kumparan
KONTEN PENGGUNA
23 Agustus 2019 16:10

Cinta Butuh Logika

Ilustrasi cinta dan matahari terbenam
Ilustrasi cinta dan matahari terbenam. Foto: Shutterstock
“Cinta itu bukan apa yang dipikirkan oleh akal tapi cinta adalah apa yang dirasakan oleh hati,” begitu bunyi kutipan tak bertuan yang bertebaran di media sosial.
ADVERTISEMENT
Dari kutipan itu tersirat, kalau sudah berbicara soal cinta, maka hatilah yang paling berperan. Tak perlu menyangkutkannya dengan logika, apalagi menggunakan akal sehat untuk berpikir.
Itu merupakan satu di antara sekelumit kata-kata bijak yang begitu populer dan digandrungi banyak orang. Tidak sulit untuk bertemu orang yang meyakini bahwa cinta itu tidak logis dan perlu menuruti perasaannya saat menjalani hubungan.
Akibatnya, tidak heran semakin banyak tindakan di luar nalar yang terjadi atas nama cinta. Setiap harinya kita tidak pernah kekurangan berita soal orang-orang yang bertahan dalam hubungan abusive. Mereka membantah segala masukan logis yang diberikan keluarga dan teman-temannya, lalu memilih 'memeluk' erat-erat segala kutipan sesat soal cinta yang hanya mengorbankan kesabaran dan semangat kobaran hati (dan jiwa!) demi cinta.
ADVERTISEMENT
Rasanya, tidak berlebihan bila kita menganggap kisah percintaan tragis dan kriminalitas dalam rumah tangga adalah konsekuensi dari kesalahpahaman masyarakat dalam mengoperasikan cinta.

Cinta Sebenarnya Bisa Dimengerti

Kelas Cinta meyakini bahwa (relasi) cinta itu adalah perkara yang logis dan bisa dijelaskan secara keilmuan, seperti sudah dibahas pada artikel sebelumnya.
Profesor Stephanie Ortigue, dalam studinya berjudul The Neuroimaging of Love, menunjukkan bahwa ketika orang jatuh cinta, 12 area di otak melepaskan hormon dopamin, testosteron dan estrogen, adrenalin, dan vasopresin yang membuatnya mengalami euforia kebahagiaan luar biasa.
Segala reaksi tubuh saat jatuh cinta seperti jantung yang berdegup kencang, perasaan tak menentu, penurunan nafsu makan, hingga selalu terbayang orang yang dia sukai berasal dari hasil kinerja otak. Segala perilaku aneh yang dialami orang jatuh cinta itu merupakan hasil gejolak hormonal dalam tubuh manusia.
ADVERTISEMENT
Cinta bukan sebuah misteri, bukan petunjuk soulmate, bukan kekuatan magis, seperti sering kali digambarkan para penyair.
0213_LoveisMagical.png

Jadi cinta (sebenarnya) adalah hasil manifestasi kinerja tubuh manusia yang bisa dipahami serta ditanggulangi secara logis. Itu sebabnya apa pun bentuk hubungan cinta (termasuk rumah tangga) pun perlu senantiasa dikelola dengan menggunakan logika, tidak bisa mengalir begitu saja sesuai perasaan.

Misalnya pada saat putus cinta atau patah hati, rasa sesak dan sakit di hati sering kali orang distribusikan sebagai bukti kehampaan jiwa. Mereka merasa sedemikian hancur kehilangan harga diri, termasuk gairah dan tujuan hidup. Dengan hati yang sedang robek menganga itu, mereka merasa lemah tak berdaya dan percuma melakukan apa-apa lagi.
Jika kita ngotot memandang semua rasa itu sebagai tanda cinta, maka kita akan melakukan hal-hal yang memperparah rasa sakit. Misalnya, kita jadi rajin stalking si mantan, sibuk menganalisa masalah, menyalahkan diri sendiri dan mengurung diri. Tidak jarang kita juga melakukan kegiatan yang menyakiti diri, seperti tidak makan, bergadang, malas kerja, dan sebagainya. Semakin hati terasa nyeri sakit, semakin kita merasa yakin bahwa diri kita telah cacat dan dunia jadi gelap.
ADVERTISEMENT
Padahal sebenarnya semua itu sebuah badai biologi di tubuh saja.
Bila pada saat itu kita pergi ke dokter atau psikolog, mereka akan memberi langkah-langkah panduan yang serupa dengan mengatasi stres: Perbaiki pola makan dan istirahat, luangkan waktu olahraga tiap hari, rajin membuka diri lewat ngobrol dengan sahabat, terlibat dalam kegiatan sosial dan hal positif lainnya, atau pun ambil liburan sejenak; psikiater mungkin akan beri anda obat untuk bantu menenangkan diri. Hal-hal tersebut, bila dilakukan sesuai panduan, akan mengurangi perasaan sakit, hancur, patah, galau yang kita pikir karena cinta itu.
‘Obat’ menghadapi kehilangan cinta sama seperti ‘obat’ untuk menghadapi stres di kantor, keluarga, atau kehidupan sehari-hari. Itu karena cinta memang manifestasi biologis, sama seperti perasaan lainnya yang perlu direspons dengan logis.
ADVERTISEMENT
Cinta itu lebih banyak logisnya daripada mistisnya.
Memandang (hubungan) cinta sebagai perkara metafisik itu menggiring kita jadi tidak realistis, enggan mengaplikasikan common sense dan akal sehat. Misalnya:
  • Seorang wanita memilih bertahan dengan suaminya yang toxic, karena berpikir kekuatan cintanya akan bisa menyadarkan pasangan.
  • Seorang pria memilih jadi kacung siaga serta donatur finansial demi mendekati dan membuat wanita idamannya jatuh cinta.
  • Sepasang suami-istri memilih menutupi berbagai masalah dan ketidakpuasan, agar tidak terjadi konflik yang berisiko mematikan cinta mereka.
Itu hanya secuil dari sekian banyak kesalahan orang yang membiarkan dirinya disetir oleh mabuk cinta. Itulah yang membangkitkan fenomena bucin, alias budak cinta.

