Kumparan Logo
Konten Media Partner

Methylprednisolone: Manfaat, Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping

Kata Dokter

·waktu baca 5 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi obat Methylprednisolone. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat Methylprednisolone. Foto: Unsplash

Methylprednisolone obat apa? Methylprednisolone adalah obat yang digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi peradangan, seperti gangguan endokrin, kolitis ulseratif, dan peradangan di kulit, ginjal, dan otak.

Methylprednisolone termasuk ke dalam golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus sesuai petunjuk dokter. Obat ini dapat dikonsumsi oleh orang dewasa dengan dosis sesuai.

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 8 data

Methylprednisolone 4 mg
Harga
Rp4.000 – Rp15.000 per strip (10 tablet)
Indikasi dan Manfaat
Mengatasi peradangan pada sejumlah kondisi, seperti gangguan endokrin, kolitis ulseratif, penyakit rematik, serta peradangan di kulit, sendi, ginjal, dan otak.
Komposisi
Methylprednisolone 4 mg
Dosis dan Aturan Pakai
Dewasa: dosis 4-80 mg per hari sebagai dosis tunggal atau dosis terbagi tergantung kondisi pasien. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.
Efek Samping
Sakit kepala, mual, muntah, peningkatan tekanan darah, dan gangguan keseimbangan cairan.
Cara Penyimpanan
Simpan pada tempat sejuk dan kering, serta terlindung dari cahaya matahari langsung.
Peringatan
Tidak boleh digunakan untuk pasien yang alergi terhadap kandungan obat, menderita penyakit jantung, gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, serta ibu hamil dan menyusui.
Golongan Obat
Obat Keras

Pengertian Methylprednisolone

Methylprednisolone merupakan obat yang digunakan untuk antiinflamasi (antiradang) pada berbagai kondisi. Obat ini termasuk golongan kortikosteroid, yakni obat yang berguna untuk menambah hormon steroid dalam tubuh bila diperlukan, meredakan peradangan, serta menekan kerja sistem imun yang berlebihan.

Dengan cara kerja tersebut, obat ini dapat mencegah dan meredakan gejala yang ditimbulkan, seperti peradangan, reaksi alergi, dan pembengkakan.

Mengutip jurnal Corticosteroids-Mechanisms of Action in Health and Disease oleh Sivapriya Ramamoorthy, dkk., kortikosteroid bekerja dengan cara mencegah pelepasan zat yang menimbulkan peradangan dalam tubuh. Dengan cara kerja tersebut, obat ini dapat mengurangi gejala yang ditimbulkan, seperti pembengkakan, nyeri, dan berbagai reaksi alergi.

Methylprednisolone biasa digunakan untuk mengobati kondisi seperti radang sendi, kelainan darah, reaksi alergi parah, peradangan pada kulit, ginjal, usus, dan paru-paru, serta gangguan sistem kekebalan tubuh.

Kandungan dan Kegunaan Methylprednisolone

Ilustrasi obat Methylprednisolone. Foto: Unsplash

Methylprednisolone merupakan obat generik, yaitu obat yang dinamai sesuai dengan kandungan zat aktif yang dimiliki. Obat ini biasa digunakan untuk mencegah dan mengatasi peradangan.

Methylprednisolone termasuk dalam kelompok obat glukokortikoid. Glukokortikoid adalah golongan hormon steroid dari kelas kortikosteroid yang digunakan untuk menangani peradangan.

Mengutip jurnal Methylprednisolone oleh Antonio Ocejo dan Ricardo Correa, Methylprednisolone bekerja dengan cara menghambat produksi zat yang menimbulkan peradangan dalam tubuh. Efeknya, obat ini dapat mengurangi gejala, seperti peradangan, reaksi alergi, dan pembengkakan.

Selain itu, Methylprednisolone juga bekerja sebagai imunosupresan dengan cara menekan respons sistem kekebalan tubuh. Obat ini sering digunakan untuk mengurangi peradangan pada berbagai kondisi, seperti alergi, radang sendi, penyakit kulit, hingga gangguan sistem kekebalan tubuh.

Methylprednisolone telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) untuk mengobati berbagai kondisi peradangan, seperti:

  • Gangguan endokrin, seperti insufisiensi adrenokortikal primer atau sekunder

  • Penyakit rematik, seperti rheumatoid arthritis atau psoriasis arthritis

  • Rhinitis alergi atau peradangan hidung yang terjadi karena sistem imun menurun

  • Penyakit kolagen, seperti lupus atau skleroderma

  • Penyakit kulit, seperti psoriasis atau sindrom Stevens-Johnson

  • Masalah pada mata, seperti adanya pembengkakan atau bisul di mata

  • Gangguan saluran pencernaan, seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn

  • Gangguan saluran pernapasan, seperti kerusakan paru-paru yang disebabkan oleh keracunan berilium atau sindrom Loeffler

