Belajar di Taman Baca Saat Pandemi ala Anak Suku Bajo

Jam ditangan menunjukkan pukul 09.00 Wita, hujan deras yang sedari pagi mengguyur Desa Labuan Bajo, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Minggu (12/7), kini mulai reda.
Puluhan anak-anak tampak berlarian dengan riang menuju bangunan yang berdindingkan papan dan beratapkan seng. Anak-anak yang didominasi oleh siswa sekolah dasar di desa setempat, lantas berbondong-bondong memasuki halaman bangunan tersebut.
"Assalamualaikum kakak Jeck," kata salah seorang anak yang diikuti oleh sekitar 29 anak lainnya.
Tak berselang lama, sesosok pria yang dimaksud anak-anak tersebut keluar sambil menjawab salam. "Waalaikumsalam. Ayo masuk belajar tapi cuci tangan dulu, baru atur jaraknya," kata pria itu.
Usai mencuci tangan, satu persatu anak mulai memasuki ruangan berukuran 8x4 meter itu. Tampak jarak antara satu dengan yang lainya diatur agar tak berdekatan saat belajar.
Seperti itulah keseharian Jeck Akbar, seorang penggagas Taman Baca di desa setempat. Pria yang akrab disapa Jeck ini rutin mendidik anak-anak Bajo di kampung halamannya. Terlebih saat peraturan pemerintah yang mengharuskan anak-anak belajar dari rumah saat pandemi COVID-19.
Wilayah yang diketahui kebanyakan didiami oleh Suku Bajo itu, dapat dikata belum mampu beradaptasi dengan baik menggunakan metode pembelajaran jarak jauh (daring). Kendalanya, teknologi yang belum diserap rata oleh seluruh penduduk.
"Kalau untuk belajar daring di kampung ini agak sulit, kita tahu sendiri tidak setiap orang disini mempunyai teknologi tersebut, lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak mampu," kata dia.
Tak ingin anak-anak di daerahnya harus menikmati masa pandemi tanpa proses belajar-mengajar, Jeck nampak tetap melaksanakan kegiatan mengajar dengan cara mematuhi protokol COVID-19.
Ia mengungkapkan, setidaknya inilah hal mulia yang bisa dilakukan untuk kemajuan pendidikan Anak-anak Bajo di kampung halamannya.
"Walaupun dimasa pandemi bukan berarti proses belajar bagi anak-anak itu harus berhenti," jawabnya singkat saat ditanyai perihal alasannya tetap membuka Taman Baca Ceria Bangsaku.
Sehari-harinya, sebelum berangkat bekerja sebagai asisten Koki di PT Ceria Nugraha Indotama, Jeck menyempatkan diri untuk mengajar dan memberi arahan kepada para anak-anak untuk giat belajar.
"Kalau saya sementara sibuk bekerja, pagi-pagi saya sempatkan mengajar sedikit dulu baru saya alihkan ke pengajar relawan lainnya," katanya.
Rutinitas itu hampir setiap hari dilakukan oleh sarjana lulusan bahasa Inggris ini. Namun, setelah pandemi mewabah kegiatan pun mulai ia batasi hingga 3 kali pertemuan per minggunya.
Saat memantau proses belajar, kami pun coba menghampiri salah seorang bocah perempuan suku bajau, yang terlihat begitu antusias membaca.
Iva (8) salah seorang anak perempuan Suku Bajo mengaku sangat senang dengan tetap aktifnya taman baca disaat pandemi. Ia menjelaskan selama pandemi dirinya yang sehari-hari hanya membantu orang tua mempersiapkan hasil panen laut, merasa sangat bosan dengan tidak aktif ke sekolah.
"Tidak ada saya bikin selama libur, hanya bantu orang tua saja. tapi karena ada kakak Jeck panggil belajar jadi saya senang," ujarnya.
Selama pandemi, Iva merupakan siswa sekolah dasar yang agak kesulitan dengan metode pembelajaran daring. Hal itu dikarenakan teknologi dan perlengkapan untuk mengikuti prosedur tersebut tidak ia miliki seperti HP atau laptop.
***
Geraldy Rakasiwi
