Konten dari Pengguna

Perang Antara Negara Israel, Iran, dan Amerika dalam Perebutan Dominasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khairul Rizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret Kehancuran Akibat Perang Israel Vs Iran yang Kini Gencatan Senjata (REUTERS/Amir Cohen)
zoom-in-whitePerbesar
Potret Kehancuran Akibat Perang Israel Vs Iran yang Kini Gencatan Senjata (REUTERS/Amir Cohen)

Ketegangan antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat bukan hanya soal konflik regional semata, melainkan mencerminkan rivalitas kepentingan global yang terus membara. Ketiganya terlibat dalam perebutan pengaruh yang dipenuhi oleh kepentingan ideologis, strategis, dan ekonomi, terutama di kawasan rawan seperti Timur Tengah.

Israel secara konsisten memandang Iran sebagai ancaman langsung terhadap eksistensinya. Bersama Amerika Serikat sebagai sekutu setianya, Israel melakukan berbagai langkah militer untuk membendung pengaruh Iran. Di sisi lain, Iran memperkuat posisinya melalui kelompok proksi seperti Hizbullah dan Houthi, sebagai bentuk perlawanan tidak langsung terhadap dominasi Barat.

Amerika sendiri memegang peranan penting sebagai aktor internasional yang punya kepentingan kuat atas stabilitas kawasan ini. Dalam pidatonya di PBB pada tahun 2023, Presiden Joe Biden menegaskan:

“Amerika akan selalu berdiri bersama sekutu-sekutunya untuk menghadapi ancaman Iran dan menjaga stabilitas Timur Tengah.”

Namun faktanya, keterlibatan bersenjata justru menambah luka bagi masyarakat sipil yang terus menjadi korban dalam konflik ini. Intervensi yang dilakukan dengan dalih menjaga stabilitas seringkali berujung pada penderitaan berkepanjangan.

Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, pernah menyampaikan peringatan yang sangat relevan:

“Tak akan ada perdamaian tanpa keadilan, dan tak akan ada keadilan tanpa kebenaran.”

Pesan ini harus menjadi pengingat bagi generasi muda, khususnya di Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi yang seringkali bias, kita harus membangun kesadaran kritis dan bersikap objektif. Indonesia dengan prinsip bebas aktif dalam politik luar negerinya, memiliki potensi besar untuk mendorong solusi damai yang berkeadilan—bukan sekadar berpihak, tetapi berpijak pada kemanusiaan.