• 15

USER STORY

Usaha Dunia Menurunkan Angka Bunuh Diri

Usaha Dunia Menurunkan Angka Bunuh Diri


Foto: Shaun Best/Reuters

Chester Bennington, vokalis Linkin Park, idola masa kecil generasi millenial menghembuskan nafas terakhirnya di usia yang ke-41 tahun pada Jumat 21 Juli 2017 lalu. Para penggemar dan rekan-rekannya berduka, tetapi hal yang mungkin paling menyesakkan bagi kita semua adalah ia mati karena bunuh diri, atau gantung diri lebih tepatnya. Depresi, mungkin itu salah satu penyebab pria penggemar klub sepak bola Inggris, Ipswich Town ini. Hal tersebut dengan gamblang dicurahkan Chester dalam lagu terbaru Linkin Park yang berjudul "Heavy", yang baru saja dirilis bersama album "One More Light" beberapa waktu lalu.
Menjadi Perhatian Dunia
Fenomena bunuh diri ternyata memang dapat menghampiri siapa saja dari kalangan manapun. Tidak pandang bulu, entah di negara berkembang, maupun di negara maju. Itulah sebabnya, kasus bunuh diri menjadi perhatian serius Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya WHO.
Pencegahan tindak bunuh diri (suicide prevention) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan yang bertujuan mengurangi rata-rata kasus bunuh diri dalam suatu negara sebanyak 10% pada tahun 2020 (WHO, 2013). Pada tahun 2012 diketahui terdapat sekitar 804.000 kasus bunuh diri yang terjadi di seluruh dunia.
Bicara Data
Di negara-negara kaya, kasus laki-laki yang meninggal karena bunuh diri 3 kali lebih banyak dari perempuan, sedangkan di negara-negara berpenghasilan menengah rasio bunuh diri laki-laki terhadap perempuan jauh lebih rendah pada 1,5 pria terhadap wanita. Untuk kaitannya dengan tingkatan usia, secara global, diketahui bahwa bunuh diri adalah penyebab kematian tertinggi kedua untuk mereka yang berusia 15-29 tahun. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk mereka yang berusia di atas 29 tahun, seperti halnya Chester Bennington, maupun Chris Cornell.
Amerika Serikat, negara asal Chester Bennington, menjadi penyumbang kasus bunuh diri terbanyak pada tahun 2012, yaitu sebanyak 43.361 kasus, dan 34.055 kasus di antaranya terjadi pada pria. Artinya, rata-rata kasus bunuh diri di Amerika Serikat adalah 12,1 per 100.000 populasi (19,4 pada laki-laki dan 5,2 pada perempuan, berdasarkan usia yang telah distandarisasikan). Sebuah peningkatan rata-rata dibandingkan tahun 2000 yang 'hanya' 9,8 per 100.000 populasi (16,2 pada laki-laki dan 3,8 pada perempuan, berdasarkan usia yang telah distandardisasikan). Bahkan, tahun 2015 telah mencapai 14,3 per 100.000 populasi.
Bagaimana dengan di Indonesia? Laporan WHO 2012 menyatakan terdapat 9105 kasus bunuh diri di Indonesia, yang mana 5206 kasus di antaranya terjadi pada perempuan. Artinya, rata-rata kejadian bunuh diri pada tahun 2012 adalah 4,3 per 100.000 populasi (3,7 pada laki-laki dan 4,9 pada perempuan, berdasarkan usia yang telah distandardisasikan). Namun, telah menurun menjadi 2,9 per 100.000 populasi pada tahun 2015.
Kenapa Orang-Orang Bunuh Diri?
Faktor resiko seseorang memutuskan untuk bunuh diri, di antaranya (NIMH, 2017):
  1. Depresi, gangguan mental lainnya, dan gangguan penyalahgunaan zat tertentu (termasuk alkohol, CDC (2016));
  2. Dalam kondisi medis tertentu;
  3. Sakit kronis;
  4. Pernah mencoba bunuh diri sebelumnya;
