Kumparan Logo
Konten Media Partner

Menelusuri Goa Tapparang di Kolaka Utara, Sultra

kendarinesiaverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nampak stalakmit menjulang di Gua Tappareng, di Desa Rante Baru, Kecamatan Rante, Kolaka Utara, Sultra. Foto: Lukman Budianto/kendarinesia.
zoom-in-whitePerbesar
Nampak stalakmit menjulang di Gua Tappareng, di Desa Rante Baru, Kecamatan Rante, Kolaka Utara, Sultra. Foto: Lukman Budianto/kendarinesia.

Goa Tappareng terletak di Desa Rante Baru, Kecamatan Rante Angin, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra). Untuk menuju tempat ini dari Lasusua, Ibu Kota Kabupaten Kolaka Utara, pengunjung harus menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit.

Goa Tappareng lokasinya berada di atas bukit. Jaraknya sekitar 200 hingga 300 meter dari jalan trans Sulawesi di Desa Rante Baru.

Jalur yang dilalui merupakan jalan setapak. Perjalanan di perbukitan hanya bisa diakses dengan jalan kaki.

Setelah mendaki, pengunjung harus kembali melewati jalan menukik untuk sampai ke mulut goa. Di dalam Goa Tappareng, ada telaga yang airnya jernih dengan kedalaman mencapai 1 sampai 10 meter.

Saking jernihnya, batu yang ada di dasar telaga tampak jelas.

Batu Tahiat

Air di telaga sangat dingin. Suara bising kelelawar di dalam goa menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung. Selain keberadaan telaga, di dalam goa juga ada batu yang menyerupai manusia yang sedang bertahiat menghadap ke arah kiblat.

Batu Tahiat yang ada di dalam goa terbungkus kain putih dan sarung. Foto: Lukman Budianto/kendarinesia.

Kata warga desa, batu itu terbentuk secara alami. Kondisi batu itu sekarang sudah terbungkus kain putih dan sarung. Kata warga desa, Mualim, dulunya batu itu betul-betul mirip orang yang sedang bertahiat.

“Mirip memang. Dulu itu ada seperti tangan. Ada juga jarinya yang seperti menunjuk. Ya kaya orang tahiat begitu. Tapi ada orang yang potong baru dia ambil,” cerita Mualim.

Jadi untuk mengamankan batu yang dipercayai keramat oleh sebagian warga itu, batu tersebut dibungkus kain. “Itu biar aman saja,” ujar Mualim.

Butuh Perhatian Pemerintah

Sebenarnya, Goa Tappareng bisa dijadikan sebagai objek wisata unggulan di Kolaka Utara, maupun Sulawesi Tenggara. Hanya saja, Keberadaan gua ini benar-benar belum tersentuh pemerintah setempat.

Nampak air yang begitu jernih di Goa Tappareng, di Desa Rante Baru, Kecamatan Rante, Kolaka Utara, Sultra. Foto: Lukman Budianto/kendarinesia.

Jalan ke atas bukit menuju goa sangat berbahaya bagi pengunjung. Ditambah lagi, jalan menukik di depan mulut goa.

Beruntung pemuda di desa tersebut berinisiatif membuat lubang-lubang kecil sebagai penyanggah kaki agar pengunjung tidak terpeleset saat masuk ke dalam goa.

Muhammad Tahir, Ketua Lembaga Peduli Alam Lingkungan Ekosistem (L-Palem) mengatakan, pemuda di Desa Rante Baru siap bekerja sama dengan pemerintah untuk memajukan wisata alam itu.

“Itu sudah keinginan kita. Memang andaikan ini dikelola dengan baik, pasti akan lebih bagus. Apalagi masyarakat disini mendukung itu,” tutur Muhammad Tahir.

Nampak air di Goa Tappareng, di Desa Rante Baru, Kecamatan Rante, Kolaka Utara, Sultra. Foto: Lukman Budianto/kendarinesia.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Bhabin Kamtibmas Desa Rante Baru, Rante Angin, Bripka Hardi Kamsi. Selama bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di wilayah tersebut, Hardi menyaksikan bagaimana antusias pemuda di desa itu berusaha memajukan desanya lewat wisata.

“Pemuda disini bagus. Mereka juga sering terlibat dalam menjaga kamtibmas di desa ini,” ujar Hardi Kamsi.

Polisi yang bertugas di Polsek Rante Angin ini juga menjamin keamanan bagi setiap wisatawan yang akan berkunjung ke Goa Tapparang.

“Itu tugas kami untuk menjamin situasi kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat),” jelas Hardi.

kumparan post embed