Obat Anti Inflamasi: Manfaat, Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping
·waktu baca 10 menit

Obat anti inflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi peradangan. Berdasarkan cara kerjanya, obat antiinflamasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu obat antiinflamasi golongan steroid dan obat antiinflamasi non-steroid (NSAID).
Keduanya terutama bekerja dalam menghambat pelepasan prostaglandin ke jaringan yang mengalami cedera. Contoh obat antiinflamasi golongan steroid adalah Dexamethasone dan obat NSAID adalah Ibuprofen.
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 8 data
Dexamethasone (Obat Antiinflamasi) | |
|---|---|
Harga | Rp2.000 - Rp15.000 per strip (10 tablet) |
Indikasi dan Manfaat | Mengatasi peradangan dan alergi pada tubuh, seperti gatal-gatal pada kulit, rhinitis alergi, dermatitis, hingga asma bronkial. |
Komposisi | Dexamethasone 0,5 mg |
Dosis dan Aturan Pakai | Dewasa: diminum 0,5-9 mg dalam dosis terbagi sebanyak 3-4 kali sehari atau sesuai anjuran dokter. Obat ini dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. |
Efek Samping | Sakit kepala, pusing, sakit perut, mulut kering, mual, dan muntah. |
Cara Penyimpanan | Simpan pada tempat sejuk dan kering, serta terlindung dari cahaya matahari langsung. |
Peringatan | Tidak boleh digunakan untuk pasien yang alergi dengan kandungan obat, menderita penyakit jantung, gangguan fungsi ginjal dan hati, serta ibu hamil dan menyusui. |
Golongan Obat | Obat Keras |
Pengertian Obat Anti Inflamasi
Obat antiinflamasi adalah golongan obat yang digunakan untuk meredakan peradangan. Obat ini terbagi menjadi dua macam, yaitu obat antiinflamasi steroid dan non-steroid.
1. Obat Antiinflamasi Steroid
Obat antiinflamasi steroid adalah obat yang mengandung hormon steroid sintetis atau dikenal sebagai kortikosteroid. Obat ini berfungsi menekan peradangan untuk pemecahan lemak, karbohidrat, dan protein.
Mengutip jurnal Corticosteroids-Mechanisms of Action in Health and Disease oleh Sivapriya Ramamoorthy and John A. Cidlowski, kortikosteroid merupakan golongan obat untuk meredakan peradangan yang ditandai dengan pembengkakan, kemerahan, dan nyeri pada tubuh.
Kortikosteroid bekerja dengan cara menghambat produksi zat yang menyebabkan peradangan dalam tubuh. Obat ini juga bekerja sebagai imunosupresan dalam menurunkan aktivitas dan kerja sistem imun.
Obat-obatan antiinflamasi steroid biasanya digunakan untuk mengobati peradangan pada sendi, otot, tulang, dan pembuluh darah.
Beberapa kondisi yang bisa diatasi meliputi rematik, radang usus besar, asma bronkial, hingga gangguan pada kulit, darah, ginjal, dan mata. Contoh obatnya adalah Dexamethasone dan Prednison.
2. Obat Antiinflamasi Non-steroid (NSAID)
Obat antiinflamasi non-steroid atau NSAID adalah obat yang digunakan untuk mengatasi kondisi peradangan dan rasa nyeri ringan hingga sedang, seperti sakit kepala, sakit gigi, dan nyeri haid.
Mengutip jurnal The Use of Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs) oleh Joel S. Bennett, dkk., obat NSAID bekerja dengan cara menghambat memblokir enzim siklooksigenase (COX).
Cara kerjanya tersebut dapat mencegah pembentukan prostaglandin, sehingga mengurangi peradangan dan pembengkakan pada tubuh.
Selain itu, obat NSAID juga digunakan sebagai obat antipiretik atau penurun panas. Obat ini bekerja dengan cara menghambat peningkatan konsentrasi prostaglandin di sistem saraf pusat yang menyebabkan terjadinya demam. Contoh obatnya adalah Ibuprofen dan Naproxen.
Kandungan dan Kegunaan Obat Anti Inflamasi
Ada banyak jenis obat antiinflamasi steroid dan non-steroid yang dijual di pasaran. Sebagian obat dijual bebas di apotek dan sebagian lainnya memerlukan resep dokter.
1. Kandungan dan Kegunaan Obat Antiinflamasi Steroid
Obat-obatan antiinflamasi steroid seperti Dexamethasone dan Prednison merupakan obat generik, yaitu obat yang dinamai sesuai kandungan zat aktif yang dimiliki. Obat ini biasa digunakan untuk mengobati sejumlah kondisi peradangan, seperti:
Rhinitis alergi, yaitu peradangan yang terjadi pada bagian dalam rongga hidung akibat reaksi alergi.
