Kumparan Logo
Konten Media Partner

Rhemafar: Manfaat, Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping

Kata Dokter

·waktu baca 8 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi obat Rhemafar. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat Rhemafar. Foto: Unsplash

Daftar isi

Rhemafar obat apa? Rhemafar adalah obat yang digunakan untuk mengatasi alergi dan peradangan, seperti gangguan endokrin, kolitis ulseratif, serta peradangan di kulit, ginjal, dan otak. Obat ini juga digunakan untuk mengobati radang sendi, seperti rheumatoid arthritis dan osteoarthritis.

Rhemafar termasuk ke dalam golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus sesuai petunjuk dokter. Obat ini dapat dikonsumsi oleh orang dewasa dengan dosis sesuai.

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 8 data

Rhemafar Kaplet 4 mg
Harga
Rp5.000 - Rp20.000 per strip (10 tablet)
Indikasi dan Manfaat
Mengatasi alergi dan peradangan pada sejumlah kondisi, seperti gangguan endokrin, kolitis ulseratif, penyakit rematik, serta peradangan di kulit, sendi, ginjal, dan otak.
Komposisi
Methylprednisolone 4 mg
Dosis dan Aturan Pakai
Dewasa: dosis 4-48 mg per hari sebagai dosis tunggal atau dosis terbagi tergantung kondisi pasien. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.
Efek Samping
Sakit kepala, gangguan saluran pencernaan, peningkatan tekanan tekanan darah, dan gangguan keseimbangan cairan.
Cara Penyimpanan
Simpan pada tempat sejuk dan kering, serta terlindung dari cahaya matahari langsung.
Peringatan
Tidak boleh digunakan untuk penderita penyakit jantung, gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, penderita tuberkulosis laten, serta ibu hamil dan menyusui.
Golongan Obat
Obat Keras

Pengertian Rhemafar

Ilustrasi konsumsi obat Rhemafar. Foto: Pexels

Rhemafar merupakan obat golongan kortikosteroid, yakni obat yang berguna untuk menambah hormon steroid dalam tubuh bila diperlukan, meredakan peradangan, serta menekan kerja sistem imun yang berlebihan.

Dengan cara kerja tersebut, obat ini dapat mencegah dan meredakan gejala yang ditimbulkan, seperti peradangan, reaksi alergi, dan pembengkakan.

Kortikosteroid bekerja dengan cara menghambat produksi zat yang menimbulkan peradangan dalam tubuh. Dengan cara kerja tersebut, obat ini dapat mengurangi gejala yang ditimbulkan, seperti pembengkakan, nyeri, dan berbagai reaksi alergi.

Rhemafar digunakan untuk mengobati kondisi seperti radang sendi, kelainan darah, reaksi alergi parah, peradangan pada kulit, ginjal, usus, dan paru-paru, serta gangguan sistem kekebalan tubuh.

Kandungan dan Kegunaan Rhemafar

Ilustrasi obat-obatan kortikosteroid. Foto: Unsplash

Rhemafar memiliki kandungan zat aktif methylprednisolone 4 mg, 8 mg, dan 16 mg. Methylprednisolone merupakan obat yang digunakan untuk mencegah dan mengatasi peradangan.

Methylprednisolone termasuk dalam kelompok obat glukokortikoid. Glukokortikoid adalah golongan hormon steroid dari kelas kortikosteroid yang digunakan untuk penanganan peradangan.

Mengutip jurnal Methylprednisolone oleh Antonio Ocejo dan Ricardo Correa, methylprednisolone bekerja dengan cara menghambat produksi zat yang menimbulkan peradangan dalam tubuh. Efeknya, obat ini dapat mengurangi gejala yang ditimbulkan, seperti peradangan, reaksi alergi, dan pembengkakan.

Selain itu, methylprednisolone juga bekerja sebagai imunosupresan dengan cara menekan respons sistem kekebalan tubuh.