  5. Riwayat keluarga yang memiliki gangguan mental lainnya, dan gangguan penyalahgunaan zat tertentu;
  6. Riwayat keluarga yang pernah bunuh diri;
  7. Kekerasan dalam keluarga, termasuk fisik dan pelecehan seksual;
  8. Menyimpan senjata api di rumah;
  9. Baru keluar dari penjara;
  10. Terekspos pada perilaku bunuh diri orang lain, seperti anggota keluarga, teman sebaya, atau selebriti
Sulit sebenarnya untuk mencari tahu apa sebabnya orang ingin bunuh diri. Berbagai faktor dapat melatarbelakangi hal tersebut, mulai dari faktor sosial, psikologis, budaya, dan faktor-faktor lainnya yang menuntun manusia kepada perilaku bunuh diri. Stigma yang melekat pada gangguan mental dan bunuh diri berarti banyak orang merasa tidak dapat mencari pertolongan. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi para pemangku kebijakan.
WHO memaparkan bahwa salah satu penyebab dari peningkatan kasus atau usaha bunuh diri adalah masalah "akses". Maksudnya bagaimana? Begini, salah satu cara terpopuler mengakhiri hidup berdasarkan laporan WHO tahun 2012 adalah minum pestisida, gantung diri, dan penggunaan senjata api. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada metode lainnya. Membatasi akses terhadap hal-hal tersebut dapat menjadi salah satu cara mengurangi tingkat bunuh diri di suatu negara. Hal ini tentu memerlukan kerja sama dan kolaborasi dari banyak pihak tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan.
Pembatasan Akses adalah Kunci
Korea Selatan adalah salah satu negara yang dikenal memiliki rata-rata kematian akibat bunuh diri tertinggi dibandingkan dengan negara berpenghasilan tinggi lainnya. Pada tahun 2015, tercatat rata-rata kematian akibat bunuh diri adalah sebanyak 28,3 per 100.000 populasi, dimana rata-rata bunuh diri pada laki-laki 2,5 kali lebih besar dari perempuan. Selama tahun 2006-2010 diketahui bahwa metode terpopuler untuk bunuh diri masyarakat Korea Selatan adalah penggunaan pestisida.
Langkah yang diambil Korea Selatan pada tahun 2011 adalah pembatalan reregistrasi paraquat (sejenis herbisida pelindung tanaman) and melarang penjualannya pada tahun 2012. Kebijakan tersebut cukup ampuh karena jika dibandingkan data kasus bunuh diri pada tahun 2010 (34,1 per 100.000 populasi), tren bunuh diri di Korea Selatan sebetulnya menurun. Pelarangan paraquat diklaim sebagai salah satu kebijakan yang efektif, ditambah lagi hasil panen para petani di Korea Selatan tidak terganggu dengan kebijakan tersebut.
India juga melakukan hal yang sama. Salah satu negara Asia dengan penduduk terpadat ini memiliki rata-rata kasus bunuh diri 15,7 per 100.000 populasi. Pembatasan akses terhadap pestisida, yang notabene bertanggung jawab terhadap 4 dari 10 kasus bunuh diri di India, terbukti efektif mencegah kasus bunuh diri. Ada cerita menarik ketika sepasang suami istri bertengkar di India, dimana sang suami merasa sedih akan hal tersebut. Sang suami yang kala itu sedang mabuk merasa depresi dan berusaha mengakhiri hidupnya dengan mencari-cari botol pestisida. Namun, ia tidak menemukannya. Kenapa? Karena di daerah tempat ia tinggal disediakan fasilitas khusus penyimpanan pestisida. Sehingga, tidak ada rumah tangga yang menyimpan pestisida. Alhasil, sang suami tadi gagal bunuh diri.

