Konten dari Pengguna

Jalan Sutera Modern dan Kebangkitan Ekonomi China-Asia

KH Anwar Abbas

KH Anwar Abbasverified-green

Wakil Ketua Umum MUI, Ketua PP Muhammadiyah

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KH Anwar Abbas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jiangsu, China, Minggu (18/5/2025). Foto: Stringer/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jiangsu, China, Minggu (18/5/2025). Foto: Stringer/AFP

Jalur Sutera (Silk Road) adalah jaringan rute perdagangan kuno yang terbentang ribuan miles menghubungkan wilayah Timur dan Barat, khususnya Tiongkok dan Eropa. Jalur ini tidak hanya sekadar jalur distribusi kain sutera, tapi lebih dari itu.

Sebab jalur ini pada masanya, telah menjadi sarana penting bagi terjadinya pertukaran rempah-rempah, teknologi, agama, dan kebudayaan antar peradaban-peradaban besar dunia. Rute perdagangan ini sengaja dihidupkan kembali untuk mengingatkan dunia akan kearifan dunia timur yang ingin berbagi dengan sesama untuk menebarkan kemakmuran.

Bersama Prof. Sudarnoto Ketua Bidang Luar Negeri MUI dan anggota delegasi dari negara-negara lain berkunjung ke Urumqi International Land Port Area di Propinsi Xinjiang China.

Untuk itu China telah membangun Urumqi International Land Port Area (ILPA) di atas tanah seluas 67 km persegi, yang akan dijadikan sebagai gerbang utama jalur sutera ekonomi modern--karena tempat ini akan merupakan pusat logistik dan perdagangan darat berskala masif yang akan menghubungkan Asia dan Eropa. Di lokasi yang cukup luas ini, akan digabungkan berbagai moda transportasi bagi terciptanya konektivitas yang efektif dan efisien antara darat dan kereta api.

Jadi land port ini akan menjadi pusat kereta barang (China-Europe express) menuju ke Asia Tengah, dan Eropa. Di lokasi ini akan berlaku one stop service atau pelayanan satu atap sehingga akan memangkas waktu tunggu pengiriman barang antara China dan negara-negara mitranya. Hal ini tentu saja akan memiliki dampak ekonomi yang cukup besar dan luar biasa, karena dia akan menghubungkan China secara langsung dan cepat dengan negara-negara di Asia Tengah, Rusia, dan Eropa--sehingga akan membuat Urumqi ibu kota Xinjiang menjadi pusat perekonomian baru di wilayah barat China.

Hal ini tentu juga akan berdampak positif terhadap kehidupan ekonomi dari negara-negara tetangganya di Asia tengah dan Selatan, sehingga pada waktunya ekonomi di negara-negara tersebut akan menggeliat. Ketika itu terjadi, maka pusat kemajuan dan peradaban dunia tentu akan bergeser dari Eropa dan Amerika, ke Asia di mana China akan menjadi lokomotifnya.