Peritonitis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya
ยทwaktu baca 4 menit

Peritonitis adalah salah satu gangguan pencernaan yang mengancam jiwa. Gangguan ini menyerang peritoneum.
Sebagian besar kasus peritonitis terjadi karena adanya infeksi. Peritonitis menyebabkan munculnya rasa nyeri, otot perut terasa kaku, sakit perut yang berkepanjangan, mual, dan muntah.
Penanganan peritonitis biasanya dilakukan dengan pemberian antibiotik dan prosedur medis lainnya. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai penyakit peritonitis, mulai dari penyebab, gejala, hingga perawatannya. Simak ulasan mengenai peritonitis di bawah ini.
Apa Itu Peritonitis?
Mengutip dari jurnal Peritonitis oleh Susan W Folk, peritonitis adalah gangguan peradangan pada bagian peritoneum, yakni selaput tipis yang melapisi bagian perut dan membungkus organ-organ di dalamnya.
Selaput ini bisa mengalami peradangan jika terkena cairan tubuh yang mengiritasi ataupun infeksi. Penyebab peritonitis paling umum adalah infeksi yang terjadi ketika organ dalam perut mengeluarkan bocor atau pecah.
Gangguan peritonitis termasuk gangguan yang memerlukan penanganan sesegera mungkin. Gejalanya yang paling umum adalah sakit perut yang parah dan terjadi secara tiba-tiba.
Penyebab Peritonitis
Infeksi bakteri adalah penyebab paling umum, terutama jenis infeksi sekunder. Infeksi sekunder adalah jenis infeksi yang muncul sebagai komplikasi atau gejala sisa dari infeksi yang pernah terjadi sebelumnya dalam waktu yang berdekatan.
Infeksi ini dapat terjadi ketika seseorang memiliki lubang di perut atau usus yang memungkinkan bakteri dari saluran pencernaan masuk ke selaput peritoneum.
Usus buntu yang pecah dari radang usus buntu adalah penyebab umum lainnya. Cairan dari usus buntu, meskipun steril dapat menyebabkan gangguan peradangan pada peritoneum.
Infeksi sekunder adalah penyebab peritonitis yang paling umum. Gangguan ini bisa disebabkan oleh:
Radang usus buntu
Penyakit tukak lambung yang menyebabkan lambung memiliki lubang atau celah
Penyakit radang usus
Kehamilan ektopik yang pecah
Abses tubo-ovarium yang pecah akibat penyakit radang panggul.
Selain itu, peradangan pada peritoneum bisa dipicu oleh infeksi pertama, yakni jenis infeksi yang berasal dari peritoneum itu sendiri. Hal ini biasanya terjadi karena:
Peritonitis bakteri spontan berkembang pada orang dengan asites, yakni kondisi yang terjadi ketika cairan berlebihan di darah bocor dan menumpuk di peritoneum. Asites biasanya disebabkan oleh gangguan autoimun, penyakit hati, gagal ginjal, gagal jantung dan kanker.
Infeksi primer juga dapat dimasukkan ke rongga peritoneum oleh alat medis, terutama ketika menggunakannya secara teratur di rumah. Contohnya adalah penggunaan alat pemberian makan dengan tabung.
Peradangan pada peritoneum juga bisa terjadi karena reaksi kimia terhadap cairan tubuh yang berbeda, seperti:
Cairan empedu yang bocor dari kantong empedu yang bisa menyebabkan perforasi dan penyebaran cairan empedu di rongga perut lainnya
Enzim pankreas yang bocor dari pankreas juga dapat menyebar ke rongga perut lainnya
Asam lambung yang bocor dari organ lambung jika gangguan penyakit asam lambung membuat lubang sepanjang jalan
Gejala Peritonitis
Gejala utama dari peritonitis adalah rasa sakit perut yang muncul secara tiba-tiba dan semakin parah dari waktu ke waktu. Gejala lain yang mungkin menyertai peritonitis adalah:
Demam
Mual dan muntah
Diare
Kehilangan nafsu makan
Detak jantung cepat
Tidak mampu mengeluarkan gas dan kotoran dari dalam perut
Sulit mengeluarkan urine
Dehidrasi dan syok
Penting untuk mendapatkan bantuan medis ketika gejala-gejala ini terjadi, terlebih jika muncul secara bersamaan.
Cara Mengobati Peritonitis
Peritonitis termasuk kondisi medis yang darurat dan membutuhkan penanganan sesegera mungkin. Perawatan yang mungkin akan diberikan adalah:
Obat antibiotik: obat ini diberikan secara langsung langsung ke darah menggunakan injeksi intravena (IV). Dokter akan mulai dengan menggunakan antibiotik biasa sebelum menunggu tes untuk mengidentifikasi bakteri penyebab peritonitis. Jika obat antibiotik yang lebih umum tidak memiliki efek yang diinginkan, dokter dapat memberikan obat antibiotik khusus.
Pembedahan: Dokter akan mempertimbangkan operasi dalam kasus ketika peritonitis disebabkan oleh lubang di usus. Operasi mungkin juga diperlukan untuk menghilangkan jaringan peritoneum yang rusak.
Penggunaan alat bantu makan karena beberapa menderita mungkin sulit untuk mencerna makanan. Selang makanan akan dimasukkan ke perut melalui hidung atau ditempatkan di dalam perut menggunakan operasi lubang kunci.
Seseorang yang menderita peritonitis perlu mendapatkan penanganan sesegera mungkin karena kondisi dapat menyebabkan septikemia, sepsis, adhesi perut, sembelit dan retensi urin yang berujung pada kelumpuhan dan kematian.
Baca Juga: 7 Cara Melancarkan BAB yang Efektif Tanpa Obat
Kapan Harus ke Dokter?
Peritonitis adalah gangguan yang membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin. Cobalah untuk memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami rasa tidak nyaman, sakit perut yang berat di dalam perut, dan perut begah yang disertai dengan:
Demam yang semakin meninggi tanpa sebab
Mual dan muntah
Sering merasakan haus
Kadar urine dan kotoran yang keluar sangat sedikit
Kesulitan saat buang angin
Selain itu, jika seseorang merasakan gejala lain, seperti sakit perut secara tiba-tiba dan semakin buruk, jantung berdebar dan pembengkakan pada perut, segera periksakan diri ke dokter. Kondisi ini bisa menjadi pertanda bahwa penderita mengalami peritonitis.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(SAI)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan peritoneum?

Apa yang dimaksud dengan peritoneum?
Peritoneum adalah selaput tipis yang melapisi bagian perut dan membungkus organ-organ di dalamnya.
Apa itu infeksi sekunder?

Apa itu infeksi sekunder?
Infeksi sekunder adalah jenis infeksi yang muncul sebagai komplikasi atau gejala sisa dari infeksi yang pernah terjadi sebelumnya.
Apa penyebab asites?

Apa penyebab asites?
Asites biasanya disebabkan oleh gangguan autoimun, penyakit hati, gagal ginjal, gagal jantung dan kanker.