Pentingnya Pengetahuan dan Logika dalam Romansa

“Tapi kalau sebenarnya cinta itu logis, kenapa kita biasanya jadi lumpuh dan bodoh saat jatuh cinta? Bukankah itu bukti bahwa cinta seharusnya tidak logis?” beberapa di antara anda mungkin bertanya-tanya begitu.
ADVERTISEMENT
Salah satu jawabannya ada pada dopamin. Lonjakan dopamin saat jatuh cinta mengaktifkan sirkuit reward, yang menjadikan proses jatuh cinta terasa sangat menyenangkan, mirip seperti euforia yang dirasakan para pecandu kokain atau alkohol. Itulah sebabnya orang yang sedang jatuh cinta biasa disebut juga sedang dimabuk cinta. Faktanya, mereka memang benar-benar sedang 'mabuk'.
Kalau ditelaah, cinta seolah harus berjalan di luar tatanan logika. Saat berurusan dengan cinta, seolah kita tidak perlu melibatkan kecerdasan dan pikiran kritis. “Kejarlah terus hingga dapat, korbankan seluruh tubuh dan jiwa, jadilah bucin sejati!” mungkin begitu yell-yell radikal para pejuang cinta.
Tapi ternyata kondisi memabukkan itu hanya terjadi di awal saja.
Bisa dibilang, itu semacam konspirasi sel-sel tubuh yang berusaha menjorokkan diri kita untuk segera bereproduksi. Itu sebabnya perasaan jatuh cintatidak boleh sembarang diikuti begitu saja tanpa melibatkan logika. Setelah jatuh cinta itu, anda perlu lebih banyak memaksakan diri menciptakan cinta di sepanjang hubungan, karena tubuh anda tidak otomatis menciptakannya lagi.
ADVERTISEMENT
Kalau anda penasaran kenapa tubuh kita rese begitu, silakan klik tweet Coach Lex dePraxis ini untuk baca thread-nya.
Dr. Fred Nour, seorang neurologis dari California sekaligus penulis buku True Love: How Science to Understand Love, menyebut fase setelah jatuh cinta adalah evaluasi. Di fase ini anda mulai bisa melihat kenyataan dan wajib menggunakan akal sehat untuk bercinta. Anda perlu menilai apakah hubungan itu sehat atau tidak, apakah kalian cocok atau tidak. Anda dan pasangan perlu berhenti mengikuti perasaan dan mulai aktif melibatkan otak demi kelangsungan hubungan.
Berbekal pengetahuan di atas, kita kini tahu kegilaan yang menyertai momen jatuh cinta itu adalah akibat gejolak hormon dan neurochemical yang sangat kuat. Untuk menghindari kegilaan (yang berisiko merusak produktivitas atau pun menjerumuskan kita pada orang yang salah) itu, anda perlu mengimplementasikan 'PDKT (pendekatan) multigebetan'.
ADVERTISEMENT
Strategi tersebut bisa menghindarkan dari ‘cinta prematur’ akibat ekspektasi sendiri dan terlalu banyak investasi. Skema ini juga berguna untuk menjaga otak tetap objektif dan logis memilih orang yang terbaik, bukannya orang yang tersedia.
Setelah berada dalam hubungan, anda makin perlu mendasari segala keputusan berdasarkan logika. Semakin serius sebuah hubungan, semakin anda tidak membangunnya di atas perasaan.
Sama seperti ketika anda wajib makan pada jam makan, terlepas dari merasa lapar atau tidak. Anda wajib tidur setidaknya tujuh jam setiap malam, terlepas merasa ngantuk atau tidak. Anda wajib mandi dan gosok gigi setiap hari, terlepas dari merasa badan anda bau atau tidak.
Ada alasan-alasan logis yang mendasari setiap perilaku hidup sehari-hari itu, demikian juga setiap perilaku dalam pacaran dan rumah tangga, perlu bisa dipertanggungjawabkan secara logis. Otak adalah sosok penyelamat yang paling bisa melindungi hubungan dari kecelakaan, bahkan menyelamatkan anda dari hubungan yang toxic dan abusive.
Untitled Image
Francis Bacon, seorang pencetus pemikiran empirisme yang mendasari sains hingga saat ini, pernah berkata “Critical thinking is a desire to seek, patience to doubt, fondness to meditate, slowness to assert, readiness to consider, carefulness to dispose and set in order; and hatred for every kind of imposture.
ADVERTISEMENT
Di era modern yang diwarnai dengan sebegitu banyak kisah perceraian, kekerasan, dan kehancuran rumah tangga, rasanya ceroboh dan angkuh sekali jika kita tidak mau melibatkan lebih banyak critical thinking dalam kehidupan percintaan.

Tidak hanya itu, menolak atau menutup mata pada sisi logis percintaan juga seperti tidak menghargai otak yang sudah dikaruniai oleh Tuhan.

Untuk apa anda diberikan kecerdasan berpikir bila semua itu diabaikan demi bisa menyesatkan diri dengan kutipan picisan yang tidak masuk akal?
Referensi:
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan