Konten dari Pengguna

Mudah-mudahan Inilah yang Disebut Indonesia

Katondio Bayumitra Wedya

Katondio Bayumitra Wedya

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mudah-mudahan Inilah yang Disebut Indonesia
zoom-in-whitePerbesar

Suporter Indonesia (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Seorang perempuan mengeluarkan jaket berwarna biru dari dalam lemari. Kemudian, ia mencari sebuah benda tajam, dan didapatkannya sebuah gunting kecil. Setelah itu, perempuan itu duduk di lantai, lalu dengan telaten membersihkan semua tulisan dan gambar yang terjahit pada jaket biru tersebut dengan ujung gunting kecil yang tajam itu.

Ia benar-benar memastikan bahwa tidak ada lagi tulisan yang dapat dibaca dan tidak ada pula gambar yang jelas terlihat pada jaket biru tersebut. Sejurus kemudian, perempuan itu merampungkan pekerjaannya.

"Nah, sudah selesai! Sekarang mama bisa pakai jaket ini ke mana-mana," seru perempuan itu, perempuan yang melahirkan saya ke muka bumi.

Jaket itu benar-benar terlihat seperti jaket biru yang polos. Tidak ada lagi tulisan dan gambar yang menghiasinya, kecuali sebuah logo apparel.

Tahukah kalian bahwa jaket yang 'dikuliti' oleh ibu saya itu adalah jaket Persib Bandung? Ya, itu adalah sebuah jaket kekecilan yang dihadiahkan oleh seseorang untuk saya. Saya lupa siapa, tetapi orang yang memberikannya tahu bahwa saya (pernah) amat bangga mengaku sebagai seorang Bobotoh--sebutan penggemar Persib Bandung.

Dari awal memiliki jaket itu, saya tidak pernah memakainya lantaran kekecilan. Akhirnya, jaket itu hanya tersimpan rapi di dalam lemari, tak tersentuh. Suatu waktu, saat ibu saya sedang membereskan lemari, ia menemukan jaket itu.

Ibu saya mencoba memakainya dan sebenarnya kekecilan juga, tetapi masih terlihat lebih layak dibandingkan jika saya yang memakainya.

"Jaket Persib kamu mama yang pakai aja ya?" pintanya.

"Hah? Mama mau pakai jaket itu? Tapi kan di sini (Kota Depok) banyak Jakmania (penggemar Persija Jakarta)," jawabku teriring rasa khawatir.

"Udah, tenang aja. Biar mama yang 'beresin'," jawabnya, dan tak lama kemudian, dimulailah aksi menguliti jaket tersebut.

Ilustrasi Viking Jakarta. (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Viking Jakarta. (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)

Ibu saya benar-benar menghilangkan tulisan "Persib Bandung" pada bagian punggung dan logo Persib pada bagian dada kiri. Hanya tersisa logo apparel pada dada kanan.

Jadi, siapapun yang melihat tidak akan tahu bahwa itu adalah jaket Persib atau bekas jaket Persib sehingga dapat dipakai di mana saja, bahkan di wilayah yang didominasi Jakmania, sekalipun.

Depok merupakan kota yang masuk wilayah Jawa Barat, tetapi juga dekat dengan DKI Jakarta. Tidak heran jika banyak Jakmania, dan mungkin banyak juga Bobotoh di Depok.

Namun, di daerah tempat saya tinggal, kelompok yang dominan adalah Jakmania. Sebenarnya, ada juga suporter Persikad Depok, yang tidak ada hubungannya dengan rivalitas Persija-Persib, tetapi saya kurang memerhatikannya.

Kenapa saya bisa bilang begitu? Saya beberapa kali kerap melihat orang-orang dengan baju Persija bersliweran dan terdapat coretan-coretan dinding di beberapa titik yang mengindikasikan bahwa itu ditulis oleh Jakmania.

