Konten dari Pengguna

Perempuan Perokok: Ketika Pilihan Pribadi Dibatasi Patriarki

KHALISAH SEPTIANI RIZKY

KHALISAH SEPTIANI RIZKY

Saya Khalisah Septiani Rizky, merupakan mahasiswa Program Studi Sosiologi semester 4 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya. Selama menempuh studi, saya memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial yang berkaitan dengan kesejah

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KHALISAH SEPTIANI RIZKY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Permasalahan stigma terhadap perempuan perokok di Indonesia dapat dianalisis melalui perspektif feminisme radikal yang melihat akar ketidakadilan gender berada pada struktur patriarki. Dalam struktur ini, perempuan sering kali dihadapkan pada aturan sosial yang mengontrol perilaku mereka, termasuk kebiasaan merokok. Perempuan yang merokok dianggap menyimpang dari citra ideal perempuan yang anggun dan menjaga diri, padahal tindakan tersebut seharusnya bisa dipahami sebagai bentuk pilihan personal. Ini menunjukkan bahwa stigma bukan hanya persoalan moral, tetapi merupakan bentuk kontrol sosial yang dilanggengkan oleh norma patriarki.

Pandangan masyarakat mengenai Laki-Laki dan Perempuan

Ketika laki-laki merokok, masyarakat cenderung memaklumi bahkan menganggap hal itu sebagai bagian dari identitas maskulin. Sebaliknya, ketika perempuan merokok, muncul berbagai penilaian negatif yang menempel pada diri mereka, seperti dianggap tidak sopan, tidak bermoral, bahkan tidak layak disebut perempuan sejati. Fenomena ini mencerminkan adanya standar ganda yang diterapkan dalam masyarakat. Feminisme radikal mengkritik kondisi ini karena memperlihatkan bagaimana perempuan dibatasi ruang geraknya oleh konstruksi sosial yang tidak adil.

(Sumber : Freepik)

Feminisme Radikal

Feminisme radikal adalah aliran yang memposisikan negara sebagai penguasa yang tidak memihak kepentingan kelompok yang berbeda (plural). Mereka menganggap negara didominasi oleh kaum pria, sehingga dalam pengambilan keputusannya selalu berpedoman pada bias gender tersebut.

Kritik Feminisme Liberal

Feminisme radikal juga mengkritik peran negara dan media dalam memperkuat stigma tersebut. Seperti yang disebutkan dalam kajian, representasi perempuan perokok dalam film propaganda Orde Baru menggambarkan mereka secara negatif dan tidak bermoral. Representasi seperti ini telah membentuk cara pandang masyarakat terhadap perempuan perokok hingga saat ini. Dalam pandangan feminisme radikal, negara dan media tidak bersifat netral, melainkan menjadi alat yang memperkuat norma patriarki dan membatasi kebebasan perempuan.

Konsep dramaturgi yang digunakan oleh Goffman juga bisa dikaitkan dengan cara perempuan menyembunyikan identitasnya sebagai perokok di ruang publik. Di depan umum (front stage), perempuan merasa harus tampil sesuai dengan harapan masyarakat, sedangkan di balik layar (back stage), mereka merasa lebih bebas mengekspresikan diri. Pola ini menunjukkan bahwa perempuan sering kali terjebak dalam peran sosial yang tidak mencerminkan jati dirinya. Feminisme radikal menilai bahwa tekanan untuk tampil sesuai peran ideal ini merupakan bagian dari bentuk penindasan simbolik terhadap perempuan.

Referensi

Ardianti, Anis. 2017. “Stigma Pada Masyarakat ‘Kampung Gila’ di Desa Stigma Pada Masyarakat ‘Kampung Gila’ di Desa Stigma Pada Masyarakat ‘Kampung Gila’ di Desa.” JURNAL S1 SOSIOLOGI FISIP UNIVERSITAS AIRLANGGA 1–27.

Jannah, Miftahul, dan Hertiana. 2022. “PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA TENTANG ROKOK DI SMA NEGERI 2 PALOPO THE EFFECT OF EDUCATION ON ADOLESCENT’S KNOWLEDGE ABOUT SMOKING IN SMAN 2 PALOPO.” Jurnal Kesehatan Masyarakat 9(1):8–13.

Martini, Sih. 2014. “Makna Merokok pada Remaja Putri Merokok.” JURNAL Psikologi Pendidikan dan Perkembangan 3(2):119–27.

Yulianti, Elsa Azkia. 2023. “Stigma Childfree di Indonesia: Studi atas Pandangan Filsafat Kebebasan Isaiah Berlin.” Gunung Djati Conference Series 24:656–66.