Betahistine: Manfaat, Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping
·waktu baca 7 menit

Betahistine Mesylate 6 mg obat apa? Betahistine adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala vertigo, tinnitus (telinga berdenging), gangguan pendengaran, dan mual yang terkait dengan penyakit Meniere.
Betahistine termasuk ke dalam golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus sesuai dengan petunjuk dokter. Obat ini dapat dikonsumsi oleh orang dewasa dengan dosis sesuai.
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 8 data
Betahistine 6 mg | |
|---|---|
Harga | Rp7.000 - Rp20.000 per strip (10 tablet) |
Indikasi dan Manfaat | Mengobati gejala vertigo, tinnitus (telinga berdenging), gangguan pendengaran, dan mual yang terkait dengan penyakit Meniere. |
Komposisi | Betahistine Mesylate 6 mg |
Dosis dan Aturan Pakai | Dewasa: diminum 1-2 tablet sebanyak 3-4 kali sehari atau sesuai anjuran dokter. Obat ini dapat dikonsumsi setelah makan. |
Efek Samping | Sakit kepala, sakit perut, mual, muntah, dan kelelahan. |
Cara Penyimpanan | Simpan pada tempat sejuk dan kering, serta terlindung dari cahaya matahari langsung. |
Peringatan | Tidak boleh digunakan untuk pasien yang alergi terhadap kandungan obat, memiliki gangguan fungsi ginjal dan hati, menderita tukak lambung, serta ibu hamil dan menyusui. |
Golongan Obat | Obat Keras |
Pengertian Betahistine
Betahistine obat apa? Betahistine adalah obat yang sering digunakan untuk mengobati berbagai gejala penyakit Meniere.
Mengutip jurnal Meniere’s Disease and Vestibular Migraine oleh Paul Tabet dan Issam Saliba, penyakit Meniere adalah gangguan telinga bagian dalam yang menimbulkan gejala berupa pusing berputar (vertigo), telinga berdenging, mual, dan sebagainya.
Betahistine bekerja dengan cara meningkatkan aliran darah pada telinga bagian dalam. Peningkatan aliran darah ini dapat mengurangi tekanan yang ada pada telinga, sehingga gejala yang dirasakan akan berkurang.
Kandungan dan Kegunaan Betahistine
Betahistine merupakan obat generik, yaitu obat yang dinamai sesuai dengan kandungan zat aktif yang dimiliki. Obat ini tersedia dengan komposisi Betahistine Mesylate 6 mg dan 24 mg.
Mengutip jurnal Betahistine in the Treatment of Meniere’s Disease oleh Michel Lacour, dkk., obat Betahistine bekerja dengan cara mengurangi penumpukan cairan yang menyebabkan tekanan pada telinga bagian dalam. Cara kerjanya tersebut dapat membantu meringankan gejala penyakit Meniere.
Penyakit Meniere adalah penyakit kronis atau jangka panjang pada telinga bagian dalam. Menurut National Health Service (NHS), kondisi ini terjadi ketika cairan endolimfa di telinga bagian dalam mengalami penumpukan, sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan dan masalah pendengaran.
Pada dasarnya, gejala utama pada penyakit Meniere adalah vertigo. Gejalanya tidak terjadi sepanjang waktu, tetapi berupa serangan yang muncul di waktu-waktu tertentu.
Ketika serangan vertigo muncul, Anda akan merasa melihat ruangan di sekitar berputar atau penderita sendiri merasa berputar di dalam ruangan yang diam. Penggunaan obat ini dapat mengurangi gejala vertigo yang ditimbulkan.
Selain vertigo, gejala penyakit Meniere lainnya yang muncul meliputi telinga berdenging, gangguan pendengaran yang hilang timbul dan bisa berkembang menjadi permanen, rasa penuh dalam telinga, serta mual dan muntah.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga bisa disertai gejala lain, seperti sakit kepala, penglihatan kabur, gelisah, berkeringat dingin, tremor, dan gangguan keseimbangan tubuh.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti penyebab penyakit Meniere, tetapi beberapa faktor risiko yang meningkatkan seseorang terkena penyakit ini antara lain:
Faktor genetik atau memiliki riwayat penyakit Meniere dalam keluarga
Berusia 20-60 tahun
Menderita penyakit autoimun
Mengalami cedera kepala
Menderita ketidakseimbangan hormon
Anjuran Dosis Betahistine
Penggunaan obat Betahistine harus sesuai petunjuk dokter. Adapun anjuran dosis dan aturan pakai Betahistine secara umum adalah sebagai berikut.
