Kumparan Logo

Astronaut Bisa Kena Sembelit di Luar Angkasa, Sistem Pencernaan Kacau Balau

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Astronaut Serena Auñón-Chancellor memperlihatkan toilet di ISS. Foto: NASA.
zoom-in-whitePerbesar
Astronaut Serena Auñón-Chancellor memperlihatkan toilet di ISS. Foto: NASA.

Selama puluhan tahun, astronaut dan kosmonaut punya masalah yang jarang diketahui banyak orang: Sistem pencernaan mereka berantakan begitu berada di kondisi minim gravitasi. Di atas sana, mereka kerap mengalami 'sendawa basah' sampai sembelit. Kondisi ini ternyata umum terjadi selama misi luar angkasa.

Bakteri di usus astronaut berubah cara kerjanya begitu tubuh mereka lepas dari tarikan gravitasi Bumi. Temuan ini merupakan hasil riset kolaborasi antara NASA dan University of Copenhagen.

Masalahnya Bukan di Makanannya

Dulu, sebelum manusia pertama kali terbang ke luar angkasa, banyak orang mengira tantangan terbesar astronaut di sana soal makan. Ada dugaan astronaut bakal kesulitan menelan makanan tanpa bantuan gravitasi.

Dugaan itu terbantahkan pada Agustus 1961, ketika kosmonaut Soviet Gherman Titov menjadi manusia pertama yang makan di luar angkasa. Beberapa bulan berselang, astronaut AS John Glenn menyusul dengan menyantap saus apel dalam misi Mercury pada Februari 1962.

Sejak itu terbukti, otot kerongkongan tetap bisa mendorong makanan turun ke lambung meski tanpa gravitasi. Bahkan, awak stasiun luar angkasa kini sudah pernah menggelar barbeku di orbit. Masalahnya baru muncul setelah makanan itu sampai ke lambung dan harus diproses lebih lanjut oleh sistem pencernaan.

Cairan Tubuh Naik Bikinsus Malas Bekerja

Astronaut minum kopi di luar angkasa. Foto: Dok. NASA

Di lingkungan gravitasi mikro, cairan dalam tubuh cenderung bergeser dan berkumpul ke arah atas. Isi lambung jadi mengambang bebas, sementara usus tidak lagi tersusun serapat biasanya. Akibatnya, tubuh benar-benar mengandalkan gerakan peristaltik untuk mendorong makanan sepanjang saluran cerna tanpa bantuan gravitasi sama sekali.

Kondisi inilah yang membuat astronaut mengalami sendawa basah, serta proses pencernaan yang jauh lebih lambat dibanding di Bumi.

Dalam riset terbaru, tim peneliti menganalisis sampel darah dari 52 astronaut untuk melihat perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan mereka. Hasilnya, perubahan signifikan pada saluran cerna mulai terdeteksi hanya beberapa minggu setelah astronaut tiba di lingkungan gravitasi mikro.

Giorgia La Barbera, salah satu peneliti utama sekaligus associate professor di Departemen Nutrisi, Olahraga, dan Sains Keolahragaan University of Copenhagen, menjelaskan bahwa sampel darah astronaut menunjukkan bakteri usus mulai memfermentasi protein lebih intens dari biasanya, dan kondisi ini bertahan selama mereka berada di luar angkasa.

Di Bumi, fermentasi protein oleh bakteri usus terjadi setelah asupan serat makanan habis dicerna. Tapi, di luar angkasa, fenomena ini tampaknya jauh lebih sering muncul.

Henrik Roager (rekan peneliti La Barbera) menduga minimnya gravitasi membuat makanan bergerak lebih lambat di sepanjang usus, sejalan dengan tanda-tanda peningkatan fermentasi protein yang mereka temukan. Kondisi ini pula yang diduga kuat menjadi penyebab sembelit pada astronaut.

Risiko Jangka Panjang

Sembelit selama misi luar angkasa memang mengganggu, tapi para peneliti lebih mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari fermentasi protein berlebih ini. Prosesnya diduga bisa memengaruhi konsentrasi, suasana hati, hingga berpotensi merusak ginjal kalau berlangsung terlalu lama.

Risiko ini jadi perhatian serius untuk misi luar angkasa jarak jauh, termasuk rencana mengirim manusia ke Mars, di mana astronaut akan menghabiskan waktu jauh lebih lama dalam kondisi gravitasi mikro dibanding di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Toilet yang dikirim ke Stasiun Luar Angkasa (ISS). Foto: YouTube/ESA

Selain soal pencernaan, urusan buang air di luar angkasa juga punya cerita tersendiri. Dalam podcast resmi NASA, "Houston We Have a Podcast", instruktur crew systems Elisca Hicks dan Mike Berrill menjelaskan, astronaut juga dilatih untuk menggunakan toilet di ISS.

Kenapa perlu latihan? Tanpa gravitasi, kotoran dan urine tidak akan "jatuh" begitu saja seperti di Bumi. Karena itu, toilet di ISS mengandalkan aliran udara sebagai pengganti gravitasi untuk menarik limbah menjauh dari tubuh astronaut.

Sistemnya pun terpisah: urine disedot lewat semacam selang khusus menuju sistem daur ulang air (ECLSS), sementara kotoran padat dikumpulkan dalam kantong khusus di dalam wadah kedap udara agar baunya tidak menyebar ke seluruh modul.

Toilet ISS punya drum berputar yang memisahkan cairan dari udara, sehingga air bisa disaring dan diproses ulang menjadi air minum. Bukan cuma soal sistem, astronaut juga perlu belajar teknik memposisikan tubuh dengan tepat karena hanya mengandalkan dua tangan untuk menstabilkan diri sekaligus membidik lubang kloset dengan akurat.

Astronaut baru biasanya baru benar-benar menguasai teknik ini setelah benar-benar berada di gravitasi mikro, meski sudah berlatih menggunakan simulator di Bumi. Sejumlah kru bahkan mengaku lebih nyaman melepas seluruh pakaian bawah mereka saat pertama kali mencoba, demi menghindari "kecelakaan" di percobaan awal.