10 tablet)
Indikasi dan Manfaat
Meredakan nyeri dan kondisi peradangan, seperti sakit kepala, sakit gigi, dan nyeri haid.
Komposisi
Paracetamol 500 mg (Analgesik Non-Opioid)
Dosis dan Aturan Pakai
Dewasa: dosis 500 mg, diminum setiap 4-6 jam sekali. Dosis maksimal 4.000 mg per hari. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.
Efek Samping
Sakit kepala, pusing, sakit perut, mual, dan muntah.
Cara Penyimpanan
Simpan pada tempat sejuk dan kering, serta terlindung dari cahaya matahari langsung.
Peringatan
Tidak boleh digunakan untuk pasien yang alergi terhadap kandungan obat, memiliki riwayat penyakit jantung, serta gangguan fungsi hati dan ginjal.
Golongan Obat
Obat Bebas

Pengertian Analgesik

Analgesik adalah golongan obat yang digunakan untuk meredakan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Obat ini sering kali digunakan untuk membantu meredakan sakit kepala, sakit gigi, nyeri pascapersalinan, dan kondisi lainnya.
Mengutip jurnal Pharmacogenetics of Analgesic Drugs oleh Roman Cregg, dkk., berdasarkan farmakologisnya, analgesik dibagi menjadi dua jenis, yaitu analgesik non-opioid dan analgesik opioid. Berikut penjelasannya:
Ilustrasi obat-obatan analgesik. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat-obatan analgesik. Foto: Unsplash

1. Analgesik Non-Opioid

Analgesik non-opioid adalah obat-obatan penghilang nyeri yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Obat analgesik non-opioid terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu:
  • Obat analgesik-antipiretik, yakni obat yang biasanya digunakan untuk mengobati demam, sakit kepala, atau rasa nyeri di bagian tubuh. Contoh obatnya adalah aetaminophen atau paracetamol.
  • Obat antiinflamasi non-steroid (OAINS), yakni obat untuk meredakan nyeri dan peradangan. Obat ini bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin di dalam tubuh untuk memberikan efek penghilang rasa sakit. Contoh obatnya adalah ibuprofen dan aspirin.
ADVERTISEMENT

2. Analgesik Opioid

Analgesik opioid adalah jenis obat analgesik yang ilegal jika dikonsumsi sembarangan. Obat-obatan pereda nyeri jenis ini hanya dapat ditebus dengan resep dokter.
Opioid merupakan penghilang nyeri yang hebat. Obat ini dapat bersifat depresan umum (mengurangi kesadaran). Harus hati-hati menggunakan analgesik ini karena mempunyai risiko besar terhadap ketergantungan obat (adiksi) dan kecenderungan penyalahgunaan obat.
Analgesik opioid memiliki beberapa jenis, seperti morfin dan kodein. Penggunaan obat ini harus dalam pengawasan dokter agar tidak menimbulkan bahaya kecanduan, overdosis, hingga kematian.
Dikutip dari jurnal Quantifying the Adequacy of Opioid Analgesic Consumption Globally: An Updated Method and Early Findings oleh Willem K. Scholten, dkk., obat-obatan opioid bekerja dengan cara mengaktifkan reseptor opioid pada sel saraf, sehingga rasa nyeri dapat diatasi.
ADVERTISEMENT
Obat jenis ini hanya boleh digunakan untuk mengatasi rasa nyeri parah, seperti trauma hebat, patah tulang, dan nyeri infark.

Kandungan dan Kegunaan Analgesik

Analgesik merupakan golongan obat yang dapat meredakan nyeri dan peradangan dalam tubuh. Selain itu, obat ini juga digunakan dalam pengobatan nyeri akut dan kronis yang terkait dengan kondisi peradangan.
Kondisi peradangan tersebut terutama yang melibatkan gangguan muskuloskeletal (struktur yang mendukung anggota tubuh, leher, dan punggung). Adapun beberapa kondisi yang bisa diatasi dengan obat analgesik antara lain:

1. Nyeri

Anelgesik berfungsi utama dalam membantu meredakan rasa nyeri selama proses peradangan, seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri punggung, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri haid, dan nyeri pascaoperasi. Selain itu, obat ini juga dapat membantu meredakan gejala pada asam urat, migrain, dan mialgia.
ADVERTISEMENT

2. Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis atau penyakit rematik merupakan peradangan jangka panjang pada sendi yang disebabkan oleh penyakit autoimun atau sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringan tubuh sendiri. Penyebab penyakit autoimun belum diketahui secara pasti, tetapi diduga terkait dengan faktor genetik.
Perlu dipahami, penggunaan analgesik pada penyakit rematik dapat membantu meredakan gejala nyeri, tetapi tidak dapat mengobati ataupun mencegah kondisi kerusakan sendi tersebut.