Dewasa: diminum 1-2 tablet sebanyak 3-4 kali sehari atau sesuai anjuran dokter. Obat ini dapat dikonsumsi setelah makan.
Jika ingin mengonsumsi Betahistine, pastikan sudah mengikuti anjuran dosis tersebut dengan benar. Sebab, penyalahgunaan obat ini dapat mengakibatkan komplikasi, seperti anafilaksis (syok akibat reaksi alergi yang berat), pembengkakan wajah, dan penurunan tekanan darah secara drastis.
Cara Mengonsumsi Betahistine dengan Benar
Betahistine termasuk golongan obat keras, sehingga tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Adapun cara mengonsumsi Betahistine dengan benar, yaitu:
Sebelum mengonsumsi Betahistine, konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu, obat-obatan atau suplemen yang sedang dikonsumsi, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan terkait penggunaan obat.
Konsumsi Betahistine harus sesuai dengan anjuran dokter dan informasi yang tertera pada kemasan obat. Penggunaannya tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.
Betahistine sebaiknya dikonsumsi sesudah makan untuk mengurangi risiko iritasi lambung dan membantu penyerapan obat secara maksimal.
Konsumsi Betahistine secara utuh dengan segelas air putih. Jangan mengunyah, menghancurkan, dan mencampurkan obat dengan makanan maupun minuman.
Konsumsi Betahistine secara teratur pada waktu yang sama. Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Jika Anda lupa mengonsumsi Betahistine pada waktu yang ditentukan, segera konsumsi obat begitu ingat selama jeda dengan waktu konsumsi berikutnya belum terlalu dekat.
Simpan Betahistine di tempat yang sejuk dan kering, serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Pastikan penyimpanan obat berada di luar jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
Interaksi Betahistine dengan Obat Lain
Betahistine dapat menyebabkan interaksi dengan obat-obatan lain yang mungkin Anda konsumsi. Interaksi obat dapat memengaruhi efektivitas pengobatan dan meningkatkan risiko efek samping.
Dikutip dari Drug Bank, adapun beberapa interaksi Betahistine dengan obat lain yang perlu diwaspadai, yaitu:
Penggunaan Betahistine bersamaan dengan obat monoamine oxidase inhibitors (MAOI), seperti selegiline atau isocarboxazid, dapat meningkatkan risiko efek samping, termasuk peningkatan tekanan darah, palpitasi, dan gejala serotonergik.
Penggunaan Betahistine bersamaan dengan obat antihistamin, seperti cetirizine atau loratadine, dapat mengurangi efektivitas Betahistine dalam tubuh.
Penggunaan Betahistine bersamaan dengan obat antihipertensi (menurunkan tekanan darah tinggi), seperti benazepril atau captopril, dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang signifikan.
Penggunaan Betahistine bersamaan dengan obat antiemetik (mencegah mual dan muntah), seperti domperidon atau fenotiazin, dapat meningkatkan risiko efek samping.
Sebagai catatan, daftar di atas belum mencakup semua interaksi obat dari Betahistine. Oleh sebab itu, pastikan Anda selalu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengombinasikan Betahistine dengan obat-obatan lain.
Cara Penyimpanan Betahistine
Simpan Betahistine pada suhu ruangan yang sejuk dan kering (di bawah 30 derajat Celsius), serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung dan kelembapan.
Selain itu, jangan menaruh tempat penyimpanan Betahistine sembarangan. Simpan obat ini di tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
Peringatan Sebelum Mengonsumsi Betahistine
Sebelum mengonsumsi Betahistine, konsultasikan dengan dokter tentang obat-obatan yang sedang dikonsumsi dan riwayat penyakit yang dimiliki agar tidak terjadi kontraindikasi. Jangan mengonsumsi obat ini apabila memiliki kondisi berikut:
Pasien yang alergi terhadap kandungan obat.
Pasien yang menderita gangguan fungsi ginjal dan hati.
Pasien yang memiliki penyakit tukak lambung.
Pasien yang memiliki penyakit asma dan bronkitis.
Pasien yang memiliki hipertensi atau tekanan darah tinggi, terutama akibat tumor di kelenjar adrenal (feokromositoma).
Ibu hamil dan menyusui.
