Konten dari Pengguna

Inflasi Rendah, Tapi Kok Biaya Hidup Terasa Makin Mahal?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khinanty Cahyaningtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Shutterstock

Ketika mendengar inflasi rendah, mungkin sebagian orang berpikir bahwa kondisi ekonomi sedang baik karena harga barang dianggap lebih terkendali. Namun, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Meskipun inflasi berada pada tingkat yang relatif rendah, masyarakat tetap bisa merasakan biaya hidup yang semakin berat. Lalu, mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada tahun 2024 tumbuh sebesar 5,03 persen, kemudian meningkat menjadi 5,11 persen pada 2025. Artinya, pertumbuhan ekonomi meningkat sebesar 0,08 poin persentase. Di sisi lain, inflasi pada Desember 2024 tercatat sebesar 1,57 persen, sedangkan pada Desember 2025 meningkat menjadi 2,92 persen. Dengan demikian, inflasi mengalami kenaikan sebesar 1,35 poin persentase.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas 5 persen, tetapi perkembangan harga juga perlu diperhatikan. Pertumbuhan ekonomi sendiri menggambarkan peningkatan aktivitas ekonomi secara keseluruhan, sedangkan inflasi menunjukkan perubahan tingkat harga barang dan jasa. Jadi, pertumbuhan ekonomi yang positif tidak otomatis membuat seluruh masyarakat merasakan biaya hidup yang lebih ringan.

Inflasi juga tidak berarti semua barang mengalami kenaikan harga dengan besaran yang sama. Ada barang dan jasa tertentu yang harganya dapat meningkat lebih cepat dibandingkan yang lain. Bagi masyarakat, kenaikan harga kebutuhan yang sering dibeli seperti makanan, transportasi, atau kebutuhan rumah tangga akan lebih mudah terasa dibandingkan angka inflasi secara keseluruhan.

Misalnya, seseorang mungkin melihat angka inflasi sebesar 1,57 persen dan menganggap kenaikan harga tidak terlalu besar. Namun, jika kebutuhan yang paling sering dibeli mengalami kenaikan harga, pengeluaran sehari-hari tetap dapat terasa lebih berat. Karena itu, pengalaman setiap orang terhadap inflasi bisa berbeda tergantung pada pola konsumsi dan kebutuhan masing-masing.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pendapatan. Jika pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding dengan kenaikan harga, daya beli dapat terasa menurun. Artinya, meskipun secara statistik inflasi masih berada pada tingkat tertentu, masyarakat tetap dapat merasa bahwa uang yang dimiliki tidak mampu membeli barang sebanyak sebelumnya.

Menurut saya, inilah alasan mengapa inflasi rendah tidak selalu berarti biaya hidup terasa murah. Angka inflasi merupakan gambaran umum perubahan harga, sedangkan kondisi yang dirasakan masyarakat dipengaruhi oleh barang apa yang mereka konsumsi, seberapa besar pendapatan mereka, dan bagaimana pengeluaran rumah tangga berubah.

Karena itu, ketika membahas kondisi ekonomi, kita tidak cukup hanya melihat apakah inflasi rendah atau pertumbuhan ekonomi meningkat. Kita juga perlu melihat bagaimana perubahan harga tersebut berdampak terhadap daya beli masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat akan lebih bermakna apabila masyarakat juga dapat merasakan manfaatnya melalui pendapatan, kesempatan kerja, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada akhirnya, inflasi rendah bukan berarti tidak ada kenaikan harga. Begitu pula pertumbuhan ekonomi yang positif bukan berarti semua masyarakat otomatis merasakan kondisi ekonomi yang lebih ringan. Data pertumbuhan ekonomi dan inflasi perlu dilihat secara bersama-sama agar kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi perekonomian Indonesia.