3. Osteoartritis

Osteoartritis adalah penyakit sendi degeneratif yang memengaruhi tulang rawan persendian. Kondisi ini menyebabkan gesekan antara tulang yang terdapat dalam sendi, sehingga menimbulkan rasa sakit, kaku, dan gejala lainnya.

4. Spondilitis Ankilosa

Spondilitis ankilosa merupakan peradangan kronis yang terjadi pada tulang belakang. Kondisi ini ditandai dengan tulang belakang terasa nyeri, kaku, serta dapat mengubah postur tubuh penderitanya.
ADVERTISEMENT

Anjuran Dosis Analgesik

Analgesik terdiri dari berbagai jenis, obat ini ada yang dijual bebas di apotek maupun memerlukan resep dokter. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi obat analgesik, yaitu:
  • Konsumsi obat analgesik harus sesuai dengan informasi yang tertera pada kemasan obat dan anjuran dokter. Penggunaannya tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.
  • Obat analgesik tidak boleh digunakan pada pasien yang alergi terhadap kandungan obat.
Ilustrasi konsumsi obat analgesik harus sesuai anjuran dokter. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi konsumsi obat analgesik harus sesuai anjuran dokter. Foto: Unsplash
Dokter biasanya akan menyarankan jenis dan dosis obat analgesik yang sesuai dengan kondisi pasien. Berikut dosis analgesik secara umum untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang sesuai dengan jenisnya.

Dosis Paracetamol (Analgesik-Antipiretik) untuk Nyeri

  • Dewasa: dosis 500 mg, diminum setiap 4-6 jam sekali. Dosis maksimal 4.000 mg per hari. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.
ADVERTISEMENT

Dosis Ibuprofen (OAINS) untuk Nyeri

  • Dewasa dan anak usia di atas 12 tahun: dosis 200-400 mg, diminum sebanyak 3-4 kali sehari. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.

Dosis Aspirin (OAINS) untuk Nyeri

  • Dewasa: dosis awal 300-900 mg, dosis dapat diulang setelah 4-6 jam jika diperlukan. Dosis maksimal 4.000 mg per hari. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.
Jika ingin mengonsumsi obat analgesik, pastikan sudah mengikuti anjuran dosis tersebut dengan benar. Sebab, penyalahgunaan obat ini dapat mengakibatkan komplikasi serius, seperti gangguan irama jantung (aritmia), penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia), dan penyakit kelainan darah (diskrasia darah).

Kontraindikasi Analgesik

Analgesik tidak boleh dikonsumsi bagi pasien yang memiliki alergi terhadap kandungan obat. Selain itu, jangan gunakan obat ini pada pasien dengan riwayat penyakit jantung, gangguan fungsi hati dan ginjal. Konsultasikan ke dokter terlebih dahulu untuk ibu hamil dan menyusui.
ADVERTISEMENT
Obat analgesik dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke yang fatal jika menggunakannya dalam jangka panjang atau dengan dosis tinggi.
Beberapa obat analgesik juga dapat menyebabkan pendarahan lambung atau usus. Kondisi ini dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama pada pasien lanjut usia.

Efek Samping Analgesik

Sama seperti obat-obatan lainnya, obat-obatan analgesik memiliki sejumlah efek samping yang bisa terjadi. Beberapa efek samping umum penggunaan obat analgesik antara lain:
  • Sakit kepala, pusing, atau vertigo
  • Penglihatan kabur
  • Sakit perut bagian atas
  • Gangguan pencernaan, seperti diare, sembelit, mual, dan muntah
  • Mulut kering
  • Mengantuk
Selain efek samping di atas, analgesik umumnya juga memiliki beberapa efek samping serius yang bisa terjadi, seperti telinga berdenging, udema (pembengkakan karena penumpukan cairan), dan kelelahan yang tidak biasa.
ADVERTISEMENT
Dalam kasus lainnya, obat analgesik opioid seperti morfin dapat menyebabkan kecanduan hingga berisiko kematian jika dikonsumsi dengan dosis tinggi dalam jangka waktu panjang.
Jika mengalami efek samping di atas, segera periksakan diri ke dokter. Konsultasikan kondisi yang dialami kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(SFR)
Apa kegunaan obat analgesik?
chevron-down
Apa saja jenis obat analgesik?
chevron-down
Apa efek samping obat analgesik?
chevron-down
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020