Habis Liburan, Kok Malah Makin Stres?

Mahasiswa S1 Psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kaylanissa Rifqa Widya Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasakan stres setelah menikmati liburan panjang? Bukannya otak jadi jauh lebih segar dan perasaan lebih bahagia, namun kenyataan yang terjadi adalah perasaan malas, cemas, atau bahkan enggan memulai aktivitas kembali justru datang secara bersamaan yang membuat kita tidak merasakan kebahagiaan setelah melaksanakan liburan. Fenomena ini memang cukup membingungkan, mengingat liburan seharusnya menjadi kegiatan untuk mengistirahatkan pikiran serta fisik kita dari segala kesibukan yang membuat kita merasa jenuh.

Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah Post Holiday Blues, yaitu gangguan psikologis seseorang yang muncul setelah liburan terjadi, ditandai dengan adanya perasaan sedih, cemas, kehilangan semangat kerja, bahkan hingga merasa kesepian (Fotaleno, 2025).
Menurut Fotaleno (2025), fenomena Post Holiday Blues terjadi karena adanya transisi dari suasana liburan yang menyenangkan kemudian kembali ke aktivitas sehari-hari yang lebih menuntut, seperti pekerjaan, tugas sekolah ataupun kuliah, dan berbagai tanggung jawab yang harus dikerjakan kembali. Perubahan suasana tersebut membuat seseorang membutuhkan waktu agar bisa beradaptasi dengan rutinitas setelah liburan.
Menurut Psikolog Tika Bisono kondisi ini umumnya bersifat sementara dan akan segera mereda dalam beberapa hari. Namun, dalam kondisi tertentu, perasaan tersebut dapat berlangsung lebih lama hingga mengganggu aktivitas dan keseharian seseorang secara signifikan (Fotaleno, 2025).
Kembali bekerja setelah liburan tentunya bisa menjadi tantangan psikologis bagi seseorang. Ketika masa pemulihan selama liburan berlangsung belum cukup, sementara tuntutan pekerjaan semakin menumpuk, hal ini akan membuat kondisi psikologis seseorang menjadi kewalahan. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya semangat, fokus, serta energi dalam menyelesaikan tuntutan pekerjaan. Tuntutan pekerjaan yang datang secara tiba-tiba juga akan membebani kapasitas psikologis seseorang yang masih dalam pemulihan (Wang dkk., 2025).
Fenomena Post Holiday Blues bisa terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara ekspektasi dan kenyataan. Liburan sering kali dianggap sebagai waktu yang tepat untuk bersantai dan menghabiskan waktu bersama orang tersayang. Ketika seseorang mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakan selama liburan atau liburan selesai terlalu cepat, maka dapat menimbulkan ketidakpuasan emosional sehingga perasaan tersebut masih terbawa hingga liburan selesai. Selain itu, memori masa lalu yang kurang menyenangkan atau perasaan kehilangan terhadap orang yang sudah tiada yang muncul kembali pada saat liburan juga dapat mengganggu kondisi psikologis seseorang selama liburan berlangsung (Fotaleno, 2025).
Media sosial juga menjadi tekanan seseorang agar bisa memenuhi ekspektasi orang lain. Biasanya selama liburan seseorang akan membagikan aktivitasnya di media sosial, unggahan liburan yang harmonis dan menyenangkan tentunya akan membentuk persepsi orang lain. Ketika pengalaman yang terjadi selama liburan tidak sesuai dengan kenyataan yang diinginkan, seseorang dapat mengalami ketidakpuasan atau tekanan emosional.
Dengan demikian, liburan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk beristirahat justru menjadi sumber tekanan apabila seseorang merasa harus menciptakan suasana liburan yang sempurna.
Menghadapi Post Holiday Blues tidak harus dilakukan dengan cara memaksakan diri kembali ke aktivitas produktif yang sama seperti sebelum liburan. Untuk kembali memulai aktivitas yang produktif dapat dilakukan secara bertahap.
Untuk melewati masa transisi dari suasana liburan ke aktivitas produktif kembali dapat dilakukan dengan cara seperti menyesuaikan kembali waktu tidur, memulai aktivitas secara perlahan, serta tetap melakukan kegiatan sosial (Bretones, 2017).
Menceritakan pengalaman selama liburan kepada orang-orang terdekat juga menjadi salah satu cara agar mengurangi tekanan emosional dan menyesuaikan diri kembali dengan rutinitas awal. Komunikasi yang terjalin dengan hangat dan interaksi yang empatik mendukung proses pemulihan emosional pasca liburan (Fotaleno, 2025).
Merasa malas, kurang bersemangat, atau sedikit cemas setelah liburan bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan diri kita. Perubahan dari suasana santai menuju rutinitas yang penuh tuntutan memang membutuhkan proses penyesuaian.
Yang terpenting adalah memberikan diri sendiri waktu untuk kembali beradaptasi, tidak menetapkan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap liburan maupun diri sendiri, serta tetap menjaga komunikasi dengan orang-orang yang dapat memberikan dukungan.
Jadi, kalau setelah liburan kamu justru merasa berat untuk kembali beraktivitas, mungkin kamu bukan tidak bersyukur karena liburan telah berakhir. Bisa jadi, kamu hanya sedang membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri dengan rutinitas.
