Konten dari Pengguna

Gula Aren Murni Desa Jemah: Bukti Nyata Bakti KKN UPI Sumedang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari kkn desajemahupi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Olahan hasil penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Olahan hasil penulis

Kabupaten Sumedang mungkin tersohor dengan kelezatan tahunya, namun jauh di kawasan Jatigede, tersimpan mahakarya kuliner yang tak kalah istimewa. Di Dusun Sabeulit, Desa Jemah, kepulan asap dari wajan yang besar masih rutin mengudara setiap harinya, membawa aroma manis yang khas. Di tengah gempuran pemanis buatan dan gula pabrikan, warga desa ini memilih jalan sunyi untuk mempertahankan warisan leluhur: memproduksi gula aren murni tanpa sedikit pun campuran bahan kimia. Keaslian tradisi yang terus dijaga ini turut memikat perhatian para mahasiswa KKN UPI Sumedang. Tak sekadar menikmati, kehadiran para mahasiswa di Desa Jemah diwarnai dengan keterlibatan langsung untuk menelusuri jejak manis gula aren. Mulai dari menyusuri rimbunnya kebun kawung, berbaur di tengah hangatnya dapur warga, hingga tahap pengemasan akhir, kolaborasi ini menjadi potret nyata sinergi antara generasi muda dan masyarakat desa dalam merawat potensi lokal.

Sumber: Olahan hasil penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Olahan hasil penulis

Cita rasa autentik gula aren murni Dusun Sabeulit bermula dari pohon kawung. Sebelum disadap, tandan bunga kawung dipukul-pukul perlahan oleh penderes agar pori-porinya melonggar. Proses ini merangsang keluarnya tetesan air manis bernama lahang. Lahang murni yang ditampung dalam ruas bambu (lodong) inilah bahan baku tunggal yang kualitasnya dijaga ketat tanpa tambahan gula pasir sedikit pun.

Proses transformasinya menuntut kesabaran ekstra. Di dapur-dapur tradisional, lahang direbus di atas tungku kayu bakar selama empat hingga lima jam. Asap kayu memberikan aroma smokey yang menyatu dengan wangi manis lahang. Setelah diaduk tanpa henti hingga mengental dan berwarna karamel pekat, adonan panas dicetak menggunakan irisan bambu, lalu dikemas rapi dengan helaian daun kelapa kering

Hasil akhirnya adalah gula aren dengan rasa manis yang pas dan tidak giung (berlebihan). Lebih dari sekadar pemanis, pengalaman mengawal proses produksi ini menyadarkan kami bahwa sepotong gula aren Sabeulit adalah simbol nyata keteguhan warga desa dalam menghormati alam dan melestarikan identitas budaya lokal.