Dermatitis, yaitu peradangan kulit yang ditandai dengan kulit kering, gatal-gatal, dan ruam kemerahan.
Urtikaria, yaitu kondisi peradangan yang menyebabkan timbulnya ruam kemerahan dan benjolan di kulit.
Konjungtivitis, yaitu peradangan pada selaput bening yang menutupi bagian putih mata sehingga membuat mata tampak merah.
Keratitis, yaitu peradangan pada kornea mata akibat infeksi yang ditandai dengan mata merah dan disertai rasa nyeri.
Rheumatoid arthritis, yaitu peradangan kronis pada sendi dan jaringan di sekitarnya yang menyebabkan rasa sakit, bengkak, dan kaku pada persendian.
2. Kandungan dan Kegunaan Obat Antiinflamasi Non-steroid
Obat-obatan antiinflamasi non-steroid seperti Ibuprofen dan Prednison merupakan obat generik, yaitu obat yang dinamai sesuai kandungan zat aktif yang dimiliki. Obat ini biasa digunakan untuk mengobati sejumlah kondisi nyeri dan peradangan, seperti:
Sakit kepala, sakit gigi, dan nyeri otot akibat penggunaan otot yang berlebihan.
Osteoartritis, yakni penyakit sendi degeneratif yang memengaruhi tulang rawan persendian. Kondisi ini menyebabkan gesekan antara tulang yang terdapat dalam sendi, sehingga menimbulkan rasa sakit, kaku, dan gejala lainnya.
Neuralgia, yakni nyeri kronik yang terjadi karena kerusakan saraf. Kondisi ini bukan merupakan suatu penyakit melainkan gejala dari kelainan ataupun cedera.
Dismenore atau nyeri haid, yakni nyeri atau kram di perut bagian bawah yang muncul sebelum atau ketika sedang haid. Kondisi ini merupakan salah satu masalah terkait haid yang paling umum dikeluhkan.
Spondilitis ankilosa, yakni peradangan kronis yang terjadi pada tulang belakang. Kondisi ini dapat menyebabkan tulang belakang terasa nyeri, kaku, serta dapat mengubah postur tubuh penderitanya.
Nyeri pada kasus trauma muskuloskeletal (struktur yang mendukung anggota tubuh, leher, dan punggung) dan nyeri pascaoperasi.
Selain beberapa kondisi di atas, obat NSAID juga dapat digunakan untuk mengatasi gejala rheumatoid arthritis yang biasanya menyebabkan rasa sakit, bengkak, dan kaku pada persendian.
Anjuran Dosis Obat Anti Inflamasi
Sebagian obat antiinflamasi ada yang dijual bebas di apotek dan sebagian lagi harus ditebus dengan resep dokter. Namun, penggunaan obat antiinflamasi sebaiknya sesuai dengan anjuran dokter dan kondisi pasien.
Dokter umumnya meresepkan obat antiinflamasi tergantung pada kondisi yang diderita pasien. Berikut anjuran dosis dan aturan pakai obat antiinflamasi secara umum sesuai jenis obatnya.
Anjuran Dosis Dexamethasone (Obat Antiinflamasi Steroid)
Dewasa: diminum 0,5-9 mg dalam dosis terbagi sebanyak 3-4 kali sehari atau sesuai anjuran dokter. Obat ini dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan.
Jika ingin mengonsumsi Dexamethasone, pastikan sudah mengikuti anjuran dosis tersebut dengan benar. Sebab, penyalahgunaan obat ini dapat mengakibatkan komplikasi serius, seperti pankreatitis akut, anafilaksis (syok akibat reaksi alergi yang berat), dan peningkatan infeksi.
Anjuran Dosis Ibuprofen (Obat Antiinflamasi Non-steroid)
Dewasa: dosis 200-400 mg, diminum sebanyak 3-4 kali sehari. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.
Anak-anak usia 6-12 tahun: dosis 200 mg, diminum sebanyak 3-4 kali sehari. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.
Jika ingin mengonsumsi Ibuprofen, pastikan sudah mengikuti anjuran dosis tersebut dengan benar. Sebab, penyalahgunaan obat ini dapat mengakibatkan komplikasi serius, seperti aritmia, penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia), dan penyakit kelainan darah (diskrasia darah).
Cara Mengonsumsi Obat Anti Inflamasi dengan Benar
Obat antiinflamasi harus diksonsumsi sesuai dengan petunjuk dokter dan instruksi pada kemasan obat. Adapun cara mengonsumsi obat antiinflamasi dengan benar, yaitu:
Sebelum mengonsumsi obat antiinflamasi, konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu, obat-obatan atau suplemen yang sedang dikonsumsi, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan terkait penggunaan obat.