  • Kelainan darah, seperti rendahnya kadar trombosit pada orang dewasa atau kekurangan sel darah merah pada anak-anak

  • Penyakit neoplastik, seperti kanker darah atau kanker pada sistem limfatik

  • Infeks parasit, seperti trikinosis dengan masalah otak atau jantung

Methylprednisolone tersedia dalam bentuk tablet. Obat ini sebaiknya dikonsumsi sesudah makan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Baca Juga: 7 Obat Rematik di Apotik dan dari Bahan Alami

Anjuran Dosis Methylprednisolone

Ilustrasi konsumsi obat Methylprednisolone harus sesuai anjuran dosis. Foto: Unsplash

Sebagai golongan obat keras, penggunaan Methylprednisolone harus sesuai petunjuk dokter. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi obat ini, yaitu:

  • Konsumsi Methylprednisolone harus sesuai dengan anjuran dokter dan informasi yang tertera pada kemasan obat. Penggunaannya tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.

  • Methylprednisolone tidak boleh digunakan pada pasien yang alergi terhadap kandungan obat.

  • Methylprednisolone dapat dikonsumsi sesudah makan untuk menghindari masalah pencernaan.

Berikut anjuran dosis dan aturan pakai Methylprednisolone secara umum:

  • Dewasa: dosis 4-80 mg per hari sebagai dosis tunggal atau dosis terbagi tergantung kondisi pasien. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.

Jika ingin mengonsumsi Methylprednisolone, pastikan sudah mengikuti anjuran dosis tersebut dengan benar. Sebab, penyalahgunaan obat ini dapat mengakibatkan komplikasi serius, seperti anafilaksis (syok akibat reaksi alergi yang berat), peningkatan infeksi, dan hipertensi intrakranial idiopatik.

Kontraindikasi Methylprednisolone

Sebelum mengonsumsi Methylprednisolone, konsultasikan dengan dokter tentang obat-obatan yang sedang dikonsumsi dan riwayat penyakit yang dimiliki agar tidak terjadi kontraindikasi. Jangan mengonsumsi obat ini apabila memiliki kondisi berikut:

  • Hipersensitif terhadap kandungan obat.

  • Pasien yang memiliki luka pada dinding lambung atau usus 12 jari.

  • Pasien yang memiliki penyakit infeksi jamur, infeksi bakteri, atau infeksi virus seperti herpes karena berisiko meningkatkan infeksi.

  • Pasien yang menderita penyakit tukak lambung, katarak, gagal jantung, dan penyakit liver.

  • Pasien yang menderita gangguan mental, seperti depresi.

  • Pasien yang menderita tuberkulosis, diabetes melitus, dan penderita osteoporosis berat.

  • Pasien yang menderita gangguan ginjal dan fungsi hati yang berat.

  • Ibu hamil dan menyusui.

Perlu diperhatikan, penggunaan jangka panjang obat ini dapat mengakibatkan kerusakan pada saraf mata dan menurunkan daya tahan tubuh, sehingga tidak dianjurkan untuk digunakan secara terus-menerus.

Efek Samping Methylprednisolone

Sama seperti obat-obatan lain, Methylprednisolone memiliki sejumlah efek samping yang bisa terjadi. Adapun beberapa efek samping penggunaan obat ini, yaitu:

  • Sakit kepala

  • Sakit perut, mual, atau muntah

  • Peningkatan tekanan tekanan darah

  • Gangguan keseimbangan cairan.

  • Gangguan tidur

  • Keringat berlebihan

  • Lemah otot

Penggunaan Methylprednisolone dapat memiliki efek samping yang berbeda-beda bagi setiap orang. Selain itu, obat ini juga dapat memicu efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Sindrom Cushing, yakni kumpulan gejala seperti muka tembem (moon face), penebalan kulit seperti selulit pada punggung dan perut, hipertensi, penurunan toleransi terhadap karbohidrat, dan gejala-gejala lainnya.

  • Insufisiensi adrenal, yakni kelainan hormonal karena kelenjar adrenal tidak dapat memproduksi hormon kortisol dalam kadar yang cukup. Akibatnya, tubuh akan mengalami sejumlah gejala, seperti lemas berkepanjangan, anoreksia, warna kulit menggelap, hingga depresi.

Jika mengalami efek samping yang tidak kunjung membaik, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Konsultasikan kondisi yang dialami kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

(SFR)

Frequently Asked Question Section

Apa kegunaan obat Methylprednisolone?

chevron-down

Methylprednisolone adalah obat yang digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi peradangan, seperti gangguan endokrin, kolitis ulseratif, dan peradangan di kulit, ginjal, dan otak.

Methylprednisolone termasuk golongan obat apa?

chevron-down

Methylprednisolone termasuk ke dalam golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus sesuai petunjuk dokter.

Apa itu golongan obat glukokortikoid?

chevron-down

Glukokortikoid adalah golongan hormon steroid dari kelas kortikosteroid yang digunakan untuk menangani peradangan.