Konten dari Pengguna

Etika Talkshow Televisi di Tengah Tuntutan Hiburan

Kayla Anindya

Kayla Anindya

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kayla Anindya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi etika talkshow televisi dalam mengangkat kisah pribadi sebagai hiburan pada tayangan Pagi-Pagi Ambyar. Foto: Ilustrasi AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi etika talkshow televisi dalam mengangkat kisah pribadi sebagai hiburan pada tayangan Pagi-Pagi Ambyar. Foto: Ilustrasi AI.

Etika talkshow televisi menjadi hal yang penting diperhatikan ketika kisah pribadi seseorang mulai dikemas sebagai bagian dari hiburan. Tayangan televisi mungkin hanya berlangsung satu atau dua jam, tetapi jejaknya di internet bisa bertahan jauh lebih lama.

Potongan tayangan yang kembali diunggah ke TikTok, Instagram, atau YouTube membuat sebuah acara yang sudah lama tayang bisa kembali muncul di hadapan penonton. Bahkan, potongan tersebut bisa memunculkan sudut pandang baru yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan saat tayangan pertama kali disiarkan.

Hal serupa terjadi pada salah satu episode Pagi-Pagi Ambyar yang mempertemukan Fajar Sadboy dengan mantan kekasihnya, Ayya Ain, pada Desember 2022. Kisah percintaan Fajar yang sebelumnya viral di media sosial dibawa ke studio televisi dan dibicarakan secara terbuka sebagai bagian dari hiburan.

Namun, ketika potongan tayangan tersebut kembali beredar, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada kisah cinta Fajar. Cara host menggali cerita, pertanyaan yang diberikan kepada narasumber, hingga bagaimana persoalan pribadi dikemas menjadi hiburan juga menarik untuk diperhatikan.

Dari sinilah muncul pertanyaan: sejauh mana sebuah program hiburan boleh membawa kehidupan pribadi seseorang ke ruang publik?

Potongan Lama yang Kembali Viral

Nama Fajar Sadboy mulai dikenal publik setelah video curhat mengenai kisah percintaannya ramai di media sosial. Popularitas tersebut kemudian membawanya hadir dalam berbagai program televisi, termasuk Pagi-Pagi Ambyar.

Dalam salah satu episodenya, Fajar dipertemukan dengan Ayya Ain, sosok yang sebelumnya banyak disebut dalam cerita patah hatinya. Pertemuan tersebut tentu menjadi sesuatu yang menarik bagi penonton. Apalagi, kisah percintaan Fajar memang menjadi salah satu alasan namanya dikenal luas.

Di studio, keduanya tidak hanya dipertemukan. Percakapan kemudian masuk ke persoalan hubungan mereka, termasuk alasan komunikasi antara Fajar dan Ayya tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.

Ketika potongan tayangan tersebut kembali beredar di media sosial, konteksnya pun dapat berubah. Penonton tidak harus menyaksikan keseluruhan acara untuk memberikan penilaian. Satu potongan percakapan dapat berdiri sendiri, menyebar luas, dan membentuk persepsi baru terhadap program maupun orang-orang di dalamnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa usia sebuah tayangan tidak selalu sama dengan usia perbincangannya. Apa yang dianggap biasa ketika pertama kali ditayangkan bisa mendapatkan respons berbeda ketika muncul kembali beberapa tahun kemudian.

Ketika Persoalan Pribadi Menjadi Bahan Hiburan

Dalam tayangan tersebut, Dewi Perssik sebagai salah satu host sempat menanyakan alasan Ayya tidak lagi membalas pesan Fajar. Ayya kemudian menjelaskan bahwa dirinya ingin fokus pada pendidikan dan belum ingin berpacaran karena masih muda.

Sekilas, pertanyaan seperti ini mungkin terlihat wajar dalam sebuah talkshow. Program hiburan memang membutuhkan percakapan yang dapat membuat penonton tertarik untuk terus mengikuti acara.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika pembicaraan mulai menyentuh hubungan, perasaan, dan keputusan pribadi seseorang.

