Konten dari Pengguna

Mengenal OBE, Kurikulum untuk Pembelajar Masa Depan

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Tuntutan dan tantangan sebuah negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dan society 5.0 erat kaitannya dengan inovasi yang diciptakan oleh sumber daya yang berkualitas. Tentunya untuk melahirkan sumber daya yang inovatif dan adaptif, diperlukan penyesuaian terhadap kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan dan pembelajaran yang diterapkan. Kurikulum yang sifatnya dinamis, harus diselaraskan untuk memenuhi kebutuhan profil lulusan masa depan. Kurikulum Outcome Base Education atau disingkat OBE menjadi salah satu pilihan, yang memberi harapan terhadap terpenuhinya profil lulusan yang memiliki bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Apa itu OBE?

Menurut Spady (1994) OBE adalah pendekatan komprehensif untuk menjalankan sistem pendidikan yang berfokus pada pencapaian tujuan pembelajaran dari setiap peserta didik. OBE berfokus pada hasil atau pencapaian spesifik yang diharapkan dari suatu program atau kurikulum. Dalam OBE, tujuan pembelajaran dan kriteria keberhasilan diidentifikasi dengan jelas sebelumnya, dan kemudian pengajaran dan penilaian dirancang untuk memastikan bahwa peserta didik mencapai hasil yang diinginkan.

Masih menurut Spady (1994) OBE memiliki 5 elemen kunci yang digambarkan dalam piramida seperti gambar dimana paradigma berada paling atas dan praktik berada paling bawah.

1) Paradigma

Apa yang dipelajari peserta didik lebih penting daripada kapan dan bagaimana mempelajarinya.

2) Tujuan

- Membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, kompetensi dan pengalaman belajar agar sukses setelah lulus

- Struktur dan fungsi sekolah harus mendukung tercapainya hasil belajar maksimal

3) Premis

- Semua peserta didik dapat belajar tetapi tidak dalam waktu dan cara yang sama

- Keberhasilan belajar menghasilkan keberhasilan belajar yang lebih banyak

- Keberhasilan belajar secara langsung dipengaruhi oleh kondisi dan wewenang sekolah

4) Prinsip

- Kejelasan fokus dari luaran yang ingin dicapai

- Peluang yang diperluas untuk mendukung keberhasilan belajar

- Harapan yang tinggi terhadap kesuksesan semua peserta didik

- Mendesign kurikulum dari outcome

5) Domain Praktik

- Mendefinisikan outcome

- Merancang kurikulum

- Menghasilkan pembelajaran

- Mendokumentasi hasil

- Menentukan kemajuan

Perkembangan Kurikulum OBE

Kurikulum OBE pertama kali dikembangkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Namun, penggunaan dan evolusi OBE telah berlangsung selama beberapa dekade. Konsep OBE pertama kali muncul pada awal abad ke-20. Pada masa itu, beberapa pendidik dan filsuf pendidikan seperti John Dewey dan Ralph Tyler mulai mempertimbangkan pentingnya menentukan tujuan konkret dari pendidikan. Mereka menekankan pentingnya menentukan apa yang seharusnya dicapai oleh peserta didik di akhir suatu program pendidikan.

Pada era tahun 1960-an, gerakan perencanaan kurikulum semakin menekankan perlunya mendefinisikan tujuan pendidikan dengan jelas dan mengukur pencapaian peserta didik terhadap tujuan tersebut. Pada tahun 1980-an, konsep OBE mulai diperkenalkan secara lebih luas di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat. Beberapa negara bagian di Amerika Serikat menerapkan inisiatif OBE di sekolah-sekolah mereka dengan tujuan untuk meningkatkan akuntabilitas dan memastikan bahwa peserta didik memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang relevan dengan kehidupan nyata. Di tahun 1990-an, istilah Outcome-Based Education semakin populer dan banyak digunakan di dunia pendidikan. Banyak negara dan sistem pendidikan di seluruh dunia mulai mengadopsi atau menyesuaikan prinsip-prinsip OBE dalam kurikulum mereka.

Australia dan Afrika Selatan mengadopsi kebijakan OBE sejak tahun 1990an hingga pertengahan tahun 2000an, namun ditinggalkan karena adanya penolakan besar dari masyarakat. Amerika Serikat telah memiliki program OBE sejak tahun 1994 yang telah diadaptasi selama bertahun-tahun. Pada tahun 2005, Hong Kong mengadopsi pendekatan berbasis hasil untuk universitas-universitasnya. Malaysia menerapkan OBE di semua sistem sekolah umum mereka pada tahun 2008. Uni Eropa telah mengusulkan perubahan pendidikan untuk fokus pada hasil, di seluruh UE. Dalam upaya internasional untuk menerima OBE, The Washington Accord dibentuk pada tahun 1989, merupakan persetujuan untuk menerima gelar sarjana teknik yang diperoleh dengan menggunakan metode OBE.

