Ketahui Ciri-Ciri Depresi Berat pada Anak, Remaja, hingga Lansia
ยทwaktu baca 5 menit

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Depresi berat adalah gangguan mental yang membuat penderitanya merasa sedih, muram, dan tertekan. Ciri-ciri depresi berat dapat dikenali dari gejala, perubahan emosi, dan perilaku seseorang.
Depresi berat dalam dunia medis disebut sebagai gangguan depresi mayor. Gangguan depresi mayor merupakan gangguan mood (suasana hati) yang mana penderitanya merasa sedih dan tertekan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Pada kondisi normal, orang bisa saja merasa sedih dan tertekan, tetapi umumnya perasaan ini hanya berlangsung selama beberapa waktu saja dan tidak bertahan selama berminggu-minggu.
Gangguan depresi mayor adalah salah satu gangguan pada kesehatan mental yang paling umum terjadi. Artikel ini akan membahas mengenai ciri-ciri depresi berat, penyebab, dan cara mengatasinya.
Ciri-Ciri Depresi Berat
Depresi berat pada setiap orang memiliki ciri-ciri yang berbeda. Hal ini tergantung pada frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan gejala depresi yang timbul pada penderitanya.
Mengutip dari jurnal Major Depressive Disorder oleh Navneet Bains dan Sara Abdi Jadid, gejala atau ciri-ciri depresi berat adalah merasa sedih, tidak berminat untuk melakukan aktivitas yang disenangi sebelumnya, merasa kurang dan tidak berharga, tidak berenergi, hingga memiliki pikiran untuk bunuh diri.
Ciri-ciri depresi berat juga bisa bervariasi tergantung pada usia penderitanya. Berikut adalah gejala depresi berat berdasarkan usia.
Ciri-Ciri Depresi Berat pada Anak
Berikut adalah beberapa gejala depresi berat yang mungkin dirasakan oleh anak-anak:
Sering rewel atau mudah tersinggung
Menjadi sensitif saat ditolak atau tidak berhasil melakukan sesuatu
Perubahan kebiasaan makan atau tidur
Energi cepat menurun
Kehilangan minat terhadap aktivitas yang dinikmati sebelumnya
Sering menempel pada orang tua atau pengasuh
Tidak ingin pergi ke sekolah
Memiliki keluhan fisik, seperti sakit perut
Ciri-Ciri Depresi Berat pada Remaja
Pada penderita depresi berat yang berusia remaja, berikut gejala yang mungkin dirasakan:
Mudah merajuk dan cepat marah
Merasa sedih dan kosong
Merasa gelisah dan frustasi
Merasa putus asa dan memiliki pandangan negatif tentang kehidupan
Melihat diri tidak berharga
Tidur berlebihan atau susah tidur
Menyalahkan diri sendiri atau mengkritik diri sendiri secara berlebihan
Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, atau membuat keputusan
Perubahan nafsu makan
Pertambahan berat badan
Sering mengeluh sakit badan atau sakit kepala
Kehilangan minat atau kesenangan dalam kegiatan yang biasanya disukai
Prestasi sekolah menurun atau sering absen dari sekolah
Kurang perhatian pada kebersihan atau penampilan pribadi
Mengisolasi diri dari aktivitas sosial
Terdapat ledakan emosi, perilaku yang mengganggu atau berisiko, atau perilaku bertindak lainnya yang membahayakan diri
Melukai diri sendiri, seperti memotong atau membakar diri
Membuat rencana bunuh diri atau upaya bunuh diri
Ciri-Ciri Depresi Berat pada Orang Dewasa
Berikut adalah ciri-ciri depresi berat yang terjadi pada orang dewasa:
Sering mengalami masa-masa depresi dan kesedihan mendalam dibandingkan sebelumnya
Mengalami penurunan libido atau nafsu seksual
Mengalami penurunan atau peningkatan durasi jam tidur
Mengalami kesulitan tidur, seperti bangun di tengah malam atau pagi hari
Memiliki masalah pada bagian pencernaan, seperti sembelit dan diare
Merasa sedih dan tampak suram
Kehilangan minat dalam melakukan aktivitas yang disenangi
Malas merawat diri, seperti jarang mandi, menyisir rambut, dan lain-lain
Performa kerja sering terganggu
Nafsu makan menurun atau meningkat
Agresi, lekas marah, dan/atau bisa marah secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas
Ingin melakukan hal-hal yang berisiko dan mengancam nyawa
Ciri-Ciri Depresi Berat pada Lansia
Lansia juga bisa mengalami depresi berat. Ciri-ciri yang ditimbulkan dapat berupa:
Lebih sering merasa tidak memiliki suasana hati atau mati rasa daripada suasana hati yang tertekan