Terlebih, Fajar dan Ayya saat itu masih berusia muda. Ketika cerita pribadi mereka dibawa ke televisi, sesuatu yang awalnya berada dalam ruang personal dapat berubah menjadi konsumsi publik dalam waktu singkat.

Di sinilah etika programming media penyiaran menjadi penting. Etika tidak hanya berbicara tentang apakah suatu tayangan menarik untuk ditonton, tetapi juga mengenai kepatutan, kejujuran, akurasi, dan tanggung jawab sosial dalam merencanakan serta menyiarkan sebuah program.

Artinya, menarik perhatian penonton tetap penting, tetapi kenyamanan dan posisi narasumber juga tidak bisa diabaikan.

Etika Talkshow Televisi di Tengah Tuntutan Hiburan

Menentukan batas dalam sebuah talkshow memang tidak selalu sederhana. Jika host hanya memberikan pertanyaan umum, percakapan mungkin terasa kurang menarik. Sebaliknya, jika pertanyaan terlalu jauh masuk ke kehidupan pribadi, narasumber bisa berada dalam posisi yang kurang nyaman.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah sebuah pertanyaan boleh diajukan atau tidak. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah bagaimana pertanyaan disampaikan, seberapa jauh informasi pribadi perlu digali, dan untuk kepentingan apa informasi tersebut ditampilkan kepada publik.

Tekanan untuk mendapatkan perhatian audiens dan mempertahankan daya tarik program juga dapat menjadi tantangan tersendiri. Rating dan kepentingan komersial memang menjadi bagian dari industri televisi. Namun, kebutuhan tersebut seharusnya tidak membuat kepatutan dan tanggung jawab terhadap narasumber menjadi nomor dua.

Dalam kasus Pagi-Pagi Ambyar, mempertemukan Fajar dengan mantan kekasihnya memang mampu menciptakan momen yang menarik. Namun, ketika percakapan mulai masuk lebih dalam ke persoalan perasaan dan hubungan pribadi, tim program perlu mempertimbangkan apakah informasi tersebut benar-benar dibutuhkan atau sekadar menjadi bahan untuk menciptakan momen dramatis.

Etika Bukan Hanya Tanggung Jawab Host

Host memang menjadi orang yang terlihat langsung oleh penonton. Namun, sebuah tayangan televisi tidak dibuat oleh satu orang.

Ada produser, penulis naskah, tim kreatif, editor, hingga berbagai bagian lain yang ikut menentukan bagaimana sebuah cerita akhirnya ditampilkan. Karena itu, penerapan etika seharusnya menjadi tanggung jawab bersama dalam proses produksi.

Tim program dapat menentukan sejak awal batas pembahasan dengan narasumber, memilih pertanyaan yang tetap menarik tanpa terlalu mengeksploitasi kehidupan pribadi, serta mempertimbangkan bagian mana yang layak ditayangkan kepada publik.

Hal ini menjadi semakin penting di era media sosial. Tayangan televisi saat ini tidak benar-benar selesai ketika acara berakhir. Potongan video dapat kembali beredar kapan saja dan menjangkau audiens yang bahkan tidak pernah menonton program aslinya.

Kasus Fajar Sadboy menunjukkan bahwa viralitas memang dapat memberikan spotlight besar kepada seseorang. Namun, popularitas tidak berarti seluruh bagian kehidupan seseorang otomatis layak dijadikan tontonan.

Pada akhirnya, program hiburan tetap membutuhkan sesuatu yang menarik agar dapat mempertahankan perhatian penonton. Tetapi hiburan dan etika seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Justru tantangan sebuah program televisi adalah bagaimana menciptakan tayangan yang menarik tanpa kehilangan batas, kepatutan, dan tanggung jawab terhadap orang yang berada di depan kamera maupun publik yang menontonnya.