kumparan

Refleksi Satu Dekade Arsenal

Ilustrasi Arsenal
Stadion Emirates, markas Arsenal. Foto: Shutter Stock
Satu dekade silam, gua hanyalah seorang anak SMA. Remaja yang hobinya main PS2 setelah pulang sekolah, masalah hidupnya cuma stres saat akan menjalani ulangan fisika, kebiasaannya ketawa-ketiwi dan beradu argumen dengan teman sebaya.
ADVERTISEMENT
Kini, gua sudah memasuki dunia kerja. Menjadi jurnalis di kumparan, bahkan sedang menikmati tugas mengurusi konten sepak bola. Profesi yang sudah lama gua impikan, meski juga sempat gua sangkalkan.
Hobi, masalah, hingga kebiasaan gua pun kini tak lagi sama. Sudah tidak ada lagi PS2, hanya laptop dan smartphone 'kekasihku' saat ini. Masalah hidup lebih kompleks karena dituntut punya rencana jangka panjang. Ketawa-ketiwi masih sering, tetapi kini lebih menjauhi konflik.
Meski begitu, dari segala macam hal yang sudah banyak berubah, ada sisi dalam diri gua yang tetap sama: Masih setia jadi fans Arsenal. Semoga tak akan pernah berubah hingga akhir hayat kelak.
Untitled Image
Saking cintanya sama ini klub, gua sampai bikin buku.
Selama satu dekade ini, Arsenal selalu menemani gua dalam menjalani kerasnya kehidupan. Memang, mereka enggak selalu bisa jadi klub membanggakan, bahkan tak jarang memuakkan. Tapi dari situ, gua mendapat pelajaran ihwal mengelola kesabaran hingga menjaga kesetiaan.
ADVERTISEMENT
Memang, deh, kalau ngomongin Arsenal pasti selalu bercampur baur antara sedih dan gembira, hingga berkait kelindannya amarah dan bahagia. Yah... Tapi kalau sudah sayang mau bilang apa?

Para pemain datang silih berganti, para manajer dan staf pelatih juga fana adanya. Akan tetapi, cerita-cerita selalu ada setiap musimnya, walaupun terkadang itu mungkin cerita perih yang ending-nya selalu hampir sama dengan plot yang berbeda. Namun, cerita horor sekalipun juga ada yang memiliki akhir bahagia.

-Katondio Bayumitra Wedya (Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan)

Selama satu dekade ini pun, Arsenal jelas punya ceritanya sendiri. Penuh jatuh-bangun, surut-pasang, tenggelam-bangkit, dan entah apalagi istilah lainnya untuk menggambarkan nasib mereka selama 2009-2019.
Laurent Koscielny
Kecewa pasti ada. Tapi pantanglah berputus asa. Foto: OZAN KOSE / AFP
Gua sebagai fans tetap menaruh satu kepercayaan. Di balik banyaknya momen kebahagiaan, kekecewaan, kesedihan, kegalauan, Arsenal pasti masih memegang teguh sebuah impian: Kembali jadi klub besar yang disegani lawan.
ADVERTISEMENT
Enggak peduli berapa banyak kekalahan, pengkhianatan, hingga perundungan yang menampar muka. Menjaga kepala tetap tegak adalah keharusan. Satu dekade ke belakang harusnya bisa jadi pelajaran. Bekal berharga untuk membangun kembali tradisi juara.
Arsenal
Arsenal dan trofi Piala FA ke-13 mereka. Foto: Reuters/John Sibley
Dalam rangka membuat refleksi satu dekade Arsenal, gua dan Ilham Batara Simatupang (Gooner Lokal Podcast) menggelar sebuah pertemuan di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Kami mengulas banyak hal tentang Arsenal si klub kesayangan.
Perbincangan itu kami bungkus ke dalam sebuah rekaman. Sengaja, biar kalian juga bisa mendengarkan. Tapi, mohon maaf, ya, kalau ada momen yang kami kelupaan. Well, selamat mendengarkan.
Untitled Image
Ilham Batara Simatupang (kiri) dan gua.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan