Pengalaman yang Bikin Saya Kapok Nyanyi di Depan Umum

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalaupun ada sebuah tindakan yang terkesan ujug-ujug dan berani pernah saya lakukan di masa kuliah, itu adalah bernyanyi di depan khalayak ramai. Sebuah keputusan yang bahkan membuat teman-tema saya berkata, "Serius lu, Ton?"
Bernyanyi di depan umum adalah kegiatan yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Kenapa? Karena saya pemalu. Maka dari itu, saya enggak pernah tuh yang namanya berdendang-dendang kecil atau bergumam di sekitar teman-teman saya.
Lagipula, pada masa itu, saya lebih dikenal sebagai seorang pencinta stand up comedy yang pernah beberapa kali tampil di kampus. Enggak lucu, sih, lantas saya mencoba peruntungan di bidang lain.
Sebenarnya, salah satu alasan kuat saya ingin bernyanyi di depan umum adalah karena waktu itu sering menonton video cover lagu di YouTube. Saya jadi ingin bernyanyi juga, sehingga saya tak pakai pikir ratusan kali untuk mendaftar kompetisi bernyanyi di kampus waktu itu.
Saya meminta bantuan teman saya yang 'musisi' waktu itu untuk membantu saya. Saya tahu, teman saya satu ini memiliki musikalitas yang tinggi. Ia sering tampil di gereja dan kafe-kafe, sudah begitu alirannya jazz pula.
Namun, saya enggak nyanyi lagu jazz, melainkan pop. Saya diminta panitia menyanyikan lagu wajib (Glenn Fredly - 'Januari') dan lagu bebas pilihan saya sendiri (enggak usah saya ungkap, ya, saya malu).
Singkat cerita, saya berlatihlah dengan teman saya yang 'musisi' itu. Progres demi progres, teman saya ini positif responsnya ke saya, "Oke banget lu, Ton, mantap!"
Dibilang begitu, saya kian percaya diri, dong. Dan akhirnya, Hari H pun tiba.
Saya ingat betul, betapa ramainya penonton yang antusias menyaksikan lomba nyanyi itu. Ketika giliran saya tiba, entah kenapa saya merasa jumlah penonton semakin ramai.
Hal yang membuat saya merasa cukup terharu adalah dukungan dari teman sejurusan dan seangkatan. Saya ingat betul ada tiga orang yang duduk di depan sambil menyalakan lightstick!
Saya ingat betul, ada rombongan yang tiba-tiba masuk ke ruangan acara sesaat sebelum saya tampil. Belakangan, saya tahu mereka adalah orang-orang yang tadinya sedang rapat kegiatan mahasiswa, lalu rela berhenti sejenak demi menonton saya!
Saya merasa seorang bintang besar hari itu. Singkat cerita, saya bernyanyi dengan percaya diri.
Kalau tidak salah, jarak antara Hari H tampil dengan pengumuman juara adalah 4 minggu. Selama itu, tidak ada orang yang berkomentar jelek ke saya.
Saya lantas diajak bergabung dalam band yang dibentuk oleh teman-teman saya yang membawa lightstick tempo hari. Karena saya tak bisa main alat musik, saya kebagiannya nyanyi, tampil di beberapa acara internal kampus.
Hingga akhirnya, hari pengumuman pun tiba. Saya sudah berniat, saya mau minta video rekaman saya ke panitia untuk jadi kenang-kenangan. Saya sudah siapkan flashdisk.
Model pengumumannya itu kayak acara awards. Jadi, cuplikan penampilan dari setiap penyanyi ditampilkan di layar, lalu pembawa acara mengumumkan dengan kalimat "Dan, pemenangnya adalah ...."
Pada momen itu, mental saya benar-benar jatuh. Ketika melihat cuplikan saya bernyanyi, asli, itu adalah salah satu suara PALING JELEK yang pernah saya dengar di dunia.
Ternyata, separah itu suara saya. Tidak, saya yakin bukan sound system-nya yang salah, tetapi SUARA SAYA YANG SALAH.
Saya langsung merasa betapa baiknya teman-teman saya menjaga perasaan saya dengan tidak meledek suara saya. Saya merasa bersalah atas teman-teman saya yang terbuang waktu rapatnya hanya karena jeda ingin menonton saya.
Jadi, saya mengurungkan niat meminta video penampilan saya. Semoga sudah dihapus. Dan yang pasti, kenyataan pahit itu membuat saya tak mau lagi bernyanyi di depan umum.
Namun, hasrat itu tak bisa dibohongi. Kadang, ada gitu dorongan pengin bernyanyi lagi. Akan tetapi, demi kemaslahatan umat, lebih baik tidak.
Saya ingat datang ke acara pernikahan seorang teman kuliah saya. Band kondangannya menyanyikan salah satu lagu favorit saya, 'Tunggu Aku di Jakarta' milik Sheila on 7.
Sebenarnya, suara penyanyinya bagus, tetapi tidak hafal lirik. Di situ saya kesal, ingin rasanya merebut mic untuk kemudian yang saya saja yang bernyanyi di panggung.
Namun, saya mengurungkan niat saya. Saya tahu diri. Sebab, jika sampai saya nekat nyanyi waktu itu, kasihan teman saya, dia harus membayar saya. (23/365)