Pentingnya Kurikulum OBE di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Kurikulum OBE memiliki relevansi yang sangat besar di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, karena memungkinkan pendidikan untuk beradaptasi dengan perubahan cepat dalam teknologi dan tuntutan dunia kerja modern. Beberapa hal yang menjadi alasan mengapa OBE diperlukan. Pertama, OBE memastikan bahwa tujuan pembelajaran dan hasil yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan dunia nyata, di mana teknologi terus berkembang dengan cepat, peserta didik perlu memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam konteks digital. Kedua, dibutuhkan fleksibilitas dalam pendidikan.

OBE memungkinkan pendidik dan lembaga pendidikan untuk menyesuaikan kurikulum dan metode pengajaran agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi. Keterampilan abad-21 seperti literasi digital, pemecahan masalah, kreativitas, kritis berpikir, dan komunikasi melalui media digital juga sangat penting untuk dikuasai oleh peserta didik. Ketiga, OBE memungkinkan lembaga pendidikan untuk beradaptasi dengan perubahan ini dengan mengidentifikasi dan memprioritaskan tujuan pembelajaran yang paling relevan dengan lingkungan teknologi yang terus berubah. Dengan mengadopsi OBE, pendidikan dapat memberikan manfaat yang lebih konkret dan dapat diukur bagi peserta didik.

Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum OBE

Setiap kurikulum pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kerena pada dasarnya, sistem paling sempurna secara teori pun, tentu mengalami hambatan dan kendala pada saat penerapannya dan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kurikulum OBE memiliki beberapa kelebihan diantaranya dijelaskan sebagai berikut :

1) Kejelasan outcome, Fokus pada outcome, menciptakan harapan yang jelas tentang apa yang perlu dicapai pada akhir studi.

2) Fleksibilitas. Dengan pemahaman yang jelas tentang apa yang perlu dicapai, pendidik dapat menyusun pembelajaran mereka berdasarkan kebutuhan peserta didik,

3) Perbandingan. Institusi dapat membandingkan hasil untuk menentukan kredit apa yang akan diberikan kepada peserta didik. Hasil yang diartikulasikan dengan jelas akan memungkinkan institusi untuk menilai prestasi peserta didik dengan cepat, sehingga mengarah pada peningkatan pergerakan peserta didik,

4) Keterlibatan. Peningkatan keterlibatan peserta didik memungkinkan tanggungjawab yang lebih besar atas pembelajarannya sendiri, dan mereka harus belajar lebih banyak melalui pembelajaran individu ini.

Meskipun OBE memiliki tujuan yang baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan peserta didik untuk dunia nyata, pendekatan ini juga menghadapi kontroversi dan kritik. Beberapa kelemahan kurikulum OBE diantaranya:

1) Evolusi dan adaptasi. Beberapa negara dan institusi pendidikan mengadopsi elemen-elemen dari OBE, sementara yang lain mungkin memilih untuk menggabungkan pendekatan ini dengan pendekatan pendidikan lainnya,

2) OBE mungkin terlalu memusatkan perhatian pada pencapaian hasil tertentu, sehingga mungkin mengabaikan aspek penting dari pendidikan seperti pengembangan karakter, kreativitas, dan pemikiran kritis,

3) OBE dapat mempersempit ruang bagi kreativitas dan inovasi dalam pendidikan. Fokus yang terlalu ketat pada pencapaian tujuan tertentu dapat mengurangi fleksibilitas dan kebebasan dalam metode pengajaran dan pembelajaran,

4) OBE mungkin tidak selalu memenuhi kebutuhan individu dengan baik, terutama untuk peserta didik yang membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih khusus,

5) Jika tidak diimplementasikan dengan bijak, OBE dapat menciptakan tekanan tambahan pada peserta didik dan pendidik untuk mencapai hasil tertentu,

6) Membutuhkan sistem penilaian yang kuat sehingga kurangnya alat penilaian yang tepat atau kurangnya pelatihan bagi pendidik dapat menghambat keefektifan OBE,

7) Penerapan OBE dapat memerlukan investasi waktu, uang, dan sumber daya manusia yang signifikan. Kurangnya sumber daya atau dukungan dapat menghambat keberhasilan implementasi OBE.

Penting untuk diingat bahwa keberhasilan implementasi OBE tergantung pada bagaimana pendekatan ini diterapkan dan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan konteks pendidikan khususnya. Kritik-kritik ini dapat diatasi dengan desain yang bijak dan pengelolaan OBE yang baik.

Penulis: Dr. Sri Yunita, S.Pd.,M.Pd., Universitas Negeri Medan