Konten dari Pengguna

Niat Berburu Kopi, 4 Mahasiswa KKP di Gerantung Kewalahan Dengan Keramahan Warga

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KKP Kelurahan Gerantung 2026 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Gambar visual kartun lagu minum kopi depan teras) (pinterest: Psotingan Rekan Tani)
zoom-in-whitePerbesar
(Gambar visual kartun lagu minum kopi depan teras) (pinterest: Psotingan Rekan Tani)

"One House, One Cup": Dari Jargon Sederhana Menjadi Jembatan Silaturahmi

Kelurahan Gerantung, Lombok Tengah — Bagi sebagian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau Kuliah Kerja Partisipatif (KKP), berburu nasi bungkus dan secangkir kopi dari rumah warga kerap menjadi cerita klasik yang selalu menghiasi masa pengabdian. Namun, pengalaman empat mahasiswa KKP UIN Mataram Tahun 2026 di Kelurahan Gerantung justru melahirkan kisah yang berbeda. Bukan sekadar menikmati kopi, mereka justru "kewalahan" menghadapi keramahan masyarakat yang begitu tulus.

Empat mahasiswa laki-laki dari 13 peserta KKP tersebut terdiri atas Ketua Kelompok, Divisi Keagamaan, Divisi Hubungan Masyarakat (Humas), dan Divisi Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Untuk menjaga semangat selama menjalankan pengabdian, mereka bahkan

mencetuskan sebuah jargon sederhana yang mereka sebut "One House, One Cup". Filosofi gerakan ini bukan sekadar berburu secangkir kopi, melainkan menjadikan setiap kunjungan ke rumah warga sebagai ruang silaturahmi, mendengarkan cerita, menyerap aspirasi, serta membangun kedekatan dengan masyarakat.

Bagi mereka, secangkir kopi menjadi awal dari banyak percakapan. Dari ruang tamu sederhana hingga beranda rumah warga, berbagai diskusi mengalir mengenai kondisi lingkungan, kegiatan keagamaan, persoalan pemuda, hingga harapan masyarakat terhadap program-program KKP yang sedang dijalankan.

Namun, keramahan masyarakat Gerantung justru menghadirkan tantangan tersendiri. Hampir setiap kunjungan ke rumah warga selalu diiringi dengan suguhan kopi, teh, atau makanan ringan. Tidak jarang pula warga datang langsung ke posko mahasiswa sambil membawa jamuan sebagai bentuk penghormatan kepada para mahasiswa yang sedang mengabdi di lingkungan mereka.

Ketua Kelompok KKP UIN Mataram Kelurahan Gerantung, Solihin, menjelaskan bahwa kedekatan dengan masyarakat sejatinya telah dibangun bahkan sebelum masa pengabdian dimulai. Bersama timnya, mereka telah melakukan observasi dan survei lapangan guna memperoleh gambaran awal mengenai kondisi sosial masyarakat.

"Sebenarnya dari awal atau pra-KKP, kami sudah lebih dulu turun melakukan observasi dan survei lokasi agar memperoleh informasi yang lebih fundamental. Dari situ kami berhasil memetakan pihak-pihak yang akan kami kunjungi, seperti Lurah, tujuh Kepala Lingkungan, ketua remaja di setiap lingkungan, hingga Karang Taruna. Meski belum sepenuhnya komprehensif, ternyata kami masih luput memetakan tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, bahkan kader-kader Posyandu. Akibatnya, jadwal kunjungan kami menjadi sangat padat. Namun kami tetap semangat karena slogan yang kami usung, 'One House, One Cup', berhasil membawa kami semakin dekat dengan masyarakat. Walaupun begitu, slogan itu sebenarnya hanya guyonan kami semata. Karena sejatinya, laki-laki memang butuh kopi," ujarnya sambil tersenyum.

Situasi tersebut membuat keempat mahasiswa harus pandai mengatur waktu sekaligus menjaga etika. Di satu sisi mereka ingin menghargai setiap jamuan yang diberikan, tetapi di sisi lain mereka juga harus tetap menjalankan tugas dan agenda yang telah disusun.

Semangat serupa juga dirasakan oleh Divisi Hubungan Masyarakat, M. Restu Al-Ansori. Menurutnya, keramahan masyarakat Gerantung justru membuat para mahasiswa berada pada situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

"Kami berempat sangat bersyukur disambut dengan begitu baik oleh masyarakat. Sebagai humas, saya sangat bersemangat menjalani 'perburuan kopi' dari rumah ke rumah. Awalnya kami berpikir kamilah yang akan berburu kopi. Ternyata kami salah. Bukannya kami yang memburu kopi, justru kami yang diburu oleh bubuk-bubuk kopi warga," katanya sambil tertawa.

Ia mengisahkan bahwa tidak sedikit warga yang secara khusus mengundang mereka untuk mampir menikmati secangkir kopi. Bahkan, ada pula warga yang lebih dahulu datang ke posko mahasiswa dengan membawa berbagai hidangan.

