Konten dari Pengguna

Penerapan Kurikulum OBE dan Tantangan di Era Revolusi Industri 4.0

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Penulis: A. Dwie Mochammad Abduh T, Ketua Program Studi S1 Agroteknologi, Universitas Andi Sudirman

Perjalanan pendidikan di Indonesia tidak luput dari pengaruh perubahan zaman yang menyebabkan terjadinya pergeseran tujuan pendidikan nasional. Globalisasi yang melanda seluruh dunia di abad ke 21 menyebabkan tujuan pendidikan nasional tidak lagi hanya untuk mencerdaskan bangsa dan memerdekakan manusia namun bergeser mengarah kepada pendidikan sebagai komoditas karena lebih menekankan penguasaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEKS) yang bersifat pragmatis dan materialis.

Hal ini tentu menjadi perhatian kita semua mengingat tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam UU No 20 Tahun 2003, Pasal 3, tidak hanya berorientasi terhadap pragmatism dan materialisme namun memiliki tujuan yang utuh untuk membentuk manusia yang memiliki iman dan taqwa (IMTAQ) serta menguasai IPTEKS.

Pergeseran tujuan pendidikan nasional tersebut semakin terasa saat ini dengan terjadinya krisis karakter di bidang pendidikan, karena pragmatism dalam merespon kebutuhan pasar kerja lebih menekankan kepada hal-hal yang bersifat materialisme sehingga melupakan pengajaran dengan semangat kebangsaan, keadilan sosial, serta sifat-sifat kemanusiaan yang memiliki moral luhur sebagai warga negara.

Di era revolusi industri 4.0 dan badai pandemi Covid-19 memaksa perguruan tinggi mempersiapkan dan merubah langkah-langkah strategis dalam mengantisipasi perubahan dunia yang kini telah dikuasai perangkat digital. Ada banyak langkah strategis yang harus dirumuskan dalam berbagai aspek mulai dari kelembagaan, bidang studi, kurikulum, sumber daya, serta pengembangan cyber university, risbang hingga inovasi.

Saat ini bagi suatu perguruan tinggi dalam mencapai kesuksesan pada kuantitas saja tidak lagi menjadi indikator utama, akan tetapi adalah kualitas lulusannya. Tuntutan dan tantangan sebuah negara dalam menghadapi mencapai kesukesan di revolusi industri 4.0 erat kaitannya dengan inovasi yang diciptakan oleh sumber daya yang berkualitas, sehingga perguruan tinggi wajib dapat menjawab tantangan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja di era globalisasi.

Tentunya untuk melahirkan sumber daya yang inovatif dan adaptif terhadap teknologi, diperlukan penyesuaian kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan dan pembelajaran dalam hal teknologi informasi, internet, analisis big data dan komputerisasi. Maka Perguruan tinggi wajib menyediakan infrastruktur pembelajaran tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang terampil dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia.

Selanjutnya kualitas lulusan perguruan tinggi saat ini berdaya dan responsif serta memiliki jiwa entrepreneur. Tentu ini menjadi tantangan menarik bagi perguruan tinggi untuk menjawabnya, penguatan indikator perguruan tinggi pada kualitas dan bukan hanya kuantitas. Saat ini dalam pengembangannya, PT dalam penguatan tujuannya harus didasarkan untuk meningkatkan kualitas dan menjawab kebutuhan dunia kerja dan industri kekinian.

Kurikulum merupakan nyawa dari suatu program pembelajaran sehingga keberadaannya memerlukan rancangan, pelaksanaan serta evaluasi secara dinamis sesuai dengan perkembangan zaman, kebutuhan IPTEKS serta kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat, maupun pengguna lulusan perguruan tinggi. Perkembangan IPTEKS di abad ke-21 yang berlangsung secara cepat mengikuti pola logaritma, menyebabkan Standar Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) juga mengikuti perubahan tersebut. Dalam kurun waktu enam tahun SN-Dikti telah mengalami tiga kali perubahan yaitu seiring dengan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Perguruan tinggi dalam menyusun atau mengembangkan kurikulum, wajib mengacu pada KKNI dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi dalam pengembangan kurikulum di era Industri 4.0 adalah menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan literasi baru meliputi literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia yang berakhlak mulia berdasarkan pemahaman keyakinan agama.