Memiliki kondisi medis lain yang menyebabkan atau berkontribusi pada depresi
Rasa sakit dan nyeri pada bagian tubuh tertentu yang tidak dapat dijelaskan secara medis
Kehilangan minat atau kesenangan dalam melakukan aktivitas
Menghindari interaksi sosial dan aktivitas fisik
Mengalami masalah dengan memori dan fungsi kognitif lainnya
Penyebab Depresi Berat
Depresi berat bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut American Psychiatric Association, faktor-faktor yang dapat menyebabkan depresi berat adalah:
Genetik merupakan salah satu penyebab utama seseorang mengalami depresi berat. Dalam studi Overview of The Genetics of Major Depressive Disorder oleh FW Lohoff, faktor genetika mempengaruhi sekitar 40% seseorang bisa mengalami depresi.
Aktivitas kimiawi di dalam otak mengakibatkan ketidakseimbangan neurotransmiter, yaitu bagian yang membantu mengatur suasana hati dan menyebabkan depresi.
Kondisi medis tertentu, seperti tiroid, gangguan tidur, dan kanker dapat meningkatkan gejala depresi.
Penggunaan zat-zat tertentu, seperti penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol bisa meningkatkan risiko terkena depresi.
Stres merupakan kondisi yang mengakibatkan terjadinya pelepasan hormon kortisol dapat mempengaruhi neurotransmitter serotonin dan menyebabkan depresi.
Kekurangan nutrisi yang diakibatkan oleh gizi buruk dan diet bisa membuat seseorang mudah terserang depresi berat.
Cara Mengatasi Depresi Berat
Depresi berat bisa diatasi dengan tiga cara, yakni melalui psikoterapi, terapi obat-obatan, dan prosedur medis. Berikut penjelasannya.
1. Psikoterapi
Ada beberapa jenis terapi psikis yang bisa dilakukan untuk menangani depresi berat, di antaranya:
Terapi perilaku kognitif (CBT), yaitu jenis perawatan psikologis yang bertujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku tidak sehat yang mungkin berkontribusi pada kondisi depresi berat.
Psikoterapi psikodinamik yang dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana masalah yang menyebabkan depresi serta mengetahui pola emosional selama depresi.
Terapi interpersonal, yaitu jenis terapi yang berfokus pada hubungan penderita depresi berat dengan orang lain dalam hidup penderita.
Terapi suportif, yaitu psikoterapi yang menggunakan campuran beberapa jenis terapi, seperti terapi perilaku kognitif dan interpersonal untuk meringankan gejala.
2. Terapi Obat-obatan
Obat-obatan juga bisa membantu menangani depresi. Namun, terapi obat-obatan sebaiknya dilakukan apabila psikoterapi tidak membantu.
Contoh obat-obatan yang dikonsumsi untuk menangani depresi berat adalah selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), serotonin-norepinephrine reuptake inhibitor (SNRI), antidepresan atipikal, antidepresan trisiklik, dan lain-lain
3. Prosedur Medis
Ada beberapa prosedur medis yang dapat bermanfaat untuk mengurangi gejala-gejala depresi berat, di antaranya terapi elektrokonvulsif, stimulasi magnetik transkranial, terapi infus ketamin, dan lain-lain.
Depresi adalah gangguan mental yang serius yang disebabkan oleh ketidakseimbangan bahan kimia dalam otak. Hal ini menyebabkan penderitanya merasa sedih, tidak berenergi, dan menolak untuk beraktivitas. Untungnya, saat ini ada banyak pengobatan yang dapat mengurangi gejala depresi dan membantu penderitanya merasa lebih baik.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(SAI)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan gangguan depresi mayor?

Apa yang dimaksud dengan gangguan depresi mayor?
Gangguan depresi mayor merupakan gangguan suasana hati yang mana penderitanya merasa sedih dan tertekan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Apa saja obat untuk mengatasi depresi?

Apa saja obat untuk mengatasi depresi?
Contoh obat-obatan untuk menangani depresi berat adalah selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), serotonin-norepinephrine reuptake inhibitor (SNRI), antidepresan atipikal, dan lain-lain.
Apa itu neurotransmitter?

Apa itu neurotransmitter?
Neurotransmitter adalah bagian otak yang membantu mengatur suasana hati.