Fasilitas penyimpanan pestisida di suatu daerah di India (Foto: Sarojini Manikandan/WHO)
Meningkatkan Kesehatan Psikologis dan Emosional Masyarakat
Guyana, sebagai negara berkembang di Afrika, memiliki rata-rata tingkat kematian bunuh diri yang cukup tinggi, yaitu 44,2 per 100.000 populasi di tahun 2012. Diketahui bahwa masalah emosional dan psikologis adalah penyebab utama tren bunuh diri di Guyana. Tren ini mendapatkan perhatian tersendiri dari WHO.
WHO menciptakan "Mental Health Gap Action Programme" (mhGAP). Sebuah program yang memang dirancang khusus untuk negara berpendapatan rendah sampai sedang. Tujuannya adalah untuk memberikan pelayanan mental, neurologis, dan gangguan akibat zat tertentu.

Anggota Pan American Health Organization (PAHO) dan WHO di Guyana (Foto: Angela Hoyte/PAHO)
Program tersebut cukup efektif di Guyana. Rata-rata kasus bunuh diri pada tahun 2015 menjadi sebesar 29,0 per 100.000 populasi. Menurun dibandingkan tahun 2012. Krystle Fraser, salah satu dokter yang diterjunkan ke Guyana mengatakan bahwa titik kunci keberhasilan tersebut adalah bahwa dalam hal mengelola depresi, tidak hanya menggunakan metode pengobatan, tetapi juga edukasi psikososial. Di Guyana didirikan klinis psikiatri yang mudah diakses oleh masyarakat, sehingga tim dokter tahu apa sebenarnya motif utama masyarakat ingin bunuh diri.
Pendekatan Holistik ala Jepang
Jika bicara kasus bunuh diri, nampaknya agak kurang lengkap jika tidak membahas Jepang. Negeri matahari terbit dikenal memiliki masyarakat yang tingkat malunya cukup tinggi, hingga bunuh diri malah menjadi solusi. Ini tentu sudah bukan rahasia umum.
Akan tetapi, tetap saja fenomena bunuh diri merupakan suatu hal yang meresahkan. Atas dasar ini, pada bulan Mei 2005, organisasi nonpemerintah, LIFELINK, berkolaborasi dengan anggota parlemen Jepang untuk mengorganisir forum pertama untuk bunuh diri. Di forum tersebut, LIFELINK dan organisasi nonpemerintah lainnya mengajukan proposal mendesak untuk pencegahan bunuh diri secara menyeluruh.

Yasuyuki Shimizu, salah seorang dibalik LIFELINK (foto: Tomohiro Osaki/Japan Times)
Selanjutnya, sebuah kelompok parlementer bipartisan dibentuk pada tahun 2006 untuk mendukung pembentukan kebijakan pencegahan bunuh diri. Anggota Dewan Penasihat dari partai mayoritas dan minoritas memutuskan untuk bersama-sama mempromosikan pencegahan bunuh diri sebagai kebijakan nasional dan untuk melindungi kehidupan masyarakat (WHO, 2017).
Pada tahun 2007, pemerintah telah mengambil serangkaian langkah, termasuk memperkuat penelitian mengenai penyebab bunuh diri secara medis dan sosial, menyiapkan lebih banyak hotline, mengadakan seminar untuk para pemimpin kota, dan meningkatkan dukungan untuk orang-orang yang mencoba bunuh diri dan untuk keluarga terdekat (Otake, 2017).
Jepang, dan hampir seluruh dunia, sempat mengalami krisis ekonomi di tahun 2008. Isu finansial tentunya aman sensitif dan rentan memicu bunuh diri. Apa yang dilakukan pemerintah Jepang? Mereka mengamankan dana pada tahun 2009 melalui “Regional comprehensive suicide prevention emergency strengthening fund”. Itu adalah dana yang disiapkan untuk mencegah kejadian bunuh diri, termasuk digunakan untuk meningkatkan kesadaran publik secara intensif melalui kampanye yang kala itu gencar dilakukan pada bulan Maret, saat rata-rata kasus bunuh diri terlihat meningkat. Tahun 2010, pemerintah Jepang menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Pencegahan Bunuh Diri Nasional.
Jepang menjadi semakin terbuka untuk masalah bunuh diri ini, yang hasilnya memudahkan untuk pengumpulan data dan promosi pencegahan bunuh diri itu sendiri. Hasilnya? Diketahui bahwa kasus bunuh diri di Jepang pada 2016 adalah sebanyak 21.897 kasus, adalah yang terendah selama 22 tahun. Akan tetapi, 'pekerjaan rumah' bangsa Jepang belum selesai sampai di sini karena walaupun menurun, tetap saja bunuh diri adalah penyebab kematian nomor satu masyarakat berusia 15-39 tahun.
Faktor Protektif Lainnya
Dari beberapa pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya akses terhadap pestisida (dan juga racun lainnya) dan kemudahan mengakses fasilitas kesehatan yang memberikan konsultasi mental dan psikologis adalah salah satu faktor penting dalam penurunan angka bunuh diri. Namun, ini juga tidak dapat dilepaskan dari dukungan sesama masyarakat dan keluarga. Kepedulian harus ditingkatkan jangan sampai kita membiarkan teman atau keluarga kita bunuh diri. Pastikan kita selalu terkoneksi atau terhubung dengan orang-orang yang kita sayangi.
Agama dan budaya juga dapat membantu mengurangi kasus bunuh diri. Sebagian besar agama di dunia melarang pengikutnya bunuh diri. Hal ini dapat menjadi semacam pengingat bagi mereka yang kepikiran untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Well, hidup cuma sekali. Amat sayang jika sengaja diakhiri terlalu cepat.

HealthBunuh DiriChester BenningtonJepangKorea Selatan

500

Baca Lainnya