Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kepri Ekspor Santan dan Madu Liar, ke Asia dan Eropa

kepripediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Madu yang di ekspor ke Malaysia. Foto: Dok. BKP Tanjungpinang.
zoom-in-whitePerbesar
Madu yang di ekspor ke Malaysia. Foto: Dok. BKP Tanjungpinang.

Memiliki pangsa pasar yang cukup baik di luar negeri, santan dan madu liar dari Provinsi Kepulauan Riau menjadi salah satu komoditi yang di ekspor ke luar negeri.

Untuk madu liar, cukup banyak diminati oleh warga negara tetangga, Malaysia.

Dokter hewan karantina BKP Tanjungpinang, drh. Dainurritus menyebutkan awal Februari 2020, sebanyak 150 kilogram madu dalam kemasan botol telah diperiksa untuk di ekspor.

Madu yang bernilai sekitar Rp 15 juta ini berasal dari lebah hutan liar disekitaran Kepulauan Riau.

"Madu diperiksa secara organoleptik dengan tujuan untuk memastikan bau, warna dan teksturnya. Setelah sesuai diterbitkanlah sertifikat sanitasi," terang Dainurritus.

Madu liar tersebut diekspor melalui transportasi laut dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang menuju Pelabuhan Tanah Merah, Malaysia.

Selain madu, pada akhir Januari 2020 lalu, untuk pertama kalinya santan kelapa asal Bintan, Kepri juga di ekspor ke Jerman.

PT Bionesia Organic Foods yang merupakan perusahaan pertama di Bintan yang mengolah kelapa menjadi beberapa turunan ini mengekspor Bio Kokosmilch atau santan kelapa organik sebanyak 14.000 karton atau 33.600 Kg.

Total nilai ekspor santan ke Jerman ini mencapai Rp 630 juta.

Executive Shipper PT. Bionesia, Yovita menjelaskan bahwa, ekspor 33,6 ton kokosmilch ini adalah santan yang biasa digunakan untuk memasak atau keperluan santan lainnya.

"Jenis yang encer dapat juga untuk diminum langsung," paparnya.

Bahan baku pembuatan kokosmilch adalah buah kelapa yang sudah tua, yang dibeli dari kebun kelapa milik petani yang ada di Provinsi Kepri dan sekitarnya.

Kehadiran perusahaan pengolahan kelapa ini merupakan angin segar bagi petani di Kepri, Karena kelapa tua dapat dijual ke Bionesia. Dengan syarat asalkan kebun dikelola dengan baik dan bebas pestisida dengan ambang batas tertentu, sehingga bisa lulus uji organik.

Kemasan Bio Kokosmilch yang di ekspor. Foto: Dok BKP Tanjungpinang

Sebelumnya, petugas Karantina, Ilham Mustafa pada saat proses ekspot menyatakan, pihak Kementerian Pertanian sangat mendukung industri pengolahan komoditas pertanian seperti itu.

Yakni barang ekspor bukan lagi bahan baku, melainkan produk yang sudah siap dikonsumsi sehingga memberi nilai lebih bagi komoditas kelapa itu sendiri, sekaligus mampu menyerap lapangan pekerjaan dan hasil pertanian.

"Karantina siap memberi pelayanan terbaik untuk ketersediaan bahan baku bagi perusahaan dan mengawal ekspor berjalan dengan lancar," ungkapnya.

Sesuai amanah UU No. 21 tahun 2019, PT. Bionesia telah melaporkan setiap pemasukan bahan baku berupa kelapa bulat dan kegiatan ekspor produk olahannya kepada Petugas Karantina Tanjungpinang Wilayah Kerja Tanjung Uban.