Peringatan Kehamilan
Betahistine termasuk dalam kategori N atau belum dikategorikan. Dokter dapat meresepkan obat ini jika manfaatnya lebih besar daripada risikonya.
Oleh sebab itu, konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu jika Anda akan mengonsumsi Bestahistine saat hamil atau sedang merencanakan kehamilan.
Peringatan Menyusui
Belum diketahui apakah Betahistine dapat diserap ke dalam ASI atau tidak. Jika Anda sedang menyusui, jangan gunakan obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Efek Samping Betahistine
Sama seperti obat-obatan lainnya, Betahistine memiliki sejumlah efek samping yang bisa terjadi. Mengutip jurnal Efficacy and Safety of Betahistine Treatment in Patients with Meniere’s Disease oleh Christine Adrion, dkk., beberapa efek sampingnya yang dapat muncul, yaitu:
Sakit kepala
Sakit perut
Mual atau muntah
Perut kembung
Kelelahan
Mengantuk
Penggunaan obat Betahistine dapat memiliki efek samping yang berbeda bagi setiap orang. Selain itu, penggunaan obat ini juga dapat memicu reaksi alergi, seperti ruam kulit, gatal-gatal, sesak napas, dan jantung berdebar.
Jika mengalami efek samping di atas yang tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke dokter. Konsultasikan kondisi yang dialami kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan medis segera.
Baca Juga: 6 Obat Vertigo Alami dan Medis yang Ampuh Redakan Gejala
Penyakit Terkait dengan Betahistine
Betahistine adalah obat yang digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan pendengaran, seperti vertigo dan tinnitus. Mengutip laman National Institutes of Health, berikut adalah beberapa penyakit terkait yang dapat diobati dengan Betahistine.
1. Penyakit Meniere
Penyakit Meniere adalah kondisi kronis yang memengaruhi telinga bagian dalam dan sering kali menyebabkan serangan vertigo yang parah. Betahistine dapat membantu mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan serangan vertigo tersebut.
Selain itu, obat ini juga dapat membantu mengurangi gejala lainnya, seperti tinnitus dan gangguan pendengaran yang sering terjadi bersamaan dengan serangan vertigo.
2. Vertigo
Vertigo adalah gangguan keseimbangan yang sering kali disertai dengan sensasi pusing berputar. Betahistine dapat digunakan untuk mengurangi intensitas dan frekuensi serangan vertigo.
Obat ini bekerja dengan meningkatkan aliran darah ke telinga dalam, sehingga membantu mengurangi tekanan pada sistem keseimbangan di dalam telinga.
3. Tinnitus
Tinnitus adalah kondisi di mana seseorang mendengar bunyi atau denging di telinga tanpa adanya sumber suara yang jelas. Penggunaan Betahistine dapat membantu mengurangi intensitas tinnitus.
Meskipun mekanisme persisnya belum sepenuhnya diketahui, obat Betahistine diyakini bekerja dengan cara mengatur aliran darah di sekitar telinga dalam, sehingga dapat mengurangi sensasi tinnitus yang mengganggu.
4. Migrain
Migrain adalah sakit kepala sebelah yang umumnya disebabkan oleh gangguan saraf di otak. Kondisi ini sering kali disertai dengan gejala lain, seperti mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara.
Meskipun Betahistine tidak digunakan secara langsung untuk mengatasi migrain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa obat ini dapat mengurangi gejala yang menyertainya, seperti mual dan muntah.
3. Gangguan Pendengaran
Sebagian orang mungkin merasakan gangguan pendengaran ketika mereka mengalami perubahan tekanan udara, seperti ketika naik pesawat atau menyelam.
Kondisi ini bisa menyebabkan tinnitus, nyeri pada telinga, mual, dan muntah. Betahistine dapat digunakan untuk mengurangi gejala tersebut.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa kegunaan obat Betahistine?

Apa kegunaan obat Betahistine?
Betahistine adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala vertigo, tinnitus (telinga berdenging), gangguan pendengaran, dan mual yang terkait dengan penyakit Meniere.
Betahistine termasuk golongan obat apa?

Betahistine termasuk golongan obat apa?
Betahistine termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga penggunaannya harus sesuai dengan petunjuk dokter.
Bagaimana cara kerja obat Betahistine?

Bagaimana cara kerja obat Betahistine?
Betahistine bekerja dengan cara mengurangi penumpukan cairan yang menyebabkan tekanan pada telinga bagian dalam sehingga membantu meringankan gejala penyakit Meniere.