Jujur saja, saya sedih ketika penggemar suatu klub sepak bola Indonesia tidak bisa berekspresi menunjukkan kecintaannya pada klub kesayangan di tempat-tempat tertentu hanya karena daerah tersebut didominasi oleh basis suporter klub rival.

Kasus saya dan ibu saya ini adalah contohnya. Kami takut sesuatu yang buruk menimpa kami, terutama untuk urusan nyawa, jika mengenakan atribut Persib Bandung.

Alhamdulillah... sampai detik ini, saya dan keluarga tidak pernah diganggu oleh kelompok suporter mana pun. Belum pernah juga sih saya mendengar tawuran antarsuporter terjadi di daerah tempat saya tinggal, tapi khawatir boleh, dong? Lha wong, ini emak saya sendiri.

Saya sudah lama menanggalkan ke-Bobotoh-an saya. Pemicunya adalah dualisme kepemimpinan, dualisme liga, bahkan dualisme tim nasional yang pernah terjadi di sepak bola Indonesia.

Kejadian konyol itu bukan hanya membuat saya kehilangan kecintaan terhadap Persib semata, bahkan kecintaan terhadap Indonesia. Pasak nasionalisme yang kuat tertancap dalam diri saya ada pada sepak bola telah dicabut secara paksa oleh tangan-tangan keji, maka hancurlah semua.

Pasak nasionalisme yang kuat tertancap dalam diri saya ada pada sepak bola telah dicabut secara paksa oleh tangan-tangan keji, maka hancurlah semua.

Saya merasa dikhianati karena bagi saya apa yang bisa dibanggakan dari sebuah klub yang bermain di bawah sistem dan struktur persepakbolaan yang tak jelas? Tidak ada. Kalau pun klub itu juara, apa saya harus bangga? Apa ada gengsinya trofi yang diangkat tinggi-tinggi itu?

Akan tetapi, rasa nasionalisme ke-Indonesia-an dapat sedikit masuk kembali ke dalam relung jiwa saya karena prestasi gemilang Evan Dimas, dkk., yang sukses menjuarai AFF U-19 tahun 2013.

Dari situ, saya mulai percaya (lagi) bahwa sepak bola Indonesia masih punya harapan. Nasionalisme saya kembali, tapi tidak dengan kecintaan kepada Persib.

Waktu berlalu, dualisme dan sanksi FIFA telah dilewati. Namun, nampaknya sepak bola Indonesia tidak banyak berubah. Fanatisme sakit jiwa masih hidup, walau banyak juga aksi damai antarsuporter yang terselenggara.

Saya orang yang cukup anti dengan fanatisme. Sesuka apapun saya dengan sesuatu, saya tetap mencoba mengambil jarak, termasuk urusan menjadi penggemar klub sepak bola. Fanatisme dalam bentuk mendukung klub sampai mati mungkin masih okelah, tapi kalau mendukung klub hingga membuat orang lain mati, maka itu sudah tidak benar.

Haringga Sirla. (Foto: Twitter/@alvinReparo)
zoom-in-whitePerbesar
Haringga Sirla. (Foto: Twitter/@alvinReparo)

Hanya karena berbeda klub yang disukai, manusia Indonesia yang (katanya) terkenal ramah-ramah ini berani saling hajar, saling bunuh. Haringga Sirla (23 tahun), yang pada 23 September 2018 meninggal akibat dikeroyok oleh sejumlah oknum suporter di kawasan stadion Gelora Bandung Lautan Api adalah salah satu korban tewas dari pihak Jakmania.

Dari pihak Bobotoh, ada nama Rangga Cipta Nugraha (22 tahun) yang meninggal akibat ditusuk benda tajam oleh oknum suporter di stadion Gelora Bung Karno pada tahun 27 Mei 2012.

