Dari Abdullah Quilliam ke Mohamed Salah: Menghidupkan Islam di Liverpool dan Inggris

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mohamed Salah (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)
Pesepak bola itu berlari dari sisi kiri pertahanan lawan. Kedua kaki pria berkostum merah itu dengan lincahnya menggocek, mengecoh lawan-lawannya yang berbaju kuning. Mereka kalang kabut, hingga jatuh bangun dibuatnya tapi semua sia-sia. Dengan tegas dan yakin, pesepak bola berambut keriting menceploskan bola ke gawang. Gol.
Anfield bergemuruh. Para penggemar mengelu-elukan namanya. Rekan setimnya datang memeluk, ikut berselebrasi, memberi selamat. Namun, di tengah riuh ramai manusia yang memuja-muji dirinya, ia hentikan langkah dan tegak berdirinya sejenak untuk tunduk bersujud sebagai rasa syukur kepada Sang Pemilik Jiwa.
Ia tahu bahwa sorakan-sorakan untuknya adalah fana. Ia sadar bahwa kemampuan hebatnya tetap bukan apa-apa dibandingkan dengan Sang Pemilik Alam Raya. Maka dari itu, ia pilih merendah di hadapan Yang Maha Kuasa. Pesepak bola itu bernama Mohamed Salah.

Mohamed Salah (Foto: Peter Powell/EPA)
Satu gol yang ia cetak ke gawang Watford pada 17 Maret 2018 di atas hanyalah satu dari sekian banyak gol yang telah ia gelontorkan bagi Livepool di musim perdananya ini. Salah satu selebrasi khas Salah usai mencetak gol adalah bersujud syukur. Sebuah bentuk ucapan rasa syukur khas orang-orang yang beragama Islam kepada Tuhan mereka. Puluhan gol telah dicetak Salah untuk Liverpool di semua kompetisi, dan berulang kali pula kita melihat selebrasi khas muslim tersebut.
Sebagai seorang penganut Agama Islam, tidak mengherankan jika salah berulang kali melakukannya. Bahkan, semua muslim di dunia, tak hanya pesepak bola, dianjurkan untuk bersujud syukur setiap kali mendapat rezeki atau kesenangan. Gol adalah rezeki, dan ini adalah gaya bersyukur yang telah dipertontonkan Salah di hadapan ratusan ribu masyarakat Kota Liverpool, puluhan juta penduduk Negara Inggris, ratusan juta penghuni Benua Eropa, dan hampir seluruh manusia di bumi. Secara tidak langsung, Mohamed Salah telah memperkenalkan Islam, salah satunya lewat selebrasi golnya.
Salah sebetulnya tidak sendirian. Ada juga Sadio Mane dan Emre Can di tubuh skuad The Reds musim ini. Akan tetapi, sepak bola kadang lebih suka mengalihkan perhatian utamanya kepada sosok penyerang (sayap, maupun tengah), dan dibandingkan dengan Mane, jumlah gol Salah lebih banyak dan penampilannya lebih konsisten. Hingga laga ke-34 Liverpool di ajang English Premier League (EPL) musim 2017/2018, ia sendiri telah membukukan 30 gol dari total 78 gol yang dicetak The Reds. Tidak heran jika kini pemain bernomor punggung 11 itu menjadi idola baru para Liverpudlian.
Dari sekian chant yang diciptakan para penggemar untuk Salah, satu chant yang paling fenomenal adalah chant "I'll be Muslim too" yang sempat viral di media sosial. Lirik pada chant tersebut seolah mengindikasikan bahwa para suporter/penggemar akan memeluk agama Islam apabila Mohamed Salah mencetak gol. Seperi ini lirik chant-nya:
If he's good enough for you, he's good enough for me.
If he scores another few, then I'll be Muslim too.
If he's good enough for you, he's good enough for me.
Sitting in the mosque, that's where I wanna be!
Mo Salah-la-la-la, la-la-la-la-la-la-la.
