Peran Hobi dan Teman Dalam Mengurangi Rasa Kesepian: Tinjauan dari Biopsikologi

Saya merupakan seorang mahasiswi psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nadia Khairany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak mahasiswa baru, terutama saya, merasa kesepian pada awal perkuliahan. Kesepian ini sendiri disebabkan oleh adaptasi dari lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA) ke Perguruan Tinggi (kuliah), juga karena otak kita memproses rasa asing yang ditimbulkan karena belum memiliki lingkungan sosial yang kuat. Oleh karena itu solusi yang dapat kita lakukan untuk mencegah kesepian adalah dengan mencari teman yang sefrekuensi dan melakukan hobi. Hobi ini berbagai macam bentuk dan rupanya. Ada hobi olahraga, hobi seni, hobi musik, hobi menjadi relawan, dan lain lain. Baik mencari teman sefrekuensi maupun menekuni hobi, keduanya dapat kita lihat melalui kacamata biopsikologi. Pengaruh Neuropsychology ketika kita bertemu dengan teman sefrekuensi, dimana otak memproses sistem reward di area nukleus akumbens, yang menerima sinyal dopamin dari area tegmental vetral (VTA) di otak tengah. Sementara Psychophysiology membahas bagaimana hobi dapat memengaruhi tubuh melalui hubungan antara pikiran dan respons fisiologis.
Kesepian dari sudut pandang Neuropsychology, otak khususnya sistem reward akan lebih aktif ketika berinteraksi pada orang yang memiliki energi serupa dengan diri sendiri atau biasa disebut sefrekuensi. Ketika kita mencoba berinteraksi dan menjalin hubungan pertemanan, tapi ternyata setelah dijalankan terasa dangkal, otak tidak memberikan rasa puas. Misalnya, ketika saya mencoba ikut suatu organisasi tapi ternyata kurang nyambung, otak saya tidak memberi perasaan puas, tetapi justru terasa makin asing. Sehingga kesepian tetap bisa muncul, walau sudah berinteraksi dengan banyak orang. Tanpa koneksi seperti ini, otak tetap menafsirkan “sendirian” walau kita dikelilingi banyak orang. Apalagi di dunia perkuliahan ini saya merasa orang orang yang saya temui sangat amat berbeda dibanding orang yang saya temui di SMA. Pengalaman SMA sangat membekas dipikiran saya oleh hippocampus yang menyimpan memori memori tersebut, bahkan saya tidak merasakan kesepian sama sekali, karena teman teman saya memiliki energy yang match dengan saya. Sehingga berada di sekitar mereka tidak membuat saya lelah. Hal tersebut memotivasi saya untuk terus mencari teman yang match dengan saya di dunia perkuliahan ini, karena ada orang bilang bahwa “kalau cuman sekedar kenal mah banyak, tapi at least kita punya satu atau dua temen yang bisa diandallkan di perkuliahan.” Hingga sampai dimana masa itu datang.
Setelah saya berkenalan dengan banyak orang, terdapat satu teman yang membuat saya merasa energi saya macth dengan dia, yaitu ketika saya tau bahwa orang tersebut juga menyukai membaca buku. Hal tersebut membuat saya excited ketika berinteraksi dengan dia, karena saya tau dia akan paham dengan apa yang saya perbincangkan apalagi mengenai buku. Setiap saya berbincang dengan dia, otak saya mengaktifkan sistem reward, seperti nucleus accumbens dan prefrontal cortex. Saat kita merasa cocok dan dekat dengan teman sefrekuensi, otak melepas dopamin (hormon bahagia) dan oksitosin (hormon keterikatan/kepercayaan) yang membuat kita merasa senang, bersemangat, dan nyaman saat bersama teman yang sefrekuensi. Ketika bersama dia, saya merasa tidak perlu khawatir akan pertemanan di dunia perkuliahan. Selama menjalin pertemanan, kami juga sering melakukan hobi hobi kami secara bersama. Contohnya seperti menelurusi kuliner di daerah sekitar kampus dan sharing buku bacaan. Tentunya setelah saya menjalani itu, saya merasa tidak kesepian lagi dan berusaha untuk terus menggali pertemanan serta hobi. Sehingga, kita jadi tau bahwa disamping mencari relasi, hobi pun juga sangat berpengaruh pada perasaan kita. Melalui hobi, kita dapat mencegah kesepian. Artikel Harvard Health menyebutkan bahwa berbagai jenis hobi punya efek positif terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan. Salah satu poin yang dapat kita ambil ialah, ikut hobi membuat orang tetap terhubung secara sosial, yang membantu mengurangi rasa kesepian dan isolasi.
Dari perspektif psychophysiology, kesepian pada mahasiswa baru tidak hanya muncul sebagai perasaan, tetapi juga terlihat dari reaksi tubuh seperti detak jantung lebih cepat, gangguan tidur, atau tubuh mudah lelah. Rasa kesepian memicu stress fisiologis, karena tubuh mengeluarkan hormon kortisol secara berlebihan. Disinilah hobi berperan penting. Aktivitas hobi seperti olahraga, melukis, bermain alat musik, mendengarkan musik, atau membaca dapat menurunkan stress dengan cara menyeimbangkan kembali respon tubuh. Selain itu, hobi juga dapat mengurangi rasa kesepian, karena ketika kita melakukan suatu hobi yang membuat kita jadi sibuk, hal itu menyebabkan kita lupa akan rasa kesepian. Contoh nya ketika saya bergabung pada suatu komunitas seperti volunteer, otak melatih kerja sama tim yang mengakibatkan terjadi nya interaksi sosial. Melalui volunteer tersebut saya banyak bertemu orang dan kenalan baru, yang membuat rasa empati saya muncul. Otak mengaktifkan mirror neuron system yang membuat kita bisa merasakan emosi orang lain, oleh karena itu kita dapat mendengarkan dan memahami orang lain tanpa dibebani ketegangan. Hal tersebut yang membuat saya bahagia ketika berhasil menggunakan rasa empati secara tepat.
Selain itu saya juga merasa lebih rileks setelah bermain gitar atau ketika sedang mendengarkan musik, karena saya percaya musik dapat membawa energi emosinya tersendiri untuk kita. Irama musik dapat menurunkan tekanan darah, memperlambat detak jantung, serta mengaktifkan pelepasan dopamin dan endrofin yang memunculkan rasa bahagia. Bahkan, musik juga bisa merangsang pelepasan oksitosin, hormon yang memperkuat rasa keterhubungan, sehingga meskipun sedang sendirian, kita tetap bisa merasa ditemani. Inilah mengapa musik memberi energi positif yang mampu mengurangi rasa kesepian, sekaligus menyeimbangkan kembali respon fisiologis tubuh. Jadi, hobi bukan sekedar untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi “penawar” fisiologis yang membantu mahasiswa menghadapi kesepian di awal masa perkulihan.
sumber foto: milik saya sendiri