Haringga meninggal sebelum laga Persib-Persija dimulai, sementara Rangga meninggal setelah laga usai. Selain mereka berdua, ada juga nama Lazuardi (29 tahun/Bobotoh), Dani Maulana (17 tahun/Bobotoh), Harun Al-Rasyid (30 tahun/Jakmania), Ricko Andrean Maulana (22 tahun/Bobotoh) yang terdata meninggal akibat fanatisme buta kedua kelompok suporter tersebut.

Belum lagi tercatat mereka yang mengalami luka-luka akibat gesekan antarkeduanya (Bobotoh-Jakmania) sepanjang sejarah.

Ironisnya, jarak waktu kematian Haringga Sirla hanya berselang kurang lebih sebulan dari acara penutupan Asian Games 2018. Selama perhelatan itu, masih ingatkah jawaban yang kita teriakkan bersama-sama kala Valentino Simanjuntak bertanya "Siapa Kita?"

Ya, jawabannya adalah "Indonesia". Bukan "Bandung", bukan "Jakarta". Bukan "Jawa Barat", bukan "DKI". Bukan "Persib", bukan "Persija".

Saya punya firasat bahwa para pelaku pengeroyokan Haringga Sirla juga meneriakkan jawaban yang sama dengan kebanyakan orang Indonesia waras pada umumnya. Atau mungkin saja tidak. Akan tetapi, jika benar iya, maka mereka bisa jadi tidak paham makna dari kata "Indonesia" itu sendiri.

Sampai saat ini, saya masih berpikir bahwa mungkin tidak perlulah saya mendukung dan mencintai sebuah klub saja di sepak bola Indonesia. Saya rasa itu lebih aman bagi saya dan keluarga saya.

Saya senang melihat klub manapun yang mampu mewakili Indonesia di Asia. Saya bangga melihat Persipura pernah garang di Piala AFC, sebagaimana dulu saya antusias melihat Arema dan Persik Kediri berjibaku mewakili Indonesia di Liga Champions Asia. Persib dan Persija juga pernah mewakili Indonesia di Piala Asia, dan saya antusias melihat perjuangan mereka kala mewakili Indonesia di kompetisi tersebut.

Eksistensi Indonesia terwakili oleh kehadiran klub-klub tersebut di kompetisi level Asia. Tak lupa, saya juga ingin menyebut Sriwijaya FC, Persiwa Wamena, Semen Padang, dan Persibo Bojonegoro yang pernah mewakili Indonesia di Asia. Mohon maaf jika ada nama-nama klub yang lupa saya sebutkan. Maklum, saya baru rajin mengikuti sepak bola Indonesia sejak tahun 2006.

Dari sisi suporter, lagu "Song for Pride" milik Bonek dan "Sampai Kau Bisa" milik suporter Slemania adalah favorit saya. Merinding saya mendengarnya. Tak peduli orang mengira saya Bonek atau Slemania kala mendendangkannya.

Toh, siapapun kita, apapun warna kita, semua akan bersatu menjadi merah dan putih kala tim nasional bertanding. Jadi, untuk apa saling berpecah belah? Jangan tertipu warna dan atribut karena sesungguhnya kita sama.

Jadi, jika kalian bertanya siapa saya dalam kancah persepakbolaan Indonesia, saya akan menjawab dengan kalimat yang (maaf) saya plesetkan dari kutipan terkenal Ahmad Wahib, seorang pemikir dan tokoh intelektual Islam dari Indonesia. Jawaban saya adalah:

Saya bukan Bobotoh, bukan pula Jakmania. Saya bukan Aremania, bukan pula Bonekmania, juga bukan perwakilan identitas suporter klub sepak bola Indonesia lainnya. Saya adalah semuanya. Mudah-mudahan, inilah yang disebut Indonesia.

Toh, siapapun kita, apapun warna kita, semua akan bersatu menjadi merah dan putih kala tim nasional bertanding. Jadi, untuk apa saling berpecah belah? Jangan tertipu warna dan atribut karena sesungguhnya kita sama.