Pasca viralnya chant tersebut, Mohamed Salah tidak berhenti mencetak gol. Lalu, apakah orang-orang yang menyanyikan lirik tersebut benar-benar memutuskan untuk menjadi pemeluk agama Islam? Entahlah, hanya Tuhan Yang Maha Tahu segalanya.

Mohamed Salah (Foto: Andrew Powell/Liverpool FC via Getty Images)
Akan tetapi, jelas bahwa pria yang ditransfer dari AS Roma senilai 34 juta Poundsterling ini cukup sukses membuat citra Islam menjadi terlihat lebih baik. Seorang cendekiawan dan penulis muslim dari Arab Saudi, Aid Al Qarni mengatakan bahwa Mohamed Salah telah mengenalkan Islam dengan cara yang sangat baik. Al Qarni mengeluarkan komentarnya pasca kemenangan 5 gol tanpa balas Liverpool atas Watford, di mana 4 gol di antaranya dicetak oleh Mohamed Salah.
"(Sikap Salah) ini mencerminkan monoteisme murni dan representasi Islam yang sebenarnya, mungkin lebih (efektif) dari seratus atau seribu khotbah," tulis Al Qarni di akun Twitter pribadinya.
Salah tidak banyak bicara tapi banyak berkarya lewat kakinya. Jika tidak mencetak gol, ia membukukan assist. Tak kurang dari 13 assist telah ia sumbahkan untuk Liverpool musim ini di semua kompetisi. Jika assist juga tidak, maka gocekan dan aksi-aksinya di lapangan hijau sudah cukup membuat banyak decak kagum.
Salah tidak banyak gaya, melainkan sederhana apa adanya. Ia (masih) setia dengan rambut keriting dan kumis, serta janggut lebatnya yang berwarna hitam.
Tidak ada potret ia memegang gelas berisi alkohol atau mengisap rokok barang sebatang. Salah tidak bertato dan tak hobi bertelanjang dada pamer tubuh atletisnya. Ia sungkan pamer kemesraan dengan sang istri dan segala hal lain yang bersifat privasi.
Usai mencetak gol, ia bersujud. Di waktu senggang, ia pernah terpotret dan foto itu menyebar kala ia tengah duduk khusyuk di dalam pesawat sedang membaca ayat suci Al-Quran. Dari sisi kemanusiaan, sebagian dari pendapatannya pun ia sumbangkan kepada mereka yang kurang mampu. Salah pun menjaga akal sehatnya dengan tidak melupakan dari mana ia berasal.
Pemimpin desa Nagrig, sebuah desa yang terletak di provinsi Gharbiya, Mesir, yaitu Maher Shetia menceritakan tentang kontribusi Salah terhadap tempat di mana pemain timnas sepak bola Mesir itu dibesarkan. Pada tahun 2017 lalu, sebagaimana dikutip dari The Liverpool Echo, Shetia berkata, "Salah menyoroti desa kecilnya di peta internasional. Ia juga membangun (badan) amal dan akan membangun sekolah yang harganya jutaan. Ini adalah tambahan untuk sumbangannya ke rumah sakit Basioun dengan ruang ventilasi lengkap, inkubasi dan unit ambulans".
Pasca penalti heroik Mohamed Salah ke gawang Kongo yang memastikan langkah Mesir untuk berlaga di Piala Dunia 2018, nama Mohamed Salah semakin harum di negaranya. Gubernur Provinsi Gharbiya mengubah nama sekolah tempat Salah dulu menimba ilmu menjadi "Mohamed Salah Industrial High School". Tidak sampai di situ, bahkan ada seorang pengusaha yang menawarkan Salah sebuah vila mewah sebagai hadiah keberhasilannya membawa timnas Mesir ke Piala Dunia. Namun, ia menolak dan meminta agar pengusaha itu lebih baik mengalihkan dananya untuk donasi ke desa tempat ia menghabiskan masa kecilnya, Nagrig.
Sungguh potret seorang pesepak bola muslim yang layak jadi panutan. Sulit untuk tidak jatuh cinta ataupun menaruh respek padanya, juga pada apa yang identik dengan dirinya. Segala kabar baik tentang Salah, di era digital ini, sudah barang tentu akan sangat mudah diakses oleh manusia di seluruh dunia, tak terkecuali mereka yang tinggal di Liverpool, Inggris.
