Konten dari Pengguna

Apakah Mahasiswa Berprestasi Kini Sebuah Kewajiban?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
26
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kayla nahla Hanina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/images/download/iizanyar-graduation-9893047_1920.jpg (ilustrasi maahasiswa)
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/images/download/iizanyar-graduation-9893047_1920.jpg (ilustrasi maahasiswa)

Beberapa tahun lalu, ukuran keberhasilan mahasiswa relatif sederhana. Fokus utama berada pada kemampuan akademik, penyelesaian studi tepat waktu, dan penguasaan materi perkuliahan. Mahasiswa yang rajin belajar dan memperoleh hasil akademik yang baik sudah dianggap berhasil menjalankan perannya.

Namun, seiring perkembangan dunia pendidikan dan dunia kerja, standar tersebut semakin berkembang. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memperoleh IPK tinggi, tetapi juga memiliki pengalaman organisasi, kemampuan kepemimpinan, portofolio, sertifikat pelatihan, pengalaman magang, kemampuan berjejaring, hingga citra diri yang baik di media sosial profesional.

Tidak sedikit mahasiswa yang merasa bahwa satu pencapaian saja tidak lagi cukup. Setelah mendapatkan sertifikat, mereka merasa perlu mengikuti pelatihan lain. Setelah mengikuti organisasi, mereka merasa perlu menambah pengalaman magang. Setelah menyelesaikan magang, mereka mulai membandingkan diri dengan teman yang telah mengikuti program yang lebih bergengsi.

Pada titik tertentu, standar keberhasilan seolah terus bergerak dan semakin sulit dijangkau. Apa yang dahulu dianggap luar biasa perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa. Sementara itu, mahasiswa terus berusaha mengejar standar yang terus berubah tersebut.

Kurikulum yang Tidak Pernah Ditulis

Dalam kajian Sosiologi Kurikulum, terdapat konsep hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Konsep ini menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya mengajarkan materi yang tertulis dalam kurikulum resmi, tetapi juga nilai, norma, kebiasaan, dan cara pandang tertentu yang dipelajari peserta didik melalui pengalaman sehari-hari.

Menariknya, tidak ada mata kuliah yang secara eksplisit mengajarkan bahwa mahasiswa harus memiliki banyak sertifikat, aktif dalam berbagai organisasi, atau memiliki pengalaman magang sebelum lulus. Tidak ada dosen yang secara resmi mengatakan bahwa mahasiswa yang baik harus selalu sibuk dan produktif setiap saat.

Namun, berbagai praktik yang berlangsung di lingkungan pendidikan sering kali membentuk pemahaman bahwa itulah gambaran mahasiswa ideal.

Mahasiswa belajar dari cerita keberhasilan senior, unggahan media sosial teman, pengumuman prestasi kampus, hingga berbagai narasi tentang pentingnya menjadi mahasiswa aktif. Semua itu secara perlahan membentuk persepsi tentang siapa yang dianggap berhasil dan siapa yang dianggap tertinggal.

Tanpa disadari, mahasiswa belajar bahwa semakin banyak pencapaian yang dimiliki, semakin tinggi pula nilai sosial yang diberikan kepada mereka. Sebaliknya, mahasiswa yang hanya fokus pada perkuliahan sering kali dianggap kurang aktif atau kurang berkembang, meskipun belum tentu demikian.

Standar Mahasiswa Ideal dan Modal Sosial

Fenomena meningkatnya tuntutan terhadap mahasiswa juga dapat dilihat melalui pemikiran Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, keberhasilan seseorang dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh berbagai bentuk modal yang dimiliki, seperti modal sosial, modal budaya, dan modal ekonomi.

Dalam konteks mahasiswa saat ini, pengalaman organisasi, sertifikat, kemampuan berkomunikasi, jaringan pertemanan, pengalaman magang, hingga personal branding dapat dipandang sebagai bentuk modal yang dianggap penting untuk memperoleh pengakuan dan peluang yang lebih besar di masa depan.

Akibatnya, banyak mahasiswa terdorong untuk terus mengumpulkan berbagai pengalaman tersebut agar dapat memenuhi standar yang dianggap ideal. Mereka merasa perlu mengikuti berbagai kegiatan bukan hanya karena ingin belajar, tetapi juga karena khawatir tertinggal dari mahasiswa lain yang memiliki lebih banyak pengalaman.

Situasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak lagi dipahami hanya melalui prestasi akademik. Saat ini, mahasiswa juga dinilai berdasarkan kemampuan mereka mengakses dan mengumpulkan berbagai bentuk modal yang dianggap bernilai dalam lingkungan pendidikan maupun dunia kerja. Semakin banyak modal yang dimiliki, semakin besar pula peluang seseorang untuk dianggap sebagai mahasiswa yang unggul.

Ketika Prestasi Menjadi Identitas

Persoalan lain yang menarik untuk dicermati adalah bagaimana prestasi mulai menjadi bagian dari identitas seseorang. Banyak mahasiswa tidak lagi melihat prestasi sebagai hasil dari proses belajar, tetapi sebagai ukuran utama untuk menilai diri sendiri.

Akibatnya, ketika tidak memiliki pencapaian tertentu, sebagian mahasiswa mulai merasa tertinggal. Mereka merasa kurang produktif, kurang sukses, bahkan kurang berharga dibandingkan teman-temannya.

Perasaan tersebut semakin kuat karena media sosial memungkinkan seseorang melihat pencapaian orang lain hampir setiap hari. Setiap kali membuka layar ponsel, mahasiswa dapat melihat teman yang memenangkan lomba, memperoleh beasiswa, menjadi pembicara dalam suatu acara, atau diterima magang di perusahaan besar.