"Dalam sehari kami ternyata hanya sanggup mengunjungi sekitar empat rumah atau tokoh masyarakat. Padahal kami datang dengan semangat anak muda yang ingin berdiskusi panjang. Tetapi di lapangan kami justru dibuat takjub. Banyak tokoh masyarakat yang bukan hanya kaya pengalaman, tetapi juga mampu mengimbangi bahkan melampaui kami dalam diskusi, baik dari sisi teori, praktik, maupun ketahanan duduk berjam-jam sambil menikmati kopi," ungkapnya.

Keramahan Warga Gerantung Tinggalkan Kenangan Lebih Berharga dari Secangkir Kopi

Sebagai ketua kelompok, ia dituntut hadir dalam berbagai pertemuan dan aktivitas masyarakat. Sementara Divisi Humas harus terus membangun komunikasi yang baik dengan warga agar hubungan yang telah terjalin tetap harmonis. Di balik layar, Divisi Kominfo memiliki tanggung jawab mendokumentasikan setiap kegiatan sebagai bahan publikasi dan laporan. Adapun Divisi Keagamaan tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan keislaman, tetapi juga menjadi pengingat sekaligus pembimbing bagi ketiga rekannya agar senantiasa menjaga adab selama berinteraksi dengan masyarakat.

Peran tersebut menjadi semakin penting mengingat Kelurahan Gerantung dikenal sebagai wilayah yang masih sangat menjaga tradisi dan nilai-nilai keislaman. Kehidupan religius masyarakat begitu terasa dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari semaraknya kegiatan di masjid, keberadaan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), hingga budaya saling menghormati tamu yang masih terpelihara dengan baik.

Sementara itu, Divisi Keagamaan, M. Nurhadi Asrori, mengaku bahwa keramahan warga tidak hanya terlihat dari suguhan kopi, tetapi juga dari berbagai bentuk perhatian lainnya.

"Alhamdulillah, sejauh ini kami benar-benar disambut dengan sangat ramah. Sering kali warga langsung menyuguhi kami makanan tanpa kami minta. Bahkan ada yang mengantarkan nasi dan lauk-pauk langsung ke posko. Kalau soal kopi, kami tidak pernah kekurangan," ujarnya.

Ia kemudian mengenang salah satu pengalaman yang paling berkesan selama menjalankan KKP.

"Suatu ketika kami bertamu ke rumah Pak Ahmad, anggota Badan Keamanan Desa (BKD). Kami disuguhi kopi. Namun karena masuk waktu Magrib, kami menunda menghabiskannya untuk salat berjamaah. Setelah selesai salat, kami berniat melanjutkan kopi yang tadi. Ternyata Pak Ahmad malah membuatkan kopi baru lagi. Mau tidak mau kami harus menghabiskannya, karena beliau sempat bercanda, kalau kopinya tidak dihabiskan berarti setelah itu kami tidak akan disuguhi kopi lagi," kenangnya.

Cerita tidak kalah menarik datang dari Divisi Komunikasi dan Informatika, Ridho Ilham, yang dikenal sebagai penikmat kopi hitam tanpa gula.

"Alhamdulillah, sejauh ini kami berempat tidak punya riwayat asam lambung akibat kopi. Walaupun yang paling berpotensi mungkin saya," katanya berseloroh.

Ridho mengaku memiliki selera kopi yang berbeda dibandingkan ketiga rekannya.

"Saya lebih suka kopi tanpa gula. Menurut saya, penikmat kopi sejati tidak menghianati rasa dengan menambahkan gula karena itu mengubah karakter kopi. Dulu saya merasa sudah menjadi 'kopian sejati'. Tetapi setelah menjalani KKP di Gerantung, saya sadar ternyata tidak semudah itu. Jadwal kunjungan yang padat, ditambah undangan minum kopi yang datang tanpa diduga, membuat saya sadar bahwa menjadi penikmat kopi sejati juga ada batasnya," ujarnya sambil tertawa.

Bagi keempat mahasiswa tersebut, gerakan "One House, One Cup" akhirnya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menikmati secangkir kopi. Setiap cangkir yang tersaji menjadi simbol penerimaan, kepercayaan, dan persaudaraan antara mahasiswa dengan masyarakat. Dari situlah mereka menyadari bahwa keberhasilan pengabdian tidak hanya diukur dari banyaknya program kerja yang terlaksana, tetapi juga dari seberapa dekat hubungan emosional yang mampu dibangun bersama warga.

Di akhir masa pengabdian nanti, mungkin mereka tidak akan mengingat berapa banyak cangkir kopi yang telah diminum. Namun, keramahan masyarakat Gerantung yang menyambut mereka layaknya keluarga sendiri akan menjadi kenangan yang jauh lebih berharga dibandingkan secangkir kopi itu sendiri.