Teman Tanpa Drama: Mengapa Gen Z Semakin Dekat dengan AI?

Saya adalah Mahasiswa dari Universitas Pamulang jurusan Ilmu Komunikasi S1
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Keisha Aurelia Dzikrilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
AI sebagai Partner Belajar dan Produktivitas Gen Z
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak lagi sekadar menjadi alat bantu untuk mencari informasi. Kehadirannya kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi Generasi Z yang tumbuh di era digital dan terbiasa dengan akses informasi yang serba cepat.
AI digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari membantu mencari referensi tugas, menjelaskan materi pembelajaran, menerjemahkan bahasa, mengembangkan ide kreatif, hingga memberikan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Seiring meningkatnya kemudahan akses terhadap teknologi ini, peran AI pun terus berkembang. Bagi sebagian Generasi Z, AI tidak hanya dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas, tetapi juga menjadi partner belajar, teman berdiskusi, tempat mencari inspirasi, bahkan ruang untuk mencurahkan perasaan.
Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya penggunaan platform seperti ChatGPT, Character AI, dan berbagai chatbot lainnya dalam kehidupan sehari-hari, yang menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan AI telah berkembang melampaui fungsi teknologi biasa.
Jika dahulu seseorang harus membuka banyak situs web untuk mencari jawaban, kini cukup mengetik satu pertanyaan dan AI akan memberikan respons dalam hitungan detik. Kemudahan inilah yang membuat AI semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.
AI Sebagai Partner Belajar Generasi Z
Salah satu alasan utama meningkatnya penggunaan AI adalah kemampuannya dalam membantu proses belajar. AI mampu menjelaskan materi dengan bahasa yang lebih sederhana, memberikan contoh, merangkum informasi, hingga membantu mengembangkan ide tulisan.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Berdasarkan survei internasional yang dikutip oleh Universitas Negeri Surabaya (UNESA), sebanyak 86 persen mahasiswa telah menggunakan AI untuk mendukung studi mereka. Dari jumlah tersebut, 24 persen menggunakannya setiap hari dan 54 persen menggunakannya setidaknya setiap minggu. Temuan lain menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif seperti ChatGPT dalam kegiatan akademik terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Tidak heran jika di media sosial sering muncul candaan bahwa pembimbing terbaik mahasiswa adalah dosen dan ChatGPT. Meskipun terdengar lucu, candaan tersebut menggambarkan kenyataan bahwa AI telah menjadi bagian dari proses belajar banyak mahasiswa.
Sebagai mahasiswa, saya juga merasakan hal yang sama. Ketika mengalami kebuntuan saat mengerjakan tugas, AI sering kali menjadi teman diskusi pertama yang membantu menemukan sudut pandang baru. Respons yang cepat dan penjelasan yang rinci membuat proses belajar terasa lebih efisien.
Bukan Hanya Belajar, AI Juga Menjadi Teman Curhat
Menariknya, hubungan manusia dengan AI kini tidak hanya bersifat akademik atau produktif. Banyak pengguna mulai memanfaatkan AI sebagai tempat berbagi cerita dan perasaan.
Menurut pakar Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Mashita Phitaloka Fandia Purwaningtyas, kondisi sosial yang serba cepat dan penuh tekanan membuat sebagian orang mengalami kesepian dan keterasingan. Dalam situasi tersebut, AI hadir sebagai alternatif hubungan yang lebih sederhana dan tanpa tuntutan. AI mampu memberikan respons yang konsisten serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan masing-masing individu.
Bagi sebagian Gen Z, AI terasa nyaman karena tidak menghakimi, tidak mudah marah, dan selalu tersedia kapan saja. Ketika seseorang merasa kesulitan menemukan ruang aman untuk bercerita, AI menjadi pilihan yang dianggap lebih mudah diakses.
Namun kenyamanan tersebut juga memunculkan pertanyaan baru. Apakah hubungan emosional dengan AI akan membuat manusia semakin menjauh dari hubungan sosial yang nyata?
Kemudahan yang Berpotensi Menjadi Ketergantungan
Di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, penggunaan AI secara berlebihan juga memiliki risiko yang perlu diperhatikan.
Masih menurut pakar UGM, kenyamanan yang diberikan AI dapat membentuk ekspektasi komunikasi yang tidak realistis. Ketika seseorang terbiasa mendapatkan validasi dari AI yang tidak pernah menolak atau menghakimi, ia dapat mulai mengharapkan pola komunikasi yang sama dari manusia lain. Padahal manusia memiliki emosi, keterbatasan, dan kompleksitas yang tidak dimiliki oleh AI.
Risiko serupa juga muncul dalam dunia pendidikan. Penelitian berjudul Artificial Intelligence Use Among Generation Z Students and Its Impact on Academic Performance and Learning Behavior menunjukkan bahwa AI memang membantu meningkatkan produktivitas dan mendukung proses belajar mahasiswa. Namun, penggunaan yang terlalu intens juga berpotensi mengurangi keterlibatan dalam proses berpikir kritis, reflektif, dan kolaboratif. Dengan kata lain, AI dapat membantu menemukan jawaban, tetapi tidak selalu membantu membangun kemampuan untuk memahami suatu persoalan secara mendalam.
Kekhawatiran tersebut sejalan dengan konsep cognitive debt atau "utang kognitif" yang mulai menjadi perhatian para akademisi. Mengutip kajian yang dipublikasikan oleh Universitas YARSI, cognitive debt merujuk pada kondisi ketika seseorang terlalu sering mengandalkan AI untuk melakukan proses berpikir, sehingga kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan refleksi menjadi kurang terlatih. Dalam jangka panjang, ketergantungan ini dikhawatirkan membuat individu lebih fokus pada hasil instan dibandingkan proses memahami suatu persoalan secara mendalam.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kemudahan tidak selalu identik dengan perkembangan. Ketika semua jawaban tersedia dalam hitungan detik, kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mempertanyakan informasi justru menjadi semakin penting.
AI Tetap Membutuhkan Manusia
Meskipun terlihat sangat canggih, AI pada dasarnya hanyalah alat bantu. Informasi yang diberikan AI berasal dari berbagai data, artikel, penelitian, buku, dan karya yang sebelumnya dibuat oleh manusia.
Karena itu, AI tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai alat yang membantu manusia bekerja lebih efektif. Sama seperti kalkulator yang membantu perhitungan atau mesin pencari yang membantu menemukan informasi, AI berfungsi untuk mendukung kemampuan manusia, bukan menggantikannya sepenuhnya.
Menggunakan AI tanpa melakukan verifikasi terhadap informasi yang diberikan justru dapat menimbulkan kesalahan baru. Oleh sebab itu, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Perkembangan AI telah mengubah cara Generasi Z belajar, bekerja, dan berinteraksi. AI menawarkan kemudahan, kecepatan, dan kenyamanan yang membuatnya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang yang menjadikannya partner belajar, teman berdiskusi, bahkan tempat untuk mencurahkan perasaan.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, manusia tetap perlu menjaga keseimbangan. AI dapat membantu menemukan jawaban, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman, empati, kreativitas, dan hubungan sosial yang dimiliki manusia. Oleh karena itu, tantangan terbesar bukanlah bagaimana menciptakan AI yang semakin pintar, melainkan bagaimana manusia tetap bijak dalam menggunakannya.
Pada akhirnya, AI seharusnya menjadi alat yang membantu manusia berkembang, bukan membuat manusia berhenti berkembang.
