Konten dari Pengguna

Manajemen Risiko Machu Picchu: Menjaga Keajaiban Dunia dari Ancaman Wisata

Kemal Ramadhan

Kemal Ramadhan

Mahasiswa Universitas Indonesia - Manajemen Bisnis Pariwisata

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kemal Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Machu Picchu, salah satu keajaiban dunia yang terletak di Peru, menghadapi berbagai tantangan dalam upaya pelestariannya akibat tingginya minat wisatawan. Manajemen risiko yang efektif menjadi krusial untuk menjaga kelestarian situs bersejarah ini bagi generasi mendatang.

Machu Picchu, Peru (Photo by Chelsea Cook: https://www.pexels.com/photo/photo-of-machu-picchu-2929906/)
zoom-in-whitePerbesar
Machu Picchu, Peru (Photo by Chelsea Cook: https://www.pexels.com/photo/photo-of-machu-picchu-2929906/)

Ancaman terhadap Machu Picchu

Lonjakan jumlah pengunjung telah menimbulkan berbagai risiko bagi Machu Picchu. Pada tahun 2013, jumlah wisatawan mencapai 1,2 juta orang, meningkat 700 persen dibandingkan awal 1980-an. Peningkatan ini menyebabkan degradasi lingkungan, seperti erosi tanah dan vegetasi di sepanjang Jalur Inca, yang berkontribusi pada terjadinya longsor pada tahun 2010 dan 2017. Selain itu, komunitas lokal seperti Aguas Calientes menjadi sangat bergantung pada industri pariwisata, yang menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan ekonomi mereka.

Upaya Manajemen Risiko

Untuk mengatasi tantangan tersebut, berbagai langkah telah diambil:​

  1. Pembatasan Jumlah Pengunjung: Pemerintah Peru dan UNESCO sepakat membatasi jumlah pengunjung harian hingga 2.500 orang untuk mengurangi dampak negatif terhadap situs.

  2. Peningkatan Keamanan: Langkah-langkah keamanan ditingkatkan untuk melindungi situs dari ancaman seperti kebakaran hutan, erosi, dan aktivitas ilegal. Sistem pemantauan dan patroli rutin diterapkan untuk memastikan keselamatan pengunjung dan integritas situs.

  3. Pariwisata Bertanggung Jawab: Operator tur mendorong praktik pariwisata yang berkelanjutan, termasuk memastikan porter mendapatkan upah layak dan beban kerja yang manusiawi. Beberapa operator bahkan mengatur tur bagi porter untuk mengunjungi Machu Picchu, memberikan mereka apresiasi langsung terhadap situs yang mereka bantu pertahankan.

Longsor di Machu Picchu, Peru (Photo by Abdul Kayum: https://www.pexels.com/photo/stunning-view-of-annapurna-range-in-nepal-28554320/)

Pentingnya Kesadaran Wisatawan

Wisatawan memiliki peran penting dalam pelestarian Machu Picchu. Mematuhi peraturan, menghormati budaya lokal, dan mendukung praktik pariwisata berkelanjutan adalah langkah-langkah yang dapat diambil setiap individu untuk memastikan situs ini tetap terjaga.

Melalui kombinasi kebijakan pemerintah, inisiatif lokal, dan partisipasi aktif wisatawan, diharapkan Machu Picchu dapat terus menjadi destinasi yang memukau tanpa mengorbankan warisan budayanya.

Referensi

  1. Ticket Machu Picchu. (n.d.). Is Machu Picchu in danger according to UNESCO? Ticket Machu Picchu. Retrieved March 26, 2025, from https://www.ticketmachupicchu.com/machu-picchu-danger-according-unesco/

  2. ASIS International. (2020, November). Securing the lost city of Machu Picchu. Security Management Magazine. Retrieved March 26, 2025, from https://www.asisonline.org/security-management-magazine/articles/2020/11/securing-the-lost-city-of-machu-picchu/

  3. Responsible Travel. (n.d.). Machu Picchu responsible tourism guide. Responsible Travel. Retrieved March 26, 2025, from https://www.responsibletravel.com/holidays/machu-picchu/travel-guide/responsible-tourism

  4. Spizzichino, D., Margottini, C., & Puzzilli, L. M. (2013). Landslide risk assessment and management in the archaeological site of Machu Picchu (Peru). Proceedings of the Geotechnical Engineering for the Preservation of Monuments and Historic Sites; Bilotta, E., Flora, A., Lirer, S., Viggiani, C., Eds, 697-707.

  5. Larson, L. R., & Poudyal, N. C. (2012). Developing sustainable tourism through adaptive resource management: A case study of Machu Picchu, Peru. Journal of sustainable tourism, 20(7), 917-938.