Obat ini sering digunakan untuk meredakan peradangan pada berbagai kondisi, seperti alergi, radang sendi, penyakit kulit, hingga gangguan sistem kekebalan tubuh.

Methylprednisolone telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) untuk mengobati berbagai kondisi peradangan yang mencakup:

  • Gangguan endokrin, seperti insufisiensi adrenokortikal primer atau sekunder

  • Penyakit rematik, seperti rheumatoid arthritis atau psoriasis arthriti

  • Penyakit kolagen, seperti lupus atau skleroderma

  • Penyakit kulit, seperti psoriasis atau sindrom Stevens-Johnson

  • Reaksi alergi yang parah

  • Masalah pada mata, seperti adanya pembengkakan atau bisul di mata

  • Gangguan saluran pencernaan, seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn

  • Gangguan saluran pernapasan, seperti kerusakan paru-paru yang disebabkan oleh keracunan berilium atau sindrom Loeffler

  • Kelainan darah, seperti rendahnya kadar trombosit pada orang dewasa atau kekurangan sel darah merah pada anak-anak

  • Penyakit neoplasma, seperti kanker darah atau kanker pada sistem limfatik

  • Penyakit multiple sclerosis

  • Infeksi, seperti trikinosis dengan masalah otak atau jantung

  • Rhinitis alergi atau peradangan hidung yang terjadi karena sistem imun menurun

Rhemafar tersedia dalam bentuk tablet. Obat ini sebaiknya dikonsumsi sesudah makan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Anjuran Dosis Rhemafar

Ilustrasi konsumsi obat Rhemafar harus sesuai dosis. Foto: Unsplash

Sebagai golongan obat keras, penggunaan Rhemafar harus sesuai petunjuk dokter. Berikut anjuran dosis dan aturan pakai Rhemafar secara umum:

  • Dewasa: dosis 4-48 mg per hari sebagai dosis tunggal atau dosis terbagi tergantung kondisi pasien. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.

Jika ingin mengonsumsi Rhemafar, pastikan sudah mengikuti anjuran dosis tersebut dengan benar. Sebab, penyalahgunaan obat ini dapat mengakibatkan komplikasi serius, seperti anafilaksis (syok akibat reaksi alergi yang berat), peningkatan infeksi, dan hipertensi intrakranial idiopatik.

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Rhemafar

Ilustrasi konsumsi Rhemafar harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Foto: Pexels

Sebelum mengonsumsi Rhemafar, konsultasikan dengan dokter tentang obat-obatan yang sedang dikonsumsi dan riwayat penyakit yang dimiliki agar tidak terjadi kontraindikasi. Jangan mengonsumsi obat ini apabila memiliki kondisi berikut:

  • Pasien yang hipersensitif terhadap kandungan obat.

  • Pasien yang memiliki luka pada dinding lambung atau usus 12 jari.

  • Pasien yang memiliki penyakit infeksi jamur, infeksi bakteri, atau infeksi virus seperti herpes karena berisiko meningkatkan infeksi.

  • Pasien yang sedang atau pernah menderita penyakit tukak lambung, katarak, gagal jantung, dan penyakit liver.

  • Pasien yang menderita gangguan mental, seperti depresi.

  • Pasien yang menderita tuberkulosis, diabetes melitus, dan penderita osteoporosis berat.

  • Pasien yang menderita gangguan ginjal dan fungsi hati yang berat.

  • Ibu hamil dan menyusui.

Perlu diperhatikan, penggunaan jangka panjang obat ini dapat mengakibatkan kerusakan pada saraf mata dan menurunkan daya tahan tubuh, sehingga tidak dianjurkan untuk digunakan secara terus-menerus.

Cara Mengonsumsi Rhemafar dengan Benar

Ilustrasi konsumsi Rhemafar harus sesuai dengan anjuran dosis dan petunjuk dokter. Foto: Pexels

Rhemafar termasuk golongan obat bebas terbatas, sehingga penggunaannya tidak boleh sembarangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mengonsumsi obat ini, yaitu:

  • Sebelum mengonsumsi Rhemafar, konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki riwayat kesehatan tertentu, obat-obatan yang sedang dikonsumsi, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan terkait penggunaan obat.

