Antara Malu dan Perlu: Misteri Berak di Celana Anak SD

Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kirana Tiara Putri Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di antara tawa ceria anak-anak SD, suara lonceng istirahat, dan riuhnya obrolan soal kartun atau tugas PR, ada satu kejadian yang bisa langsung membungkam seisi kelas: bau tak biasa yang pelan-pelan menyebar. Semua mulai saling menatap, menduga-duga, lalu... "Eh, siapa nih yang berak di celana?"
Lucu? Mungkin, kalau kita hanya penonton. Tapi buat si anak, ini bisa jadi pengalaman paling memalukan dalam hidupnya.
Meski sudah bisa mengerjakan soal matematika atau membuat puisi sederhana, ternyata tak sedikit anak SD yang masih "kecolongan" soal urusan buang air besar. Bukan karena mereka malas ke toilet, tapi karena banyak hal—dari urusan perut sampai kondisi lingkungan.
Fenomena ini sering dianggap remeh, padahal sebenarnya menyimpan banyak misteri. Kenapa anak usia sekolah masih bisa ‘kecelakaan’? Yuk, kita bongkar satu per satu.
Penyebabnya Tak Sesederhana ‘Nggak Tahan Lagi’
1. Faktor Fisik:
Ada anak yang memang masih dalam proses belajar mengontrol keinginan buang air. Bisa jadi mereka mengalami sembelit, diare, atau baru saja makan makanan yang membuat perut tidak bersahabat.
2. Faktor Psikologis:
Beberapa anak takut minta izin ke toilet. Entah karena gurunya galak, malu bicara di depan kelas, atau takut dikira "cengeng". Stres dan ketegangan bisa bikin kontrol tubuh jadi kacau.
3. Faktor Lingkungan:
Toilet sekolah sering kali jadi "zona horor". Kotor, bau, nggak ada air, atau bahkan nggak punya pintu. Siapa pun pasti mikir dua kali buat masuk, apalagi buang air besar di dalamnya.
Dampaknya Lebih dari Sekadar Noda di Celana
Satu insiden kecil bisa berdampak besar. Anak bisa dijadikan bahan ejekan, kehilangan rasa percaya diri, bahkan enggan ke sekolah. Kalau tidak ditangani dengan bijak, trauma ini bisa terbawa sampai besar.
Solusi: Dari Empati sampai Toilet Bersih
Masalah ini tidak bisa selesai hanya dengan marah atau memaksa. Anak butuh:
- Pendampingan dari orang tua, agar lebih percaya diri dan tahu kapan harus ke toilet.
- Sekolah yang peduli, dengan toilet bersih, izin yang fleksibel, dan guru yang paham bahwa minta ke toilet bukan berarti malas belajar.
- Teman-teman yang empatik, bukan tukang ejek. Karena hari ini mungkin dia, besok bisa jadi siapa saja.
Penutup: Semua Butuh Waktu, Termasuk Mengontrol Perut
Berak di celana mungkin terdengar memalukan, tapi bagi anak-anak, itu bagian dari proses tumbuh. Alih-alih menghakimi, yuk kita bantu mereka melewati fase ini dengan dukungan, bukan tekanan.
Karena di balik celana yang "kena musibah", ada anak kecil yang sedang belajar jadi besar.
