Mengapa Berpura-pura Menjadi Kandidat Ideal Saat Psikotes Bisa Menjadi Bumerang?

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kayla Aurelly Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Jangan gambar pohon terlalu kecil, nanti dianggap tidak percaya diri."
"Jangan terlalu jujur, jawab aja yang kira-kira jawabannya bagus dan dicari HRD."
Apakah kamu pernah melihat tips atau nasihat semacam ini? Wejangan ini sering beredar di media sosial menjelang proses rekrutmen kerja. Mulai dari unggahan TikTok, video YouTube, hingga forum diskusi pencari kerja, banyak orang membagikan berbagai "rahasia" agar lolos psikotes. Tidak sedikit pula yang percaya bahwa psikotes memiliki pola tertentu yang bisa dipelajari, bahkan diakali, demi meningkatkan peluang diterima bekerja.
Faktanya, psikotes bukanlah ujian yang bertujuan mencari jawaban benar atau salah. Dalam psikodiagnostik, psikotes digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik psikologis individu berdasarkan respons yang diberikan (Mulyono, 2020). Oleh karena itu, upaya untuk terlihat "sempurna" justru berisiko menghasilkan gambaran diri yang kurang akurat dan dapat berdampak pada proses penempatan kerja.
Psikotes Kerja Bukan Mencari Orang yang Sempurna
Banyak anggapan beredar bahwa kandidat yang ideal adalah mereka yang selalu percaya diri, mudah bergaul, mampu bekerja dalam tim, serta memiliki kemampuan memimpin yang tinggi. Padahal, tidak semua karakteristik tersebut dibutuhkan dalam setiap pekerjaan.
Pada praktiknya, perusahaan tidak selalu mencari individu yang sempurna, melainkan individu yang memiliki karakteristik yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang akan dijalankan. Seorang staf administrasi misalnya, mungkin lebih membutuhkan ketelitian, konsistensi, dan kemampuan bekerja secara terstruktur dibandingkan kemampuan berbicara di depan banyak orang. Sebaliknya, posisi yang berhubungan dengan marketing atau penjualan dapat menuntut kemampuan komunikasi dan interaksi sosial yang lebih tinggi.
Mengapa Berpura-pura Menjadi Kandidat Ideal Sulit Dilakukan?
Ketika menghadapi psikotes, sebagian pelamar berusaha memberikan jawaban yang dianggap paling menguntungkan, bukan? Selalu memilih jawaban yang menunjukkan sikap disiplin, percaya diri, mudah bekerja sama, atau memiliki motivasi kerja yang tinggi. Strategi ini dilakukan dengan harapan dapat membentuk kesan positif di mata perusahaan dan meningkatkan peluang diterima kerja.
Dalam proses psikodiagnostik, psikolog tidak hanya melihat satu atau dua jawaban tertentu, melainkan pola respons secara keseluruhan untuk memperoleh gambaran individu yang akurat dan objektif. Psikodiagnostik merupakan proses sistematis yang memanfaatkan berbagai teknik pengumpulan data, termasuk tes psikologi, sehingga interpretasi hasil didasarkan pada keterkaitan antarjawaban dan informasi lain yang diperoleh selama asesmen.
Oleh karena itu, berpura-pura menjadi kandidat ideal sering kali lebih sulit daripada yang dibayangkan karena respons yang diberikan berisiko menjadi tidak konsisten dan kurang mencerminkan karakteristik diri yang sebenarnya, sehingga menghasilkan gambaran psikologis yang kurang akurat (Mulyono, 2020).
Risiko Ketika Hasil Psikotes Tidak Mencerminkan Diri yang Sebenarnya
Keinginan untuk terlihat sebagai kandidat ideal mungkin dapat memberikan rasa percaya diri selama proses seleksi. Namun, ketika jawaban yang diberikan tidak mencerminkan kondisi diri yang sebenarnya, hasil psikotes yang diperoleh juga berpotensi menjadi kurang akurat.
Contohnya seseorang yang cenderung nyaman bekerja secara mandiri mungkin berusaha menampilkan dirinya sebagai individu yang sangat aktif dalam interaksi sosial karena menganggap karakteristik tersebut lebih disukai perusahaan. Jika hasil asesmen menunjukkan profil yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, individu tersebut berisiko ditempatkan pada posisi yang kurang cocok dengan kebutuhan maupun preferensinya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menimbulkan kesulitan beradaptasi, menurunkan kepuasan kerja, bahkan meningkatkan tekanan psikologis dalam lingkungan kerja.
Ironisnya, seseorang bisa saja berhasil "lolos" psikotes dengan menampilkan citra diri tertentu, tetapi justru mengalami kesulitan ketika mulai bekerja karena tuntutan pekerjaannya tidak sesuai dengan karakteristik yang sebenarnya dimiliki. Dalam situasi seperti ini, keberhasilan lolos seleksi belum tentu berarti keberhasilan menemukan pekerjaan yang cocok.
Semakin akurat respons yang diberikan, semakin akurat pula gambaran yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Sebaliknya, ketika individu berusaha menyembunyikan atau mengubah karakteristik dirinya, hasil yang diperoleh berpotensi tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
Strategi Terbaik Menghadapi Psikotes: Jujur dan Mengenali Diri Sendiri
Di tengah banyaknya informasi mengenai cara lolos psikotes, penting untuk memahami bahwa tujuan utama asesmen psikologis bukanlah mencari kandidat yang sempurna, melainkan memperoleh gambaran yang akurat mengenai karakteristik individu. Maka dari itu, strategi terbaik yang dapat dilakukan bukanlah menghafal jawaban yang dianggap ideal, tetapi menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan kondisi diri yang sebenarnya (real).
Selain kejujuran, persiapan yang baik juga tetap diperlukan. Peserta dapat mempersiapkan diri dengan menjaga kondisi fisik dan mental, beristirahat yang cukup sebelum tes, serta membaca instruksi dengan cermat. Langkah-langkah tersebut dapat membantu peserta mengerjakan psikotes dengan lebih optimal tanpa harus mengubah atau memanipulasi jawaban yang diberikan.
Jawaban yang jujur akan membantu menghasilkan gambaran yang lebih akurat mengenai potensi, kemampuan, dan karakteristik seseorang. Informasi tersebut tidak hanya bermanfaat bagi perusahaan dalam proses seleksi, tetapi juga membantu individu menemukan posisi kerja yang sesuai dengan dirinya.
Penutup
Pada akhirnya, psikotes bukanlah tentang menjadi kandidat yang terlihat paling sempurna, melainkan tentang menunjukkan diri apa adanya. Daripada sibuk mencari cara untuk mengakali psikotes, mungkin sudah saatnya kita lebih fokus mengenali diri sendiri. Percayalah, menjadi versi terbaik dari diri sendiri akan selalu lebih bernilai daripada berusaha menjadi orang lain hanya demi terlihat ideal.
Oleh: Kayla Aurelly Putri¹, Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog²
Referensi
Mulyono, R. (2020). Psikodiagnostik: Sebuah pengantar. Jakarta: Kencana.
