Televisi dan Pengotak-ngotakan Pikiran Masyarakat

Penikmat fiksi karena kenyataan seringkali menyakitkan
Konten dari Pengguna
6 Agustus 2022 19:40
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Rusda Khoiruz Zaman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi televisi. Sumber gambar Pixabay open source: https://pixabay.com/id/photos/televisi-retro-klasik-tua-antik-1844964/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi televisi. Sumber gambar Pixabay open source: https://pixabay.com/id/photos/televisi-retro-klasik-tua-antik-1844964/
ADVERTISEMENT
Sebagaimana bentuknya yang kotak, saya baru sadar bahwa televisi juga berperan mengotak-ngotakan pikiran seseorang menjadi hitam dan putih, baik dan buruk, benar dan salah. Hal ini baru saya sadari di tahun 2014 ketika gencar-gencarnya kampanye Pilpres. Dan bermula di tahun ini pula, secara periodik, saya memutuskan untuk tidak lagi menonton televisi. Spongeboob dan Upin & Ipin barangkali adalah pengecualian. Sebab keduanya masih menghibur ketimbang yang lain: tidak menghibur dan tidak mengedukasi.
ADVERTISEMENT
Sedikit berbagi cerita, jika ingatan saya tak silap, pada 2014 saat liburan pesantren tengah tahun saya begitu terobsesi dengan televisi atas alasan yang begitu konyol. Itu karena Pilpres. Saya akui di sela-sela liburan pesantren, tayangan televisi terutama berita dan kampanye tentang Pilpres dapat menjadi salah satu medium ampuh melepas penat selama di rumah. Ini saatnya santri melek politik, pikir saya.
Ramai-ramai televisi membranding kedua pasangan calon presiden dan wakilnya itu. Di rumah, bapak dan ibu adalah pendukung Jokowi-Kalla. Sementara saya Prabowo-Hatta. Padahal umur saya di 2014 belum genap 17 tahun yang artinya belum bisa turut menyumbangkan suara. Namun gelora nasionalisme saya pada saat itu terasa seolah-olah dipompa habis-habisan kala melihat kampanye Prabowo-Hatta di televisi yang bernuansa begitu nasionalis. Meski belum bisa mencoblos, saya harus mendukung Prabowo-Hatta. Minimal berkampanye kepada kedua orang tua saya di rumah. Begitu gumam saya di dalam hati.
ADVERTISEMENT
Saya begitu terobsesi kepada capres yang berlatar belakang militer itu karena nasionalismenya. Bolak-balik televisi menampilkan prestasi yang pernah Prabowo raih, terutama yang berhubungan dengan karirnya sebagai seorang militer pembela negara dari rongrongan asing. Diakui ataupun tidak hal ini tentu menjadi modal besar bagi dirinya untuk menciptakan narasi patriotik. Berbanding terbalik dengan pasangan Jokowi-Kalla yang didera isu PKI dan antek Cina, salah satunya lewat koran Obor Rakyat.
Isu Jokowi adalah PKI dan antek Cina lebih melekat pada ingatan saya sebagai santri ketimbang pencitraannya masuk gorong-gorong, menyantuni tukang becak dan berjanji menuntaskan pelanggaran HAM berat masa lalu. Semua itu tidak ada artinya, jika Jokowi PKI dan antek Cina. Begitu anggapan dangkal saya waktu itu. Barangkali pemahaman nasionalisme saya sangat sempit dan terbatas pada jargon “cinta tanah air bagian dari iman” secara tekstual.
ADVERTISEMENT
Saya memandang Pilpres 2014 sebagai ajang pertarungan antara setan dan malaikat. Sehingga saya yang notabene sebagai santri tulen merasa punya beban moral turut serta mendukung sang malaikat memberangus setan. Kubu setan diwakili oleh Jokowi-Kalla yang diisukan PKI dan mengancam keutuhan NKRI yang katanya harga diskon. Eh maaf. Sementara kubu Prabowo-Hatta sebagai representasi malaikat. Prabowo nasionalis, sesederhanara itu pikiran saya waktu itu.
Kini, saya baru sadar pandangan biner seperti itu sejatinya memang disponsori televisi. Semua itu dilakukan stasiun televisi nasional sekedar untuk mendapat atensi. Tidak lebih. Toh akhirnya Jokowi-Kalla jadi Presiden dan Wakil Presiden. Dan Indonesia tidak berubah jadi negara komunis.
Semenjak masuk perguruan tinggi dan bersentuhan dengan banyak wacana, lantas saya sadar. Bahwa apa yang ditampilkan di televisi tak pernah bebas nilai. Ia akan selalu memihak. Tergantung siapa yang mendanai. Nah, celakanya hampir semua televisi di Indonesia milik para pengusaha sekaligus politisi.
ADVERTISEMENT
Selama Pilpres 2019 kemarin mulai masa kampanye hingga penentuan siapa yang jadi Presiden beserta wakilnya, saya sama sekali tidak menonton televisi. Ketika pulang ke rumah pun saya hanya lamat-lamat mendengar tayangan televisi yang sedang ditonton bapak dan ibu dari kamar. Bisa dibilang saya mengikuti isu nasional termasuk Pilpres cuman dari gadget, dengan membuka beberapa kanal kredibel yang bukan buzzer pemerintah, seperti Tirto.id atau Tempo.co.
Bermula dari kemuakan kabar soal Pilpres yang terus menerus digencarkan oleh televisi hingga membuat masyarakat terpecah jadi dua, saya jadi berpikir apakah televisi memang sengaja menyajikan pandangan biner yang mengotak-ngotakan pikiran seseorang? Kalau tidak benar ya berarti salah, kalau bukan malaikat berarti setan dan seterusnya. Televisi jangan-jangan di masa yang akan datang bakal jadi hakim yang berhak menentukan mana benar mana salah secara serampangan dan tentu saja yang sesuai kepentingannya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020