  • Konsumsi Rhemafar harus sesuai dengan anjuran dokter dan informasi yang tertera pada kemasan obat. Penggunaannya tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.

  • Rhemafar sebaiknya dikonsumsi sesudah makan untuk mengurangi risiko iritasi lambung dan membantu penyerapan obat secara maksimal.

  • Konsumsi obat Rhemafar secara utuh dengan segelas air putih. Jangan mengunyah, menghancurkan, atau mencampurkan obat dengan makanan.

  • Jika Anda lupa mengonsumsi Rhemafar pada waktu yang ditentukan, segera konsumsi obat begitu ingat selama jeda dengan waktu konsumsi berikutnya belum terlalu dekat.

  • Simpan Rhemafar di tempat yang sejuk dan kering, serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Pastikan obat berada di tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Interaksi Rhemafar dengan Obat Lain

Ilustrasi penggunaan Rhemafar dengan obat lain dapat menimbulkan interaksi obat. Foto: Pexels

Rhemafar yang mengandung methylprednisolone dapat berinteraksi dengan jenis obat-obatan tertentu. Adapun beberapa interaksi obat yang perlu diwaspadai saat menggunakan Rhemafar, yaitu:

  • Penggunaan Rhemafar bersama dengan obat pengencer darah seperti warfarin atau dabigatran dapat meningkatkan risiko perdarahan.

  • Penggunaan Rhemafar dengan obat antidiabetik dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah.

  • Penggunaan Rhemafar bersama dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAI) seperti ibuprofen atau aspirin dapat meningkatkan risiko perdarahan, efek samping pada saluran pencernaan, dan memengaruhi fungsi ginjal.

  • Penggunaan Rhemafar bersama dengan beberapa obat antiepilepsi seperti phenytoin atau phenobarbital dapat mengurangi efektivitas methylprednisolone.

  • Penggunaan Rhemafar bersama dengan ciclosporin dapat meningkatkan risiko terjadinya kejang.

  • Penggunaan Rhemafar bersama dengan obat diuretik dapat meningkatkan risiko terjadinya hipokalemia (rendahnya kadar kalium dalam darah).

  • Penggunaan Rhemafar bersamaan dengan obat-obatan seperti tacrolimus, cyclophosphamide, ketoconazole, atau cimetidine dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping.

  • Penggunaan Rhemafar bersamaan dengan obat-obatan seperti rifampicin, phenobarbital, atau phenytoin dapat menyebabkan penurunan kadar dan efektivitas methylprednisolone dalam tubuh.

Selain daftar di atas, kandungan methylprednisolone juga dapat berinteraksi dengan jenis obat lain tergantung dari kondisi pasien. Karenanya, selalu konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu jika ingin mengombinasikan Rhemafar dengan obat-obatan lain.

Cara Penyimpanan Rhemafar

Ilustrasi obat Rhemafar harus disimpan di tempat yang sejuk dan kering. Foto: Pexels

Simpan Rhemafar pada suhu ruangan yang sejuk dan kering (sebaiknya di bawah 30 derajat Celsius), serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung dan kelembapan.

Selain itu, jangan menaruh tempat penyimpanan obat Rhemafar sembarangan. Simpan obat ini di tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Penyakit Terkait dengan Obat Rhemafar

Ilustrasi penggunaan Rhemafar dapat membantu mengobati radang sendi. Foto: Pexels

Kandungan methylprednisolone dalam Rhemafar memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai kondisi peradangan, alergi, dan gangguan autoimun. Dikutip dari laman Mayo Clinic, berikut adalah beberapa penyakit terkait yang biasa diobati dengan methylprednisolone.

1. Rheumatoid Arthritis (Radang Sendi)

Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada sendi dan jaringan tubuh lainnya. Methylprednisolone dapat digunakan untuk meredakan peradangan, mengurangi rasa nyeri, dan memperbaiki fungsi sendi.

