Konten dari Pengguna

FOMO dan Keuangan Anak Muda: Ketika Gengsi Memicu Pengeluaran Berlebihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eka Putri Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suumber: Google Dokumentasi iStock
zoom-in-whitePerbesar
Suumber: Google Dokumentasi iStock

Scroll media sosial sebentar saja terkadang membuat seseorang merasa tertinggal. Ada teman yang mengunggah foto saat menonton konser, berlibur, makan di restoran mahal, atau membeli barang terbaru. Tanpa disadari, muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama agar tidak ketinggalan dari lingkungan pergaulan. Perasaan ini dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out), yaitu ketakutan akan melewatkan pengalaman menarik yang sedang dinikmati orang lain.

Bagi anak muda, FOMO bukan hanya persoalan mengikuti tren, tetapi juga dapat memengaruhi cara mengelola keuangan. Keinginan untuk mengikuti gaya hidup orang lain sering kali mendorong seseorang mengeluarkan uang tanpa mempertimbangkan kemampuannya. Akibatnya, uang bulanan cepat habis dan kebutuhan yang lebih penting justru terabaikan.

Mengenal FOMO dan Penyebabnya

FOMO merupakan perasaan cemas ketika seseorang merasa orang lain memiliki pengalaman yang lebih menyenangkan daripada dirinya. Di era digital, perasaan ini semakin mudah muncul karena media sosial menampilkan berbagai aktivitas menarik. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi kehidupan seseorang secara keseluruhan.

FOMO dapat dipicu oleh tekanan pergaulan, promosi di media sosial, dan keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Kemudahan pembayaran melalui dompet digital dan layanan paylater juga membuat seseorang lebih mudah berbelanja tanpa memikirkan dampaknya dalam jangka panjang.

Gengsi sebagai Pemicu Pengeluaran Berlebihan

FOMO sering kali berjalan beriringan dengan gengsi. Jika FOMO membuat seseorang takut tertinggal, gengsi membuatnya enggan terlihat kurang mampu di hadapan orang lain. Keduanya dapat mendorong perilaku konsumtif karena seseorang lebih mementingkan penilaian lingkungan daripada kondisi keuangannya sendiri.

Contohnya, seseorang tetap mengikuti ajakan main di kafe mahal meskipun uang bulanannya terbatas karena takut dianggap tidak mampu mengikuti pergaulan. Ada pula yang membeli gadget terbaru demi terlihat mengikuti tren, padahal gadget lamanya masih berfungsi dengan baik. Kenyataannya, kondisi keuangan setiap orang berbeda sehingga gaya hidup orang lain tidak harus selalu diikuti.

Dampak FOMO terhadap Kondisi Keuangan

FOMO dapat membuat pengeluaran semakin besar jika seseorang terus mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kemampuannya. Pengeluaran untuk main, membeli barang populer, atau mengikuti acara bersama teman dapat menumpuk hingga membuat uang bulanan cepat habis. Akibatnya, tabungan sulit bertambah, dana darurat tidak terpenuhi, bahkan seseorang berisiko terjebak utang karena menggunakan layanan paylater untuk memenuhi keinginan.

Selain itu, kondisi tersebut dapat menimbulkan kecemasan ketika uang mulai menipis menjelang akhir bulan. Kebiasaan mengutamakan gengsi juga dapat menghambat tujuan keuangan, seperti membeli perlengkapan pendidikan atau mempersiapkan kebutuhan masa depan.

Cara Mengendalikan FOMO agar Keuangan Tetap Sehat

Mengendalikan FOMO dapat dimulai dengan membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum membeli sesuatu. Membuat anggaran bulanan juga penting agar pengeluaran untuk hiburan tidak mengganggu kebutuhan utama dan tabungan. Selain itu, menunda pembelian barang yang tidak mendesak selama 24 jam dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih bijak.

Anak muda juga perlu membatasi penggunaan paylater untuk gaya hidup dan berani menolak ajakan yang tidak sesuai dengan kondisi keuangan. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti semua tren hanya agar terlihat sama dengan orang lain. Dengan mengatur pengeluaran dan memahami kemampuan diri sendiri, seseorang tetap bisa menikmati hidup tanpa mengorbankan kestabilan keuangan.

FOMO merupakan perasaan yang wajar, tetapi tidak seharusnya menjadi dasar utama dalam mengambil keputusan keuangan. Mengikuti tren dan menikmati waktu bersama teman bukanlah hal yang salah selama sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Masalah muncul ketika seseorang memaksakan diri demi gengsi hingga mengabaikan tabungan dan kebutuhan penting.

Pada akhirnya, mengelola keuangan dengan baik bukan tentang seberapa sering seseorang mengikuti tren, tetapi bagaimana ia menggunakan uang secara bijak. Sebelum mengeluarkan uang, pertimbangkan apakah hal tersebut benar-benar dibutuhkan dan sesuai dengan kemampuan. Lebih baik memiliki keuangan yang sehat daripada terlihat mampu tetapi harus menghadapi kesulitan setelahnya. Jangan sampai keinginan untuk tidak ketinggalan justru membuat kondisi keuangan berantakan.