Konten dari Pengguna

Komodo Bukan Sekadar Tontonan: Mengapa “Naga” dari NTT Layak Dijaga, Bukan Hanya Dikagumi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarawati Bakri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI: Seekor Komodo melangkah di pantai berpasir dengan latar perbukitan dan laut.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI: Seekor Komodo melangkah di pantai berpasir dengan latar perbukitan dan laut.

Ada pemandangan yang sulit dilupakan: pantai berpasir putih yang sunyi, bukit savana keemasan, dan di tengahnya seekor komodo melangkah tanpa terburu-buru. Tak ada sorak-sorai, tak ada musik latar. Hanya lidah bercabang yang menjulur pelan, seakan seluruh pulau adalah miliknya. Pemandangan seperti inilah yang menjadikan Komodo salah satu ikon alam terkuat yang dimiliki Indonesia.

Namun, ikon yang dikagumi belum tentu ikon yang terlindungi. Dari sinilah tulisan ini berangkat: rasa kagum saja tidak cukup untuk menyelamatkan sang “naga”.

Naga yang Ternyata Kerabat Biawak

Julukan “naga” memang menggoda, tetapi faktanya (Komodo Varanus komodoensis) adalah kadal terbesar di dunia. Panjangnya bisa sekitar tiga meter dengan bobot puluhan kilogram. Ia berkerabat dengan biawak, bukan dinosaurus. Meski begitu, penampilannya yang purba, dengan sisik tebal dan cakar kokoh, membuat julukan itu terasa wajar. Di habitatnya, ia adalah predator puncak yang nyaris tak punya lawan.

Kekayaan yang Tidak Bisa Dipindahkan

Hal yang paling menarik dari Komodo adalah betapa terbatas rumahnya. Ia hanya hidup liar di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang, Gili Dasami, dan sebagian pesisir Pulau Flores. Tidak ada tempat lain di dunia tempat satwa ini bisa ditemui di alam bebas. Wajar jika kawasan ini ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1991, dan Komodo masuk daftar New 7 Wonders of Nature pada 2011.

Dengan kata lain, Komodo adalah aset yang tidak bisa digandakan atau dipindahkan. Kalau hilang dari sini, ia hilang dari bumi.

Ilustrasi AI: Seekor Komodo bertengger di atas bebatuan dengan latar teluk biru dan perbukitan savana.

Pemburu yang Sabar, Bukan Pemalas

Banyak pengunjung mengira Komodo hanya kadal malas yang gemar berjemur. Anggapan itu keliru. Komodo adalah pemburu yang sabar dan cermat. Lidah bercabangnya berfungsi sebagai alat penciuman: setiap kali menjulur, ia menangkap partikel bau di udara, bahkan dari bangkai yang jauhnya beberapa kilometer.

Mangsanya meliputi rusa, babi hutan, dan kerbau liar. Gigitannya mengandung bisa yang melemahkan korban, jadi Komodo kerap cukup menunggu. Jangan pula remehkan kecepatannya. Dalam jarak pendek, ia mampu berlari sekitar 20 km/jam.

Rapuh Sejak Menetas

Menariknya, predator puncak ini justru memulai hidup sebagai makhluk yang rentan. Anak Komodo yang baru menetas bisa dimangsa Komodo dewasa. Karena itu, mereka menghabiskan masa kecil di atas pohon dan baru turun ke tanah ketika tubuhnya sudah cukup kuat. Pelajarannya jelas: bahkan makhluk paling tangguh pun bergantung pada habitat yang utuh untuk bisa tumbuh dewasa.

Wisata yang Baik Dimulai dari Aturan yang Ditaati

Berkunjung ke Taman Nasional Komodo menawarkan pengalaman yang jarang ada di tempat lain. Untuk bertemu Komodo, kamu bisa ke Pulau Komodo atau Pulau Rinca dengan didampingi ranger lokal yang membawa tongkat bercabang. Merekalah yang paling paham perilaku satwa ini dan tahu kapan harus menjaga jarak.

Untuk panorama, Pulau Padar adalah pilihan terbaik. Gugusan teluk dan perbukitan dari puncaknya termasuk pemandangan paling ikonik di Indonesia. Hanya saja, Komodo praktis tidak lagi ditemukan di sana, jadi Padar dinikmati untuk lanskapnya.

Ilustrasi AI: Seekor Komodo di antara semak tropis dengan latar perbukitan hijau dan teluk saat senja.

Bawalah topi, air minum, tabir surya, dan alas kaki yang nyaman, karena cuaca di sana terik. Cek juga aturan serta tiket terbaru langsung di Balai Taman Nasional Komodo, sebab ketentuannya bisa berubah. Satu hal yang tidak boleh ditawar: ikuti arahan ranger dan jaga jarak aman.

Status Terancam Punah Harus Jadi Alarm

Inilah bagian yang menurut saya paling penting. Sejak 2021, IUCN menetapkan status Komodo sebagai Terancam Punah (Endangered). Ancamannya antara lain perubahan iklim, kenaikan permukaan laut yang mengikis habitat pesisir, serta menyusutnya satwa mangsa seperti rusa.

Artinya, pariwisata di kawasan ini tidak boleh hanya mengejar jumlah kunjungan. Ia harus ikut menjaga satwa dan ekosistem yang membuat tempat ini layak dikunjungi. Sebab tanpa Komodo yang sehat dan lingkungan yang lestari, tidak ada lagi yang bisa kita tawarkan pada dunia.