2. Eksim

Penyakit kulit seperti dermatitis atopik atau eksim dapat diobati dengan Rhemafar untuk mengurangi peradangan dan rasa gatal. Kortikosteroid dalam obat ini membantu mengatasi reaksi peradangan pada kulit.

3. Insufisiensi Adrenokortikal

Insufisiensi adrenokortikal adalah gangguan endokrin atau hormonal yang terjadi akibat kelenjar adrenal tidak dapat memproduksi hormon kortisol dalam tubuh. Kandungan methylprednisolone dapat digunakan untuk menggantikan hormon kortisol yang kurang tersebut.

4. Lupus dan Skleroderma

Penyakit autoimun seperti lupus dan skleroderma dapat diobati dengan methylprednisolone. Obat ini membantu mengurangi peradangan pada jaringan dan organ tubuh.

5. Kolitis Ulseratif

Kolitis ulseratif adalah peradangan kronis yang terjadi pada usus besar dan rektum. Pada kondisi ini, methylprednisolone dapat digunakan untuk mengurangi peradangan di saluran pencernaan. Obat ini juga membantu meredakan gejala seperti diare dan sakit perut.

6. Penyakit Neoplasma

Pada beberapa kasus penyakit neoplasma, seperti kanker darah atau kanker sistem limfatik, methylprednisolone dapat digunakan sebagai bagian dari terapi untuk mengurangi peradangan dan gejala yang menyertainya.

7. Gangguan Mata

Methylprednisolone dapat digunakan dalam pengobatan gangguan mata seperti pembengkakan atau bisul yang berkaitan dengan peradangan. Obat ini membantu mengurangi beberapa gejala, seperti mata bengkak, gatal, dan nyeri.

Baca Juga: 4 Obat Sakit Tumit Kaki di Apotik yang Ampuh Redakan Nyeri

Efek Samping Rhemafar

Ilustrasi salah satu efek samping Rhemafar yang dapat terjadi adalah sakit kepala. Foto: Pexels

Sama seperti obat-obatan lain, Rhemafar memiliki sejumlah efek samping yang bisa terjadi. Mengutip laman National Health Service (NHS), beberapa efek samping penggunaan obat yang mengandung methylprednisolone, di antaranya:

  • Sakit kepala

  • Gangguan saluran pencernaan, seperti sakit perut, mual, dan muntah

  • Peningkatan tekanan tekanan darah

  • Gangguan keseimbangan cairan

  • Gangguan tidur

  • Keringat berlebihan

  • Lemah otot

Rhemafar dapat memiliki efek samping yang berbeda-beda bagi setiap orang. Selain itu, obat ini juga dapat memicu efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Sindrom Cushing, yakni kumpulan gejala seperti muka tembam (moon face), penebalan kulit seperti selulit pada punggung dan perut, hipertensi, penurunan toleransi terhadap karbohidrat, dan gejala-gejala lainnya.

  • Insufisiensi adrenal, yakni kelainan hormonal karena kelenjar adrenal tidak dapat memproduksi hormon kortisol dalam kadar yang cukup. Akibatnya, tubuh akan mengalami sejumlah gejala, seperti lemas berkepanjangan, anoreksia, warna kulit menggelap, hingga depresi.

Jika mengalami efek samping yang tidak kunjung membaik, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Konsultasikan kondisi yang dialami kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

(SFR)

Frequently Asked Question Section

Apa kegunaan Rhemafar?

chevron-down

Rhemafar adalah obat yang digunakan untuk mengatasi alergi dan peradangan pada sejumlah kondisi, seperti gangguan endokrin dan kolitis ulseratif.

Rhemafar golongan obat apa?

chevron-down

Rhemafar termasuk ke dalam golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus sesuai petunjuk dokter.

Apa kandungan obat Rhemafar?

chevron-down

Rhemafar memiliki kandungan zat aktif methylprednisolone 4 mg, 8 mg, dan 16 mg.