Tidak mengherankan jika kehebatannya di lapangan dan sisi keislamannya membawa dampak positif tentang pandangan orang-orang non muslim di Inggris (atau setidaknya di Liverpool) terhadap agama Islam. Islam yang tadinya mungkin tabu untuk diperbincangkan, kini malah dirayakan lewat chant. Okelah, tidak semua (atau bahkan tidak ada) dari mereka yang akhirnya menjadi muslim, tetapi setidaknya ini adalah sebuah potret di mana Islamofobia di Inggris, atau setidaknya di Liverpool menjadi cair.
Karl Sharro, seorang arsitek dan satiris berdarah Lebanon-Irak yakin bahwa Salah adalah orang yang tepat untuk menurunkan diskriminasi dan Islamofobia.
"Mo Salah melakukan lebih banyak untuk mengakhiri benturan peradaban daripada orang lain di dunia," tulis Sharro di akun Twitter pribadinya.

Mohamed Salah (Foto: Liverpool FC)
Sisi unik lainnya adalah kalaupun Salah belum berhasil menggerakkan hati banyak penggemar Liverpool untuk memeluk agama Islam, tetapi setidaknya ia mampu menggerakkan hati banyak orang yang bukan penggemar Liverpool untuk 'murtad' dari klub kesayangannya dan menjadi pendukung klub Merseyside Merah tersebut. Fenomena ini dibenarkan oleh Asif Bodi, salah seorang suporter muslim setia Liverpool.
"Keberhasilan Salah juga telah menyebabkan peningkatan basis penggemar Liverpool di Inggris dan di seluruh dunia Muslim. Saya senang mendengar penggemar Manchester United berusia 10 tahun yang menjadi penggemar Liverpool karena lagunya (chant untuk Salah). Itu bagus," kata Bodi sebagaimana dikutip dari BBC tanggal 1 Maret 2018. Halo, Eric Cantona?
Walaupun bukan asli orang Inggris, mungkin kita dapat katakan Mohamed Salah adalah tokoh muslim dari Liverpool yang paling berpengaruh saat ini. Namun, jika bicara orang muslim asli Inggris yang paling berpengaruh, maka salah satu nama yang pantas disebut adalah Abdullah Quilliam. Mohamed Salah diyakini oleh beberapa orang telah kembali menghidupkan semangat penyebaran agama Islam Quilliam, meskipun mungkin secara tidak langsung.
***

Abdullah Quilliam (Gambar: Abdullah Quilliam Society)
William Henry Quilliam, nama asli pria itu, lahir pada 10 April 1856. Ia bukan orang yang sudah diajarkan agama Islam sejak kecil, layaknya Mohamed Salah. Justru, ia adalah putra dari seorang pendeta metodis gereja. Quilliam lahir di Liverpool tepatnya di Eliot Street no. 22, tetapi menghabiskan masa kecilnya di Isle of Mann. Namun, ia menghabiskan masa sekolah dan menjalani karirnya tetap di Kota Liverpool.
Berdasarkan informasi dari situs resmi komunitas Abdullah Quilliam, ia diketahui pernah bekerja sebagai pengacara di 28 Church St, Liverpool. Ia juga adalah seorang pengacara kriminal dan membela banyak kasus pembunuhan tingkat tinggi. The Liverpool Weekly Courier menggambarkannya sebagai "Jaksa Agung tidak resmi Liverpool". Di samping berurusan dengan hukum, ia juga seorang zoologist, pembicara publik, filantropis, pendiri dan editor berbagai jurnal dan kegiatan serikat buruh.
Lalu bagaimana ia dapat memeluk agama Islam? Ia menjadi mualaf ketika berkunjung ke Maroko dalam rangka pengobatan pada 1887 dan mengubah namanya menjadi Abdullah Quilliam. Pria yang diyakini sebagai orang Inggris asli yang pertama kali menjadi mualaf ini baru berani mempublikasikan keislamannya pada tahun 1888 lewat media lokal Liverpool.
