Eksistensi TPQ Gerantung Dalam Filterisasi Perkembangan Zaman di Era Kontemporer

Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Kelurahan Gerantung 2026
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari KKP Kelurahan Gerantung 2026 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengukuhkan Nilai Religius Melalui Eksistensi TPQ di Kelurahan Gerantung
Kelurahan Gerantung, Kecamatan Praya Tengah — Gerantung, merupakan salah satu daerah yang hingga kini masih konsisten memegang teguh tradisi keagamaan yang begitu kental serta terus melestarikan nilai-nilai religius di tengah derasnya gempuran kerasnya perkembangan zaman di era kontemporer saat ini. Komitmen masyarakat Gerantung dalam mempertahankan budaya pendidikan Islam sejak lama menjadi salah satu kekuatan primer dalam membangun karakter generasi muda.
Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) adalah salah satu dan menjadi lembaga pendidikan nonformal yang tumbuh dan berkembang secara aktif di Kelurahan Gerantung. Kehadiran TPQ ini, tidak hanya berfokus pada pembelajaran dasar pada umunya seperti membaca, menulis, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an, tetapi juga berperan dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur'an (tahfiz) selayaknya pondok pesantren administratif secara umum serta menghadirkan pendidikan skala prioritas qari dan qariah sejak usia dini, dengan demikian Kelurahan Gerantung Cukup terkenal dengan tradisi yang menciptakan qari’ dan qari’ah sejak usia dini.
Berdasarkan hasil pendataan Mahasiswa Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) UIN Mataram Tahun 2026, Kelurahan Gerantung yang terdiri atas tujuh lingkungan administratif memiliki persebaran TPQ yang cukup masif. Setiap lingkungan setidaknya memiliki dua hingga tiga TPQ yang aktif dengan puluhan santri, yang di mulai dari anak usia dini hingga pelajar sekolah menengah atas yang rutin menempuh pendidikan agama islam.
Efektifitas TPQ Dalam Membentuk Karakter Generasi Muda di Era Kontemporer
Antusiasme masyarakat, tokoh agama, serta para orang tua Kelurahan Gerantung dalam membangun dan mengembangkan TPQ menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan masih menjadi prioritas utama dalam berkehidupan sosial masyarakat Kelurahan Gerantung. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam menyaring pengaruh negatif kerasnya perkembangan zaman yang semakin memengaruhi gaya hidup anak-anak khususnya Generasi Z dan Alpa bahkan hingga para orang tua yang mulai aktif dalam bermedia sosial ─ Perlu di ketahui Kelurahan Gerantung merupakan daerah hasil pemekaran dari Kelurahan Jontlak yang kini manjadi Kelurahan yang terpisah dan sejak dahulu Gerantung dikenal sebagai daerah yang banyak melahirkan qari dan qariah berprestasi hingga kini.
Ketua Kelompok KKP UIN Mataram Kelurahan Gerantung Tahun 2026, Saudara Solihin, menerangkan bahwa selama proses observasi hingga pelaksanaan KKP, kelompoknya banyak menemukan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat yang masih kental terjaga dengan baik.
"Sejak tahap pra-pelaksanaan KKP kami, melalui observasi dan survei lokasi hingga pelaksanaan saat ini, kami bersama teman-teman yang lain banyak sekali menemukan budaya keagamaan masyarakat yang tetap bertahan di tengah derasnya gempuran modernisasi zaman. Kami melihat hadirnya TPQ sebagai potensi besar kelurahan Gerantung yang secara tidak langsung sebenernya menjadi filter terhadap akulturasi budaya modern dengan nilai-nilai tradisional yang telah lama hidup di masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Divisi Keagamaan Kelompok KKP UIN Mataram Kelurahan Gerantung Tahun 2026, M. Nurhadi Asrori, menilai bahwa fenomena tersebut menjadi landscape langka dan menarik di tengah derasnya modernisasi.
"Fenomena ini merupakan sesuatu yang cukup langka ditemukan diberbagai daerah Lombok Tengah. Di tengah arus modernitas dan digitalisasi, metode pembelajaran TPQ yang masih bersifat konvensional justru terbukti efektif dalam menangkal pengaruh negatif zaman dan membentuk karakter anak-anak hingga pemuda setempat. Namun demikian, masyarakat bukan berarti menolak perkembangan zaman atau teknologi atau bahklan modernisasi multi sektor, akan tetapi mereka (masyarakat) hanya belum menemukan formulasi yang tepat untuk mengkorelasikan digitalisasi dengan sistem pembelajaran TPQ yang konvensional tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah diwariskan. Hal ini sebenarnya menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang bagi kami dalam pelaksanaan KKP yang kebetulan mengusung tema Transformasi Desa Digital yang Berkelanjutan," jelasnya.
Melalui temuan tersebut, Kelompok KKP UIN Mataram Tahun 2026 sanagat berharap dapat berpartisipasi lebih selain dari program harian belajar, mengajar di setiap TPQ di kelurahan gerantung melainkan ikut serta dalam memperkuat keberadaan TPQ melalui kolaborasi antara masyarakat, pemuda, pemerintah kelurahan, tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya, serta kalangan akademisi. Upaya pengembangan sarana pembelajaran, peningkatan kapasitas tenaga pengajar, serta secara khusus dalam sektor pemanfaatan teknologi digital secara bijaksana dapat sejalan dengan tema besar yang dibawa KKP UIN Mataram 2026 “Transformasi Desa Digital Yang Berkelanjutan Menuju Masyaralat Sejahtera” dapat dinilai menjadi langkah yang strategis untuk menjaga eksistensi TPQ di tengah arus perubahan zaman di era kontemporer ini.
