Kumparan Logo
Konten Media Partner

Inspiratif, Pemuda Bajau Asal Kolaka Bangun Taman Baca Pakai Uang Pribadi

kendarinesiaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jeck sedang mengajarkan anak-anak di taman baca miliknya. Foto: Dok taman baca masyarakat ceria bangsaku untuk kendarinesia.
zoom-in-whitePerbesar
Jeck sedang mengajarkan anak-anak di taman baca miliknya. Foto: Dok taman baca masyarakat ceria bangsaku untuk kendarinesia.

"Saya bukan orang kaya tapi niatku untuk mencerdaskan anak-anak dikampungku. Saya buka taman baca ini pakai gajiku yang saya kumpul selama 3 bulan,"

Kata itulah yang pertama kali terlontar dari mulut Jeck Akbar, pria berdarah suku Bajau, asal Kabupaten Kolaka saat jurnalis kendarinesia coba berbincang tentang taman baca yang dia bangun.

Sudah setahun lebih pria kelahiran Kolaka ini membangun taman baca di desa tempat tinggalnya di Dusun III Labuan Bajo, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka.

Dengan segala keterbatan yang ia miliki, tidak sama sekali menyurutkan niat mulianya untuk mencerdaskan anak-anak di kampungnya.

Pria yang akrab disapa Jeck ini bercerita, awal mula merintis rumah baca hanya menggunakan uang pribadi dari upah pekerjaannya di salah satu perusahaan pertambangan di Kabupaten Kolaka.

Apa yang dilakukan Jeck tidak hanya sekedar mencerdaskan anak-anak di kampungnya, namun juga ingin memutus stigma di masyarakat bahwa anak Bajau pasti akan selalu menjadi seorang pelaut mengikuti jejak nenek moyangnya.

"Apa yang susah payah saya peroleh semasa menempuh pendidikan akan saya amalkan untuk anak-anak lainnya. Semua sudah saya lalui, baik ketika ibu saya selaku orang tua tunggal bekerja mencari hasil laut untuk menghidupi keempat anaknya, hingga susah payah saya untuk melanjutkan pendidikan sarjana," cerita Jeck.

Puluhan anak sedang belajar di taman baca masyarakat ceria bangsaku yang terletak di Desa Labuan Bajo. Foto: Dok taman baca masyarakat ceria bangsaku untuk kendarinesia.

Karena itu dengan niatan yang kuat ia tidak ingin anak-anak lain di desanya mengikuti langkahnya untuk bisa mengenyam pendidikan yang layak sejak dini tanpa harus memikirkan biaya pendidikan yang kian hari semakin mahal.

"Tak apalah, setidaknya itu bisa menjadi bekal mereka untuk terlepas dari yang namanya kebodohan," imbuhnya.

Sebenarnya "Taman Baca Masyarakat Ceria Bangsaku" yang dibangun Jeck sudah lama digagasnya dengan mengajak kawan-kawan di kampusnya. Akan tetapi lagi-lagi perjuangannya saat itu selalu terbentur pada pendanaan taman bacanya.

Terlebih lagi saat itu Jeck masih belum memiliki pekerjaan pendidikannya pun masih mengandalkan kerja - kerja serabutan yang dilakoninya untuk dapat terus bersekolah hingga menjadi seorang sarjana.

Keinginannya membangun taman baca hampir saja sirna. Namun tak butuh waktu lama Jeck mendapatkan pekerjaan, gaji yang ia kumpulkan berhasil menjadi modal awal baginya untuk membangun taman baca.

Memang dirinya sempat bimbang antara melanjutkan membangun taman baca atau untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ternyata dorongan itu datang dari sang ibunda yang semakin memantapkan Jack untuk membangun taman baca ceria bangsaku di desanya.

Dengan bermodalkan uang Rp 5 juta yang ia kumpulkan dari gajinya bekerja di perusahaan pertambangan di Kolaka, Jeck pun menyewa tanah berukuran 4x3 yang tidak jauh dari rumahnya untuk membangun taman baca.

Jeck menerima donasi bantuan buku dari masyarakat. Foto: Dok taman baca masyarakat ceria bangsaku untuk kendarinesia.

Setelah itu mulailah dia mengumpulkan segala macam kebutuhan taman baca miliknya secara sukarela dari orang-orang. Bahkan ia harus mendatangi seluruh sekolah-sekolah di Kabupaten Kolaka untuk mensosialisasikan dan meminta donasi buku-buku bekas.

Taman Baca Masyarakat Ceria Bangsaku yang digagasnya pun berhasil menarik minat anak-anak. Bahkan hingga kini anak-anak dari desa tetangga pun mulai tertarik untuk menambah ilmu.

Tiap harinya berbagai macam kegiatan mulai dari baca tulis, mengaji, dan kursus Bahasa Inggris diterapkannya untuk seluruh anak-anak didiknya.

"Saya harap kedepannya saya bisa membuka cabang juga didaerah-daerah lain. Karena anak-anak adalah masa depan bangsa kita, kendala saat ini tentunya masih terkait masalah biaya untuk sewa lahan tempat dan koleksi buku-buku yang belum bervariatif," ujar pria kelahiran 1994 itu.

Ia pun berharap semakin banyak masyarakat selain dirinya di luar sana yang juga turut mencerdaskan anak-anak sebagai tongkat estafet penerus pperjuangan bangsa dimasa yang akan datang.

***

Geraldy Rakasiwi