Tanpa disadari, ruang digital telah menjadi tempat baru yang memperkuat standar tentang seperti apa mahasiswa yang dianggap berhasil. Mahasiswa tidak hanya membandingkan nilai akademik, tetapi juga membandingkan pengalaman, sertifikat, aktivitas organisasi, hingga pencapaian yang ditampilkan di media sosial.

Dalam situasi seperti ini, prestasi perlahan berubah dari sesuatu yang membanggakan menjadi sesuatu yang dianggap wajib dimiliki. Ketika hal itu terjadi, proses belajar yang seharusnya menyenangkan berpotensi berubah menjadi sumber tekanan yang terus-menerus

Antara Pengembangan Diri dan Tekanan Sosial

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berprestasi dan terus berkembang. Organisasi, lomba, pelatihan, maupun magang tetap memiliki manfaat yang besar bagi mahasiswa. Berbagai aktivitas tersebut dapat membantu meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan, dan memperkaya pengalaman belajar.

Masalahnya muncul ketika pencapaian-pencapaian tersebut berubah menjadi standar yang harus dipenuhi oleh semua orang.

Setiap mahasiswa memiliki latar belakang, kemampuan, kondisi ekonomi, dan kesempatan yang berbeda. Tidak semua mahasiswa memiliki waktu yang sama untuk mengikuti organisasi atau magang. Sebagian mahasiswa harus bekerja sambil kuliah, membantu keluarga, atau menghadapi tantangan pribadi yang tidak terlihat oleh orang lain.

Ketika standar keberhasilan hanya diukur dari banyaknya pencapaian yang tampak, maka ada risiko bahwa proses belajar yang sebenarnya justru terabaikan. Mahasiswa bisa lebih fokus mengejar daftar prestasi daripada memahami tujuan pendidikan itu sendiri.

Padahal, pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan individu yang mampu mengumpulkan pencapaian, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis, memahami realitas sosial, dan menemukan makna dari proses belajarnya.

Siapa yang Membentuk Standar Itu?

Pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah mahasiswa perlu berprestasi atau tidak. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: siapa yang menentukan standar keberhasilan mahasiswa?Apakah standar tersebut dibentuk oleh kampus? Dunia kerja? Media sosial? Atau kombinasi dari semuanya?

Kemungkinan besar jawabannya adalah gabungan dari berbagai faktor tersebut. Dunia kerja menginginkan lulusan yang kompeten dan berpengalaman. Kampus ingin menghasilkan lulusan yang unggul. Media sosial memperlihatkan berbagai bentuk pencapaian yang tampak ideal. Ketiganya kemudian membentuk ekspektasi baru yang memengaruhi cara mahasiswa memandang dirinya sendiri.

Tanpa disadari, mahasiswa tidak hanya belajar mata kuliah di ruang kelas. Mereka juga belajar tentang standar keberhasilan yang berlaku dalam masyarakat.

Pendidikan dan Ideologi Kesuksesan

Pandangan Michael Apple membantu kita memahami bahwa kurikulum tidak pernah sepenuhnya netral. Pendidikan sering kali membawa nilai, keyakinan, dan cara pandang tertentu yang memengaruhi bagaimana peserta didik memahami dunia di sekitarnya.

Dalam konteks saat ini, berkembang keyakinan bahwa mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang produktif, aktif, berprestasi, memiliki banyak pengalaman, serta mampu menunjukkan pencapaiannya kepada publik. Nilai-nilai tersebut memang tidak tertulis secara resmi dalam kurikulum, tetapi hadir melalui berbagai praktik pendidikan yang berlangsung setiap hari.

Secara tidak langsung, mahasiswa belajar bahwa keberhasilan harus selalu terlihat dan dapat dibuktikan melalui berbagai pencapaian. Akibatnya, banyak mahasiswa merasa perlu terus meningkatkan diri agar tetap sesuai dengan standar yang berkembang di lingkungan mereka.

Pemikiran ini penting untuk direnungkan karena pendidikan seharusnya tidak hanya membentuk individu yang mampu bersaing, tetapi juga individu yang mampu memahami dirinya sendiri, berpikir kritis, dan menentukan tujuan hidupnya secara mandiri.

Mengembalikan Makna Pendidikan

Pada akhirnya, pendidikan tidak seharusnya hanya menghasilkan individu yang memiliki daftar pencapaian panjang. Pendidikan juga bertujuan membentuk kemampuan berpikir kritis, kesadaran sosial, integritas, kreativitas, serta kemampuan memahami diri sendiri dan masyarakat.

Prestasi tetap penting. Pengembangan diri juga penting. Namun, pendidikan perlu memberi ruang bagi mahasiswa untuk berkembang sesuai potensi dan kondisi masing-masing, bukan sekadar memenuhi standar keberhasilan yang terus bertambah.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya kembali: apakah mahasiswa yang baik selalu harus memiliki segudang pencapaian? Ataukah mahasiswa yang mampu belajar, bertumbuh, memahami dirinya, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya juga layak disebut berhasil?

Pertanyaan tersebut tidak hanya penting bagi mahasiswa, tetapi juga bagi dunia pendidikan yang terus membentuk cara kita memahami arti sebuah keberhasilan. Sebab bisa jadi, tantangan terbesar pendidikan saat ini bukanlah menciptakan mahasiswa yang paling berprestasi, melainkan memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkembang tanpa harus terus merasa kurang hanya karena tidak memenuhi standar yang dibuat oleh orang lain.