Dari Produk Rumahan ke Etalase Digital: KKN 50 UINSA Menggelar Edukasi UMKM

Mahasiswa-mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya yang sedang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng, kabupaten Lamongan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari KKN 50 UINSA Sumberwudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lamongan, 27 juni 2026 - Desa Sumberwudi, yang terletak di Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, kini menjadi sorotan berkat geliat ekonomi baru yang tengah dibangun oleh warganya. Semangat transformasi ini dimotori oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 50 dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, yang menginisiasi program pendampingan komprehensif bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Menggagas “Sumberwudi Naik Kelas”
Program yang bertajuk “Sumberwudi Naik Kelas” ini lahir dari hasil observasi mendalam yang dilakukan oleh tim KKN 50 selama dua pekan pertama mereka di desa sumberwudi. Ketua Kelompok KKN 50 UINSA, Kemal, mengungkapkan bahwa meskipun Desa Sumberwudi memiliki potensi ekonomi yang luar biasa, terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara kualitas produk dengan cara penyajiannya ke pasar dan pemasaran produk masih kalah saing dengan produk orang pendatang.
Banyak pelaku UMKM mulai dari produsen olahan ikan, pembuat camilan tradisional, hingga pengrajin tangan, memiliki kualitas produk yang sangat baik. Namun, sayangnya, produk-produk unggulan tersebut belum memiliki identitas merek (branding) yang konsisten dan kemasan yang mampu bersaing di pasar modern. Selama ini, sistem penjualan mereka masih sangat konvensional, yakni hanya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut antar warga desa.
Tim KKN 50 menyusun strategi untuk melakukan perubahan mendasar pada delapan UMKM binaan yang tersebar di berbagai dusun di Desa Sumberwudi. Fokus pendampingan ini dibagi ke dalam tiga aspek utama:
1. Dalam Melaksanakan progam kegiatan KKN Mahasiswa membantu UMKM menciptakan logo, nama merek, dan desain kemasan yang lebih profesional, informatif, dan menarik bagi konsumen selaim itu juga membantu dalam memperomosikan barang dagang UMKM melalui akun instagram atau tiktok Tim KKN.
2. Digitalisasi Pemasaran Tim membantu pembuatan akun media sosial resmi bagi UMKM, lengkap dengan pelatihan pembuatan konten foto produk yang estetik untuk meningkatkan daya tarik di etalase digital. Selain itu, mereka juga diperkenalkan pada penggunaan marketplace, seperti shope etalase dan tiktok shop sebagai tempat penjualan tambahan di luar pasar tradisional, tujuan nya untuk memperomosikan dagangan pelaku UMKM untuk bisa melakukan pemasaran yang lebih luas.
3. Modernisasi Sistem Pembayaran dalam Program ini memberikan edukasi serta mendampingi proses pendaftaran QRIS sebagai metode pembayaran non-tunai. Langkah ini diambil untuk meningkatkan efisiensi transaksi di era modern dan menyesuaikan diri dengan trend pembayaran digital nasional.
Hasil nyata dari program ini mulai dirasakan oleh para pelaku usaha di desa tersebut. Salah satu pemilik usaha yang telah merintis bisnisnya selama lebih dari satu dekade kini merasakan perubahan signifikan terhadap tampilan produknya. Jika sebelumnya produk tersebut hanya dikemas menggunakan plastik bening tanpa keterangan apapun, kini barang dagangan tersebut telah memiliki kemasan yang lengkap. Tampilan baru ini juga telah dilengkapi dengan logo, nama merek, serta informasi produk yang disusun dengan lebih rapi dan profesional.
Langkah mahasiswa ini bukan sekadar tugas akademis melainkan melakuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan pemecah peramasalahan yang terjadi di desa, dari hasil yang kami temukan sebagian besar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan pilar penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor UMKM tidak hanya berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, tetapi juga memainkan peran vital dalam pemerataan pembangunan dan mengurangi tingkat kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sektor UMKM menyumbang sekitar 61,97% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, serta menyerap lebih dari 97% tenaga kerja di Indonesia.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN 50 UINSA memberikan apresiasi tinggi, menyebut program ini sebagai wujud nyata dari semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mahasiswa tidak sekadar berteori di kelas, melainkan turun tangan menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat.
Kepala Desa Sumberwudi menyambut baik inisiatif ini dan berharap agar program tersebut memiliki keberlanjutan setelah masa KKN berakhir. Beliau menilai bahwa digitalisasi adalah kunci bagi pertumbuhan ekonomi desa yang lebih inklusif dan perluasan akses pasar produk lokal.
Sebagai puncak dari seluruh rangkaian program, tim KKN 50 akan menggelar bazar UMKM di balai desa. Acara ini akan menjadi ajang pengenalan wajah baru produk-produk UMKM Sumberwudi kepada masyarakat luas. Harapannya, transformasi ini dapat mengubah paradigma warga bahwa produk rumahan di pelosok desa pun mampu menembus pasar global jika dikemas dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.
Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat ini membuktikan bahwa transformasi digital bukanlah milik eksklusif perusahaan besar di kota, melainkan pintu gerbang baru bagi dapur-dapur rumah tangga di desa untuk meraih kesuksesan yang lebih besar.
Diterbitkan oleh: Anugrah Widya Tama, moh Aidil Nur Wachid