Konsumsi obat antiinflamasi harus sesuai dengan anjuran dokter dan informasi yang tertera pada kemasan obat. Jangan mengurangi atau melebihkan dosis obat tanpa sepengetahuan dokter.
Obat antiinflamasi sebaiknya dikonsumsi sesudah makan untuk menghindari iritasi lambung dan membantu penyerapan obat secara optimal.
Konsumsi obat antiinflamasi secara utuh dengan segelas air putih. Jangan mengunyah, menghancurkan, dan mencampurkan obat dengan makanan atau minuman.
Konsumsi obat antiinflamasi secara teratur pada waktu yang sama. Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Jika Anda lupa mengonsumsi obat antiinflamasi pada waktu yang ditentukan, segera konsumsi obat begitu ingat selama jeda dengan waktu konsumsi berikutnya belum terlalu dekat.
Simpan obat antiinflamasi di tempat yang sejuk dan kering, serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Pastikan penyimpanan obat berada di luar jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
Interaksi Obat Anti Inflamasi dengan Obat Lain
Obat antiinflamasi dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat lain. Interaksi obat dapat memengaruhi efektivitas obat antiinflamasi dan meningkatkan risiko efek samping.
Adapun beberapa interaksi obat antiinflamasi dengan obat lain sesuai jenisnya, yaitu:
Interaksi Obat Anti Inflamasi Steroid (Dexamethasone) dengan Obat Lain
Obat-obatan pengencer darah, seperti warfarin atau heparin, dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.
Obat-obatan antibiotik dan antifungal, seperti erythromycin dan ketoconazole, dapat meningkatkan risiko efek samping, seperti peningkatan gula darah dan tekanan darah tinggi.
Obat-obatan pereda nyeri, seperti ibuprofen atau aspirin, dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping.
Obat-obatan diuretik, seperti acetazolamide dan mannitol, dapat meningkatkan risiko hipokalemia (kadar kalium rendah dalam tubuh).
Obat-obatan antidiabetik, seperti gliclazide atau glimepiride, dapat meningkatkan konsentrasi glukosa darah dalam tubuh.
Interaksi Obat Anti Inflamasi Non-steroid (Ibuprofen) dengan Obat Lain
Obat-obatan pengencer darah, seperti warfarin atau heparin, dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.
Obat-obatan pereda nyeri, seperti aspirin, diklofenak, asam mefenamat, atau naproxen, memiliki efek serupa dengan ibuprofen. Kombinasi ini dapat meningkatkan risiko efek samping.
Obat-obatan antidiabetik, seperti gliclazide, glimepiride, glipizide atau tolbutamide, dapat meningkatkan risiko efek samping.
Obat-obatan jenis steroid dan antibiotik, seperti betametason, deksametason, ciprofloxacin, atau levofloxacin, dapat berinteraksi dengan ibuprofen.
Obat-obatan antidepresan, seperti citalopram, fluoxetine, fluvoxamine, venlafaxine, atau paroxetine, dapat meningkatkan risiko efek samping.
Perlu diketahui, daftar di atas belum mencakup semua interaksi obat antiinflamasi. Oleh sebab itu, pastikan Anda selalu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengombinasikan obat antiinflamasi dengan obat-obatan lain.
Cara Penyimpanan Obat Anti Inflamasi
Simpan obat antiinflamasi pada suhu ruangan yang sejuk dan kering (di bawah 30 derajat Celsius), serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung dan kelembapan.
Selain itu, jangan menaruh tempat penyimpanan obat antiinflamasi sembarangan. Simpan obat ini di tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
Peringatan Sebelum Mengonsumsi Obat Anti Inflamasi
Sebelum mengonsumsi obat antiinflamasi, konsultasikan dengan dokter tentang obat-obatan yang sedang dikonsumsi dan riwayat penyakit yang dimiliki agar tidak terjadi kontraindikasi.
Kontraindikasi Obat Anti Inflamasi Steroid (Dexamethasone)
Jangan mengonsumsi obat antiinflamasi steroid seperti Dexamethasone apabila memiliki kondisi berikut:
Pasien yang alergi terhadap kandungan obat.
Pasien yang menderita gangguan fungsi hati dan ginjal.
Pasien yang memiliki luka pada dinding lambung atau usus 12 jari.
Pasien yang memiliki penyakit infeksi jamur, infeksi bakteri, atau infeksi virus seperti herpes.
Pasien yang menderita penyakit tukak lambung, katarak, gagal jantung, penyakit liver, atau gangguan mental seperti depresi.
Ibu hamil dan menyusui.
