Mengenal Apa Itu Kuret, Prosedur, dan Efek Sampingnya
ยทwaktu baca 4 menit

Kuretase atau yang biasa disebut kuret adalah prosedur medis yang biasanya dilakukan pada pasien wanita. Lantas, apa itu kuret?
Kuret adalah prosedur medis yang dilakukan untuk keperluan diagnosis atau menangani kondisi kesehatan tertentu. Prosedur ini sering mengatasi masalah pada rahim.
Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai prosedur kuret. Pahami apa itu kuret melalui penjelasan di bawah ini.
Apa Itu Kuret?
Kuret atau kuretase merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk mengangkat jaringan dari dalam rahim. Mengutip dari ulasan Dilation and Curettage oleh Danielle B. Cooper dan Gary W. Menefee, kuret biasanya diawali dengan prosedur dilatasi. Dilatasi adalah prosedur yang dilakukan untuk melebarkan atau membuka serviks.
Serviks merupakan leher rahim yang terhubung dengan vagina. Setelah melebarkan serviks, dokter akan menggunakan alat yang berbentuk sendok untuk mengangkat jaringan dari lapisan dalam rahim. Kuret sebenarnya adalah nama alat yang berbentuk sendok tersebut.
Proses pelebaran dan pengangkatan jaringan rahim sendiri disebut dilatasi dan kuretase (dilation & curettage). Dilatasi dan kuretase dilakukan untuk:
Mengidentifikasi penyebab perdarahan hebat selama atau di antara periode menstruasi
Menghilangkan tumor nonkanker, atau fibroid
Memeriksa dan mengangkat tumor yang berpotensi kanker
Menghilangkan jaringan yang terinfeksi yang sering disebabkan oleh penyakit menular seksual seperti penyakit radang panggul
Menghilangkan jaringan yang tertinggal di dalam rahim setelah keguguran atau melahirkan
Melakukan aborsi elektif
Mengeluarkan alat kontrasepsi (IUD) yang digunakan untuk mengontrol kehamilan
Bagaimana Prosedur Kuret Dilakukan?
Sebelum melakukan prosedur dilatasi dan kuretase, tenaga medis akan memberikan obat anestesi untuk membius. Setelah itu, dokter akan melakukan proses dilatasi terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan kuretase. Secara umum, berikut prosedur dilatasi dan kuretase dilakukan:
Tenaga medis akan memasukkan spekulum ke dalam vagina. Perangkat ini berbentuk seperti paruh bebek yang digunakan untuk membantu membuka leher rahim.
Tenaga medis akan menggunakan penjepit untuk menahan leher rahim agar tetap terbuka. Leher rahim biasanya akan dipastikan terbuka dengan lebar agar kuret bisa dimasukkan dengan baik.
Memasukkan kuret untuk membersihkan jaringan dari dalam rahim. Setelah berhasil mengeluarkan semua jaringan yang perlu diangkat, dokter akan mengeluarkan semua perangkat yang telah digunakan.
Tenaga medis kemudian akan mengirimkan sampel jaringan ke laboratorium untuk dianalisis.
Setelah prosedur dilatasi dan kuretase dilakukan, pasien mungkin akan merasakan kram, mual, dan muntah karena efek samping dari pemberian obat bius.
Pada umumnya, pasien akan kembali beraktivitas normal dalam satu atau dua hari. Selain itu, pasien perlu menghindari beberapa aktivitas agar tidak memperburuk kondisi.
Apakah Kuret Berbahaya?
Prosedur kuret termasuk prosedur yang aman dilakukan. Akan tetapi, beda dengan prosedur medis lainnya, kuret memiliki berbagai macam risiko komplikasi seperti:
Perforasi uterus (robekan kecil di rahim) yang mungkin terjadi jika ujung kuret melewati dinding rahim.
Infeksi pada bagian rahim yang ditandai dengan pendarahan hebat, demam, pusing, dan lain-lain.
Pendarahan rahim yang terjadi ketika keluarnya darah dari rahim dengan jumlah yang banyak.
Kerusakan pada rahim atau leher rahim yang menyebabkan demam menggigil, nyeri, keputihan berbau tidak sedap, dan pendarahan hebat.
Munculnya jaringan parut. Meskipun jarang, beberapa kasus komplikasi kuret menunjukkan adanya jaringan parut di rahim. Kondisi ini dikenal sebagai sindrom Asherman.
Apakah Bisa Hamil Setelah Kuret?
Para ahli percaya bahwa proses dilatasi dan kuretase harusnya tidak mempengaruhi kemampuan seseorang untuk hamil karena sejatinya, tubuh akan melakukan proses penyembuhan diri secara alami. Jika menerima prosedur kuretase setelah keguguran, seorang wanita bisa kembali hamil setelah hormon hCG dibersihkan dari aliran darah.
Meskipun dilatasi dan kuretase tidak mempengaruhi kemampuan seseorang untuk hamil, beberapa studi menyebutkan bahwa dilatasi dan kuretase akan mempengaruhi proses persalinan.
Mengutip dari studi Dilatation and Curettage Increases the Risk of Subsequent Preterm Birth: a Systematic Review and Meta-Analysis oleh M. Lemmer, seseorang yang pernah melakukan prosedur dilatasi dan kuretase akan memiliki risiko mengalami persalinan prematur di kehamilan berikutnya.
Untuk menghindari hal ini, cobalah untuk mempertimbangkan efek samping dan risiko yang muncul setelah kuret. Selain itu, diskusikan dengan dokter terkait pilihan penanganan medis lainnya yang bisa dipilih sebagai alternatif dari prosedur kuretase.
Kapan ke Harus ke Dokter?
Pasien yang telah melakukan prosedur kuret harus menghubungi tenaga medis atau dokter secepatnya apabila:
Pendarahan yang cukup berat terjadi, sehingga pasien perlu mengganti pembalut setiap jam
Pusing yang bertahan lama yang disertai dengan sakit kepala
Demam
Kram yang berlangsung lebih dari 48 jam
Rasa sakit yang semakin parah seiring bertambahnya waktu
Vagina mengeluarkan keputihan yang berbau busuk
Gejala di atas perlu diwaspadai karena gejala-gejala tersebut bisa menandakan adanya infeksi setelah kuret atau komplikasi yang lebih parah. Maka dari itu, pasien perlu segera mendapatkan penanganan medis untuk mencegah munculnya gangguan kesehatan yang membahayakan.
Baca Juga: Buta Warna Parsial: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(SAI)
Frequently Asked Question Section
Apa itu dilatasi?

Apa itu dilatasi?
Dilatasi adalah prosedur yang dilakukan untuk melebarkan atau membuka serviks.
Apa tujuan utama dari prosedur kuretase?

Apa tujuan utama dari prosedur kuretase?
Kuretase dilakukan untuk mengangkat jaringan dari lapisan dalam rahim.
Apa itu sindrom Asherman?

Apa itu sindrom Asherman?
Sindrom Asherman adalah pembentukan jaringan parut di rongga rahim.
