Konten dari Pengguna

Asrama Haji Disulap Jadi Sentra Umrah, UMKM Siap Banjir Cuan!

Khairul Azwar

Khairul Azwar

Aparatur Sipil Negara pada Kementerian Keuangan

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khairul Azwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Asrama Haji disulap Jadi Sentra Umrah. Ilustrasi: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Asrama Haji disulap Jadi Sentra Umrah. Ilustrasi: Freepik

Selama puluhan tahun, Asrama Haji Pondok Gede di Jakarta Timur ibarat raksasa yang tertidur. Kompleks megah ini hanya benar-benar hidup dan berdenyut kencang selama sekitar tiga bulan dalam setahun, saat musim haji tiba. Selebihnya? Banyak gedung dan fasilitas yang sepi, menanti musim berikutnya datang.

Namun, sebuah rencana besar sedang digulirkan pemerintah. Mulai tahun 2026, narasi "raksasa tidur" itu akan berakhir. Kementerian Haji dan Umrah, bekerja sama dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, bersiap menyulap Asrama Haji Pondok Gede menjadi Pusat Ekonomi Umrah yang beroperasi sepanjang tahun. Bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), ini adalah sinyal terang untuk bersiap menghadapi gelombang pesanan yang masif.

Wajah Baru Asrama Haji: Dari Asrama Menjadi Hotel Berbintang

Transformasi ini bukan sekadar ganti cat tembok. Ini adalah perubahan fundamental dalam cara negara melayani tamunya. Nantinya, jemaah umrah wajib berangkat melalui asrama haji (kebijakan satu pintu). Artinya, Pondok Gede akan berfungsi layaknya bandara sekaligus hotel transit bintang lima.

Pengelolaan yang selama ini bergaya birokrasi pemerintahan akan diubah total menjadi manajemen profesional dengan standar hospitality modern di bawah BPI Danantara. Bayangkan ribuan jemaah umrah setiap minggunya datang silih berganti. Mereka tidak hanya sekadar numpang tidur, tetapi juga membutuhkan makan, minum, oleh-oleh, perlengkapan ibadah tambahan, hingga jasa laundry sebelum terbang ke Tanah Suci. Di sinilah letak peluang emasnya.

Peluang Emas UMKM di Ekosistem Ekonomi Umrah

Ketika jutaan jemaah umrah terkonsentrasi di satu titik sebelum keberangkatan, terciptalah pasar captive yang luar biasa besar. Pemerintah berkomitmen menjadikan UMKM sebagai pemain utama dalam ekosistem baru ini.

Para pengrajin kain ihram dan mukena di daerah kini punya target pasar yang jelas dan pasti di Ibu Kota. Produsen makanan ringan khas daerah bisa menaruh produknya di gerai-gerai oleh-oleh di dalam kompleks asrama. Pengusaha katering skala menengah akan mendapatkan kesempatan melayani ribuan porsi makanan setiap harinya dengan standar gizi yang ketat.

Ini bukan sekadar janji manis. Dengan perputaran manusia yang konstan sepanjang tahun, arus kas pelaku UMKM akan jauh lebih sehat dan stabil, tidak lagi bergantung pada musim haji tahunan yang pendek.

Optimalisasi Aset Negara: Pajak Anda Bekerja Lebih Keras

Di balik gemerlap peluang bisnis ini, ada strategi kebijakan fiskal cerdas yang sedang dimainkan pemerintah. Kita perlu ingat, gedung-gedung megah di Pondok Gede itu dibangun dan direvitalisasi menggunakan uang rakyat, sebagian besar melalui skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang pokok dan bunganya dibayar oleh APBNโ€”yang sumber utamanya adalah pajak kita.

Selama ini, jika aset tersebut menganggur, negara tetap harus mengeluarkan biaya pemeliharaan yang tidak sedikit. Itu adalah inefisiensi fiskal. Dengan mengubahnya menjadi Pusat Ekonomi Umrah yang produktif, aset "tidur" ini bangun dan menghasilkan pendapatan bagi negara melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Uang sewa dari vendor, pendapatan dari pengelolaan penginapan, dan jasa lainnya akan masuk kembali ke kas negara. Proyeksi Kementerian Haji dan Umrah bahkan menyebut potensi pendapatan puluhan miliar rupiah per tahun dari optimalisasi ini.

Lingkaran Kebaikan Ekonomi dan Fiskal

Kebijakan ini menciptakan efek domino yang positif. Ketika aset negara produktif menghasilkan PNBP, beban APBN untuk pemeliharaan berkurang. Di sisi lain, ketika UMKM di sekitar asrama haji tumbuh subur dan "banjir cuan", mereka akan naik kelas.

UMKM yang sehat secara finansial pada akhirnya akan menjadi pembayar pajak yang taat, baik melalui PPh Final UMKM maupun pajak daerah lainnya. Inilah lingkaran kebaikan fiskal yang diimpikan: aset negara yang dibangun dari pajak digunakan untuk menggerakkan ekonomi rakyat, yang pada akhirnya kembali memperkuat pendapatan pajak negara.

Optimisme Menatap Masa Depan Kemandirian Umat

Sebagai penulis yang mengamati kebijakan publik, saya melihat langkah ini dengan optimisme tinggi. Ini adalah bukti bahwa pemerintah mulai berpikir layaknya entrepreneur dalam mengelola aset negara, namun tetap berpihak pada ekonomi kerakyatan. Transformasi Asrama Haji Pondok Gede bukan hanya soal kenyamanan jemaah umrah, tetapi soal bagaimana negara hadir memastikan setiap jengkal aset yang dimilikinya memberikan manfaat ekonomi maksimal bagi warganya sendiri. Jika dikawal dengan transparansi dan profesionalisme, Pondok Gede akan menjadi model percontohan bagaimana ibadah dan ekonomi bisa berjalan beriringan, saling menguatkan.