Kontraindikasi Obat Anti Inflamasi Non-steroid (Ibuprofen)
Jangan mengonsumsi obat antiinflamasi non-steroid seperti Ibuprofen apabila memiliki kondisi berikut:
Pasien yang alergi terhadap kandungan obat dan golongan obat NSAID lainnya.
Pasien yang menderita tekanan darah rendah (hipotensi).
Pasien yang memiliki gangguan fungsi sumsum tulang.
Pasien yang memiliki penyakit infeksi jamur, infeksi bakteri, atau infeksi virus seperti herpes.
Pasien yang memiliki riwayat penyakit tukak lambung, katarak, gagal jantung, penyakit liver, atau gangguan mental seperti depresi.
Pasien yang menderita gangguan fungsi hati dan ginjal berat.
Pasien yang mengidap infeksi saluran pernapasan kronis.
Ibu hamil dan menyusui.
Peringatan Kehamilan
Kategori kehamilan untuk obat antiinflamasi berbeda-beda tergantung dari jenis obatnya. Namun, obat antiinflamasi Dexamethasone dan Ibuprofen termasuk dalam kategori C untuk kehamilan trimester pertama dan kedua.
Kategori C adalah jenis obat yang berdasarkan studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.
Sementara itu, Ibuprofen termasuk kategori D pada kehamilan trimester ketiga. Studi pada hewan dan manusia menunjukkan bahwa obat terbukti berisiko pada janin.
Konsultasikan kepada dokter jika Anda akan mengonsumsi obat antiinflamasi Dexamethasone, Ibuprofen, atau jenis obat lainnya saat hamil atau sedang merencanakan kehamilan. Obat hanya boleh digunakan jika tidak ada persediaan obat lain yang lebih aman untuk ibu hamil.
Peringatan Menyusui
Obat antiinflamasi yang mengandung Dexamethasone atau Ibuprofen dapat terserap ke dalam ASI. Oleh sebab itu, jangan gunakan obat ini jika sedang menyusui tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Baca Juga: Piroxicam: Manfaat, Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping
Efek Samping Obat Anti Inflamasi
Sama seperti obat-obatan lainnya, obat antiinflamasi juga memiliki sejumlah efek samping yang dapat muncul. Mengutip laman National Health Service (NHS), berikut masing-masing efek samping obat antiinflamasi sesuai jenisnya.
Efek Samping Dexamethasone (Obat Antiinflamasi Steroid)
Berikut efek samping obat Dexamethasone yang dapat muncul:
Sakit kepala, pusing, atau vertigo
Nyeri otot dan sendi
Mulut kering
Gelisah
Penglihatan kabur
Gangguan pencernaan, seperti sakit perut, mual, muntah, atau perut kembung
Lemas
Sering buang air kecil
Penggunaan Dexamethasone dapat memiliki efek samping yang berbeda-beda bagi setiap orang. Selain itu, obat ini juga bisa memicu efek samping yang lebih serius, seperti pembengkakan pada wajah dan punggung atas, serta insufisiensi adrenal (kelainan hormonal pada kelenjar adrenal).
Efek Samping Ibuprofen (Obat Antiinflamasi Non-steroid)
Berikut efek samping obat Ibuprofen yang dapat muncul:
Pusing atau sakit kepala
Sakit perut
Mual atau muntah
Mengantuk
Mulut atau tenggorokan kering
Sensasi panas di kulit
Di samping itu, Ibuprofen juga memiliki beberapa efek samping serius yang mungkin terjadi, seperti telinga berdenging, gagal napas, pembengkakan pada wajah, denyut nadi yang abnormal (fibrilasi atrium), dan tekanan darah rendah.
Jika mengalami efek samping di atas yang tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke dokter. Konsultasikan kondisi yang dialami kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
Baca Juga: 8 Cara Cepat Menyembuhkan Radang Usus: Pengobatan Rumahan hingga Langkah Medis
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa saja golongan obat antiinflamasi?

Apa saja golongan obat antiinflamasi?
Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obatan antiinflamasi terbagi dalam dua golongan, yaitu obat antiinflamasi golongan steroid dan obat antiinflamasi non-steroid (NSAID).
Apa itu obat antiinflamasi steroid?

Apa itu obat antiinflamasi steroid?
Obat antiinflamasi steroid adalah obat yang mengandung hormon steroid sintetis atau dikenal sebagai kortikosteroid.
Bagaimana cara kerja obat antiinflamasi non-steroid?

Bagaimana cara kerja obat antiinflamasi non-steroid?
Obat antiinflamasi non-steroid atau NSAID bekerja dengan cara menghambat memblokir enzim siklooksigenase (COX) sehingga mengurangi peradangan dan pembengkakan pada tubuh.
