Konten dari Pengguna

Pengembangan Agroindustri Kopi di Sumatera Barat

Kiki Yulianto

Kiki Yulianto

Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian, Universitas Andalas.

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kiki Yulianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkebunan merupakan sub sektor penting yang menunjang perekonomian Indonesia. Salah satu komoditas perkebunan yang terpenting adalah kopi. Kopi merupakan komoditas yang strategis yang banyak diproduksi di berbagai negara. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), jumlah produksi kopi secara global pada periode 2022-2023 mencapai 10,2 juta ton. Indonesia merupakan produsen dan eksportir kopi terbesar ke-3 di dunia setelah Brazil dan Vietnam dengan perolehan produksi sebesar 794,8 ribu ton (Badan Pusat Statistik, 2022). Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah penghasil kopi di Indonesia. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan (2022), luas perkebunan kopi di provinsi ini mencapai 16.406 hektar dengan produksi 13.035 ton per tahun. Sebagian besar produksi kopi di Sumatera Barat merupakan jenis kopi robusta dibanding kopi arabika. Sepanjang tahun 2022, luas perkebunan kopi Robusta di Sumatera Barat menghasilkan 12.204 hektar dengan produksi 11.090 ton, sedangkan luas perkebunan kopi Arabika menghasilkan 3.240 hektar dengan produksi 2.680 ton (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2022).

Setelah menilik perkembangan perkebunan kopi di Sumatera Barat, sebagai salah satu komoditas agroindustri kopi memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di Sumatera Barat. Potensi ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain, Sumatera Barat memiliki kondisi geografis yang cocok untuk budidaya kopi karena sebagian besar wilayah di Sumatera Barat memiliki ketinggian di atas 500 meter di atas permukaan laut, yang mana ini merupakan ketinggian ideal untuk budidaya kopi, adapun wilayah-wilayah di Sumatera Barat yang cocok untuk budidaya kopi, yaitu Kabupaten Agam, Solok, Solok Selatan, Limapuluh Kota, Pesisir Selatan dan Pasaman Barat. Dan yang menjadi sentra penghasil kopi Sumatera Barat adalah Solok dan Solok Selatan. Faktor selanjutnya yaitu potensi pasar yang besar, menurut data dari International Coffee Organization (ICO), Indonesia tercatat sebagai negara dengan konsumsi kopi terbesar kelima di dunia dengan jumlah sekitar 300.000 ton sepanjang tahun 2021. Faktor kualitas kopi Sumatera Barat yang baik dan diminati oleh konsumen di dalam dan luar negeri juga menjadi potensi yang besar untuk agroindustri kopi di Sumatera Barat.

pembukaan peringatan Hari Kopi Nasional di air dingin, Foto: Editor
zoom-in-whitePerbesar
pembukaan peringatan Hari Kopi Nasional di air dingin, Foto: Editor

Walaupun Sumatera Barat mempunyai potensi untuk pengembangan produksi komoditas kopi, namun hal tersebut belum mampu meningkatkan produktivitas yang lebih baik lagi. Banyak permasalahan yang harus dihadapi dalam pengembangan komoditas kopi mulai dari ketersediaan input produksi, teknik budidaya, faktor sumber daya manusia (petani), penanganan pasca panen, dll. Pengembangan industri kopi di Sumatera barat tidak cukup hanya mengandalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki saja, tapi juga perlu dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam agroindustri kopi dari hulu ke hilir dengan mempertimbangkan aspek petani, aspek input faktor produksi, aspek pasar dan aspek lembaga penunjang dan kebijakan pemerintah. Keempat aspek tersebut menjadi tantangan berat yang akan dihadapi untuk menjadikan kopi menjadi komoditas unggulan Sumatera Barat.

Dari tantangan-tantangan pengembangan industri kopi di Sumatera Barat, perlu dibuat kebijakan-kebijakan yang mendukung pengembangan agroindustri kopi di Sumatera Barat. Kebijakan yang diambil dari aspek petani, ketersediaan pupuk, bibit unggul, dan permodalan. Kemudian pasar, lembaga penunjang dan kebijakan pemerintah. Pengembangan industri kopi di Sumatera Barat, dimulai dari peningkatan produksi yang linear dengan produktivitas kopi dengan perbaikan faktor produksi petani (peningkatan SDM), ketersediaan pupuk, bibit unggul, dan modal.

Faktor produksi tersebut perlu didukung dengan faktor eksternal yang mendukung kegiatan usaha petani mulai dari ketersediaan lembaga penunjang (koperasi, kelompok tani, akses modal ke lembaga keuangan) dan terjaminnya pasar. Faktor penunjang lain yang tidak kalah penting dalam mendukung pengembangan industri kopi ini adalah keseriusan pemerintah terkait dengan kebijakan pengembangan komoditas kopi. Kebijakan tersebut bukan hanya kebijakan sesaat tapi kebijakan yang dilakukan secara berkelanjutan sehingga kopi menjadi komoditas yang diunggulkan dan dikenal oleh pasar nasional dan internasional. Kebijakan tersebut dimulai dari perhatian kepada petani dengan memberikan pelatihan dan penyuluhan petani dan menyediakan tenaga pembina untuk mendukung program tersebut. Pemerintah juga perlu menyediakan dana yang cukup untuk program pelatihan dan penyuluhan, sehingga petani secara simultan terus diberikan pemahaman bagaimana melakukan kegiatan usaha tani kopi dengan baik.

produk kopi sumatera barat, foto: Dok. Asosiasi Kopi Minang

Dalam penyediaan modal petani, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk penyediaan kredit bersubsidi yang bermitra dengan lembaga keuangan seperti perbankan sehingga petani tidak lagi kekurangan modal. Kebijakan ini bukan hanya terkait penyediaan modal saja, tapi juga terkait akses petani kepada lembaga keuangan yang lebih mudah. Kebijakan ketersediaan teknologi produksi dan penyediaan bibit juga perlu dukungan dari pemerintah, karena dengan sentuhan inovasi yang berkelanjutan oleh pemerintah akan mendorong petani untuk mau mengadopsi inovasi tersebut sehingga produktivitas kopi terus mengalami peningkatan.

Kebijakan pemerintah memiliki peran penting untuk menunjang pengembangan kopi secara berkelanjutan, sehingga dapat menjadikan kopi sebagai komoditas unggulan. Kebijakan yang diberikan dapat berupa perluasan tanaman kopi secara simultan, program bibit unggul, program penyuluhan budidaya dan penanganan pasca panen yang baik, serta program promosi kopi Sumatera Barat. Selain itu, pemerintah diharapkan juga melakukan penyediaan infrastruktur di kawasan-kawasan sentra kopi. Infrastruktur menjadi faktor yang menentukan keberhasilan peningkatan daya saing industri kopi, karena keberadaan sarana dan prasarana fisik seperti infrastruktur budidaya kopi, sarana dan prasarana penyimpanan dan pengangkutan, jalur transportasi, dan telekomunikasi ikut mendorong perkembangan agroindustri kopi menjadi lebih baik.