Dalam sebuah pidato di Kairo, Mesir, yang juga isi pidato tersebut dimuat dalam publikasi press release media surat kabar di Kairo, yaitu Alfath pada Agustus 1928, ia menceritakan secara gamblang apa yang membuatnya memeluk agama Islam.
"Saya membaca Kitab Suci Al-Quran yang diterjemahkan dan buku Hero yang ditulis oleh Carlyle dan banyak buku lainnya. Ketika saya meninggalkan Tangiers, saya taat pada Islam dan menyerah pada kekuatannya dan mengaku itu adalah agama yang benar," ujar Quilliam.
Ia juga diyakini sebagai orang pertama yang mendirikan masjid di Inggris, tepatnya di kota kelahirannya, Liverpool. Atas bantuan kucuran dana dari Nasrullah Khan, Pangeran Mahkota Afghanistan, ia membeli Brougham Terrace No. 8 sebagai tempat masjid tersebut dibangun. Quilliam juga membeli Brougham Terrace No.11 dan 12 untuk memperluas areanya.

Interior Masjid yang didirikan Abdullah Quilliam (Gambar: Abdullah Quilliam Society)
Pada akhirnya, masjid tersebut tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga institut pusat kajian Islam di Liverpool, sekolah boarding school, laboratorium, museum, dan panti asuhan. Satu hal yang menarik dari panti asuhan tersebut adalah tempat itu juga dijadikan oleh orang tua non muslim yang ingin menitipkan anaknya di sana. Dengan perjanjian, si anak akan dididik dengan ajaran Islam.
Metode yang dilakukan oleh Quilliam dalam penyebaran atau dakwah agama Islam, selain membangun fasilitas yang memudahkan hajat hidup kaum muslimin tersebut, adalah melalui media dan sikap toleransi yang ia tunjukkan. Di tahun yang sama di mana ia mengumumkan diri sebagai seorang muslim, ia tetap menunjukkan sisi kemanusiaannya tanpa pandang bulu. Ia memberi makan 200-400 anak-anak kurang mampu (tidak harus muslim) pada pagi hari natal dan memberi 400-600 anak-anak pada malamnya, yang kedua acara tersebut berlangsung di masjid yang ia dirikan.
Abdullah Quilliam menuliskan pamflet berjudul "Faith of Islam" yang edisi pertamanya dicetak sebanyak 2000 kopi pada 1889 dan 3000 kopi pada 1890. "The Crescent", catatan mingguan Islam di Inggris, yang diedit oleh Abdullah Quilliam sendiri mewakili umat Islam di Inggris antara tahun 1893 dan 1908. Dokumen-dokumen unik ini adalah catatan historis dari situasi Islam dan komunitas mualaf yang sedang berkembang pada masa kolonial Inggris. Semua itu dipublikasikan secara internasional. Sebuah jurnal bulanan yang juga diterbitkan oleh Abdullah Quilliam adalah "Islamic World" yang memiliki jangkauan ke seluruh dunia.

Pamflet "The Faith of Islam" (Gambar: Abdullah Quilliam Society)
Atas segala usaha dakwahnya selama bertahun-tahun di Liverpool dan Inggris secara keseluruhan hingga akhir hayatnya, tercatat tak kurang dari 600 orang di Britania Raya yang akhirnya memeluk agama Islam. Seorang pria bernama Djem Ali Hamilton, dan sang istri, Elizabeth Cates (dengan nama muslim "Fatima") adalah orang-orang pertama yang Quilliam bantu menjadi mualaf. Beberapa orang terkenal pada masa itu yang sukses ia bantu memeluk Islam adalah Profesor Nasrullah Warren, Profesor Haschem Wilde dan Resched P. Stanley yang pernah menjadi Walikota Stalybridge, Manchester Raya, Inggris.
Penghargaan diberikan untuknya. Pada tahun 1893 ia menerima gelar "Alim" dari Sultan Maroko. Pada 1894, Sultan Abdul Hameed II, khalifa terakhir Ottoman, memberikan gelar resmi kepada Abdullah Quilliam "Sheikh al-Islam" kawasan Britania. Emir Afghanistan menyebutnya sebagai Sheikh Muslim di Britania.
