Ada Masalah Yang Lebih Serius Dibanding Masalah Ijazah Palsu

Hai, Saya Hari. Saya seorang Statistisi yang bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) sejak 2019.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Hari Adityawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masalah ijazah palsu terus menjadi perbincangan di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan ijazah yang sedang ramai diperbincangkan merupakan ijazah milik mantan Presiden Indonesia, yaitu bapak Joko Widodo atau biasa dipanggil Pak Jokowi. Di sini saya tidak akan membahas apakah ijazah Pak Jokowi asli atau palsu, kenapa?
Debat Kusir
Bagi pendukung Pak Jokowi, mayoritas akan percaya bahwa Ijazah Pak Jokowi asli karena didukung dengan pernyataan rektor UGM yang menyatakan bahwa Pak Jokowi adalah lulusan Fakultas Kehutanan UGM dan ijazahnya asli. Selain itu, Bareskrim Polri juga telah menyatakan bahwa ijazah Pak Jokowi asli karena berdasarkan hasil uji laboratorium memperlihatkan bahwa ijazah Pak Jokowi dicetak menggunakan bahan kertas dan teknik cetak yang sama dengan ijazah rekan-rekannya di tahun yang sama.
Sedangkan bagi yang kontra terhadap Pak Jokowi, mayoritas akan lebih percaya dengan pernyataan Roy Suryo yang menganggap ijazah Pak Jokowi palsu dengan segala argumennya serta tidak percaya dengan pernyataan rektor UGM dan Bareskrim Polri karena mereka dianggap tidak netral.
Pada akhirnya, tidak akan ada titik temu karena masalah utamanya adalah trust issue atau ketidakpercayaan terhadap orang lain terlebih kepada orang atau pihak yang tidak disukai.
Masalah Yang Lebih Serius
Masalah yang lebih serius yang akan saya bahas adalah terlalu mudahnya mendapatkan ijazah asli di Indonesia. Dari mulai tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan Perguruan Tinggi pun Ijazah bisa didapatkan tanpa harus memiliki pengetahuan yang cukup sesuai tingkat atau gelarnya. Kenapa begitu?
Budaya Menyontek
Sudah menjadi rahasia umum bahwa budaya menyontek sudah ada dari zaman dahulu hingga sekarang. Menyontek adalah perbuatan curang dan tidak seharusnya dilakukan. Siswa yang menyontek tentu mengharapkan nilai yang tinggi atau cukup untuk syarat kelulusan. Mirisnya lagi, hal ini sering dibiarkan oleh oknum guru atau pengajar karena dianggap hal yang lumrah.
Fenomena Katrol Nilai
Katrol nilai mengacu pada praktik mengubah atau meningkatkan nilai siswa secara tidak wajar agar mereka memenuhi syarat untuk naik kelas atau lulus. Akibatnya, siswa yang sebenarnya memiliki pengetahuan yang sangat kurang pun tetap bisa lulus dan mendapatkan ijazah.
Joki Skripsi
Joki skripsi adalah seseorang atau pihak yang menawarkan jasa pembuatan skripsi atau tugas akhir untuk orang lain, yang kemudian menyerahkannya sebagai karya sendiri. Dengan kata lain, joki skripsi mengerjakan skripsi atas nama orang lain dan mendapatkan imbalan uang. Pada akhirnya, mahasiswa yang menggunakan joki skripsi pun bisa lulus dan mendapatkan ijazah asli tanpa harus bersusah payah atau memiliki pengetahuan yang layak sesuai dengan gelarnya.
Kesimpulan
Budaya menyontek, fenomena katrol nilai, dan joki skripsi merupakan beberapa hal yang merusak kualitas pendidikan di Indonesia. Akibatnya, banyak orang yang memiliki ijazah asli namun tidak memiliki pengetahuan yang layak sesuai gelarnya. Di sisi lain, ada juga orang yang tidak memiliki ijazah namun memiliki pola pikir dan pengetahuan yang lebih maju dibanding yang memiliki ijazah atau gelar sarjana karena mereka terus belajar walaupun bukan melalui sekolah resmi.
Peran Pemerintah
Perlunya peran langsung dari Pemerintah untuk memperbaiki kualitas Pendidikan di Indonesia. Harapannya, Pemerintah dapat lebih tegas memberantas segala bentuk kecurangan dalam dunia pendidikan di Indonesia serta mempermudah mereka yang ingin terus belajar namun terkendala biaya dengan bantuan pendidikan.