Beragam model pendekatan atau paradigma OBE yang digunakan dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum, di antaranya yang paling sederhana terdiri dari tiga tahapan yang saling berinteraksi, dapat dijelaskan secara singkat yaitu Outcome Based Curriculum (OBC), pengembangan kurikulum yang didasarkan pada profil dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Berlandaskan CPL ini kemudian diturunkan bahan kajian (body of knowledge), pembentukan mata kuliah beserta bobot SKS-nya, Outcome Based Learning and Teaching (OBLT), pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang didefinisikan sebagai interaksi dalam kegiatan belajar antara dosen, mahasiswa, dan sumber belajar. Salah satu prinsip penting OBLT adalah ketepatan pemilihan bentuk dan metode pembelajaran yang akan dilakukan oleh mahasiswa wajib mengacu dan sesuai dengan CPL. Outcome Based Assessment and Evaluation (OBAE), pendekatan penilaian dan evaluasi yang dilakukan pada pencapaian CPL dalam rangka untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan. Penilaian dilakukan pada proses pembelajaran dan pada hasil pencapaian CPL.

Permasalahan dan Tantangan dosen dalam penerapan Outcome-Based Education (OBE) di pendidikan vokasi dikampus UNIASMAN meliputi empat tantangan utama, yaitu:

1) Beban kerja dosen;

2) Penyampaian kurikulum yang buruk;

3) Sistem implementasi yang tidak stabil; dan

4) kurangnya dukungan administrator.

Masalah utama dengan implementasi pendidikan berbasis hasil adalah definisi luas dari pendidikan berbasis hasil pendidikan itu sendiri. Pemahaman tentang bagaimana merancang pendidikan berbasis hasil (OBE) diawali dari seberapa jauh seorang dosen mampu merancang tahapan-tahapan penyusunannya.

Sementara OBE terdapat 12 tantangan penerapan OBE yaitu:

1) Tantangan Penerimaan OBE;

2) Pergeseran Paradigma;

3) Menjaga Kualitas Pendidikan;

4) Merestrukturisasi Hasil dan Teknik Penilaian;

5) OBE sebagai Prioritas Utama;

6) Pendekatan Design Down;

7) Dampak pada Siswa Berkebutuhan Khusus;

8) Peran Guru;

9) Tanggung jawab pembelajaran;

10) Break Typecast;

11) Gelombang Oposisi; dan

12) Persepsi Siswa dan Guru.

Implementasi OBE adalah teori pendidikan yang mendasarkan setiap bagian dari sistem pendidikan di sekitar tujuan (hasil). Pendidikan berbasis hasil (OBE) adalah tentang mempersiapkan siswa untuk hidup, bukan hanya menyiapkan mereka untuk kuliah atau pekerjaan. Hal ini didasarkan pada empat konsep, 1) kejelasan fokus (desain kurikulum, penyampaian pembelajaran, penilaian sesuai dengan hasil yang diharapkan), 2) kesempatan yang diperluas (cara dan berapa kali siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mendemonstrasikan), 3 ) harapan yang tinggi (semua siswa mampu melakukan hal-hal yang signifikan) dan 4) design down (mendesain kurikulum dari perspektif hasil yang diharapkan). Metode berbasis hasil telah diadopsi dalam sistem pendidikan di seluruh dunia, di berbagai tingkatan.

Sistem pendidikan tradisional kehilangan signifikansinya di era globalisasi. Semua hal berubah dengan sangat cepat dan terus-menerus di dunia saat ini. Lebih banyak keterampilan diperlukan untuk mengembangkan teknologi dengan sangat cepat. Untuk menghadapi perkembangan teknologi, organisasi akademik harus menghasilkan lulusan. Oleh karena itu, adalah wajib untuk beralih dari pendidikan tradisional ke pendidikan berbasis hasil untuk mengatasi kebutuhan tersebut. Tantangan pendidikan abad 21 adalah peran dan strategi dalam menjembatani kesenjangan antara proses pendidikan di Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan kebutuhan inovasi. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mewadahi pendidikan abad 21 adalah OBE.