Namun, sekali lagi, menyebarkan agama Islam tidak pernah mudah. Apalagi di Inggris, sebelumnya tidak ada penduduk asli Britania yang memeluk agama Islam. Jelas, Islam dinilai sebagai sesuatu yang asing bagi masyarakat kebanyakan. Apalagi, Inggris sejak dulu dikenal dengan masyarakatnya yang insular.
Abdullah Quilliam mengalami persekusi dan pengusiran, dan peristiwa ini disebut-sebut sebagai 'Islamofobia' pertama di Britania Raya, khususnya Inggris dan Liverpool. Pada tahun 1908, ia dan para pengikutnya 'mengungsi' ke Konstantinopel (Istanbul) dan tidak pernah kembali ke Liverpool.
Saat kembali ke Inggirs, ia mengubah namanya menjadi Haroun Mustapha Leon. Masa tuanya ia habiskan di Isle of Man dan London. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di ibukota Inggris tersebut dan dimakamkan di pekuburan Brookwood, Woking, London.
***
Jumlah muslim di Liverpool dan Inggris pada era sekarang tentu sudah lebih banyak daripada saat di zaman Quilliam. Isu mengenai Islam sudah lebih luas. Tidak hanya bicara tentang bagaimana Islam disebarkan atau peningkatan jumlah mualaf di Liverpool dan Inggris tapi juga tentang bagaimana memperbaiki citra Islam itu sendiri, tetapi juga bagaimana memulihkan citra Islam sebagai agama yang cinta damai. Lebih khususnya adalah tentang bagaimana menurunkan angka Islamofobia.
Beberapa pihak mengharapkan bahwa Mohamed Salah mampu menjadi sosok yang mengenyahkan islamofobia, intoleransi, diskriminasi, atau apapun itu istilahnya. Hal-hal yang dulu menyulitkan Abdullah Quilliam dalam perjuangan dakwahnya.

Mohamed Salah (Foto: Peter Byrne/PA via AP)
Pada 7 Februari, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Kick It Out selaku organisasi anti diskriminasi sepak bola mengatakan bahwa jumlah insiden diskriminasi pada tengah musim 2017-2018 telah meningkat. Organisasi ini menerima lebih dari 300 laporan yang berkaitan dengan 282 insiden pelecehan diskriminatif pada akhir 2017, baik di kancah sepak bola profesional, sepak bola akar rumput, maupun media sosial. Ini menandai adanya peningkatan sebanyak 59% dari periode yang sama musim lalu, yaitu 177 insiden.
Bukan kabar yang mengenakkan untuk didengar. Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah Mohamed Salah benar-benar mampu menurunkan angka diskriminasi dan islamofobia di Inggris? Tentu merupakan sebuah perjalanan yang cukup panjang dan tidak dapat asal klaim, meskipun Salah telah terlihat mampu mewujudkan harapan tersebut melalui sikap, perilaku, dan performanya.
Masalahnya, Salah berkecimpung di dunia sepak bola, maka performanya yang luar biasa ini mengeluarkan pertanyaan lain, "sampai kapan ia akan membela Liverpool FC?" Bukan tidak mungkin ia dapat berpindah klub beberapa musim ke depan. Jika ia pindah, lalu bagaimana dengan citra Islam di Liverpool dan Inggris? Apakah akan kembali ke kondisi pra-Mohamed Salah? Kita lihat saja bersama-sama ke depannya.
Baik Abdullah Quilliam, maupun Mohamed Salah telah berjasa besar terhadap perkembangan dan perbaikan citra agama Islam di Liverpool dan Inggris. Quilliam dan Salah punya cara mereka masing-masing. Semua itu tentu bukan hanya tugas almarhum Quilliam dan Mohamed Salah semata untuk menghidupkan ajaran dan citra Islam yang baik, melainkan tugas seluruh muslim, bisa lewat karya dan juga dengan cara yang benar.
