Proyek Internal Kampus Bisa Menjadi Latihan Kerja Mahasiswa
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proyek internal kampus menawarkan jalan awal bagi mahasiswa untuk berlatih memenuhi kebutuhan pengguna vokasi tanpa harus menunggu kontrak dengan industri besar. Kebutuhan sederhana seperti sistem persuratan dan layanan akademik pendukung dapat menjadi persoalan riil yang diselesaikan lewat perkuliahan. Model ini menempatkan manfaat karya, bukan semata jumlah tugas yang terkumpul, sebagai ukuran awal hasil belajar mahasiswa.
Pengalaman tersebut dipaparkan Mantan Direktur Politeknik Negeri Ketapang periode 2018–2022, Endang Kusmana, dalam pembahasan metode pembelajaran berbasis proyek di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Paparan itu menyoroti kesulitan dosen ketika harus mempertemukan materi, jadwal semester, kemampuan mahasiswa, dan kebutuhan dunia kerja. Endang menjelaskan bahwa proyek bisa dimulai dari persoalan yang berada di lingkungan kampus sendiri.
"Projek-projek kecil dulu ya," kata Endang. Menurutnya, memilih lingkup yang terukur membantu kampus menyiapkan pendampingan, membagi peran mahasiswa, dan menilai apakah pekerjaan dapat diselesaikan dalam satu semester. Gagasan itu berbeda dari anggapan bahwa setiap kegiatan pembelajaran proyek harus bekerja sama dengan perusahaan besar atau menghasilkan inovasi berskala nasional.
Proyek Internal Kampus Dimulai dari Kebutuhan Terdekat
Contoh yang dikemukakan Endang berasal dari pengembangan sejumlah layanan nonakademik. Sistem informasi persuratan dan pengelolaan tugas akhir termasuk jenis pekerjaan yang sempat dikerjakan sebagai bagian dari pembelajaran. Mahasiswa menghadapi persoalan pengguna yang jelas: dokumen harus bisa dicari, alur persetujuan perlu tertata, dan informasi tidak boleh hilang ketika berpindah petugas. Persoalan teknis seperti itu dapat dipecah menjadi pekerjaan mingguan.
proyek internal kampus juga memungkinkan dosen menyusun batas pencapaian sesuai kemampuan satu kelas. Pada tahap awal, kelompok dapat memetakan persoalan dan membuat contoh antarmuka. Tahap berikutnya mencakup pengujian dengan pengguna, perbaikan berdasarkan masukan, lalu penyampaian produk akhir. Urutan tersebut penting agar mahasiswa tidak menganggap proyek sebagai kegiatan membuat aplikasi secara terburu-buru menjelang ujian.
"Jadi mereka tuh mengerjakan projek nyata," ujarnya ketika menjelaskan pengalaman di bidang teknologi informasi. Dalam skema yang ia paparkan, pekerjaan dilakukan dalam kelompok dengan pembimbing dosen dan mitra pengguna. Hasilnya dipresentasikan secara berkala sehingga pemesan pekerjaan dapat mengoreksi rancangan. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya mendengar penilaian akademik, tetapi juga menerima keberatan dari orang yang kelak memakai hasil pekerjaannya.
Salah satu tantangannya adalah menentukan ruang lingkup yang benar-benar realistis. Permintaan membuat satu sistem lengkap bisa melebihi waktu dan keterampilan mahasiswa, terutama pada tingkat awal. Karena itu, dosen perlu membedakan fitur yang wajib selesai, fitur tambahan, dan pekerjaan yang masih membutuhkan tindak lanjut. Penilaian pun perlu memperhatikan cara tim mendokumentasikan keputusan serta menangani perubahan permintaan.
Proyek Kecil dan Pembimbingan Bertahap
Merujuk publikasi 'Prodi TI Terapkan Project Based Learning' oleh Politeknik Negeri Ketapang pada 7 Maret 2022 mencatat dimulainya penerapan pembelajaran berbasis proyek di Program Studi Teknik Informatika. Kegiatan itu melibatkan mahasiswa semester dua dan empat. Dokumentasi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan berbasis proyek memang pernah dijalankan sebagai kebijakan pembelajaran, bukan sekadar contoh hipotetis dalam presentasi.
"PBL tidak mesti berbasis projek yang dikembangkan di luar," kata Endang. Endang menerangkan bahwa sumber proyek tidak hanya berasal dari satu jalur. Tugas penelitian dosen, kebutuhan administrasi internal, gagasan kompetisi, serta permintaan mitra luar dapat dipakai selama terkait dengan capaian pembelajaran. Perbedaan sumber memengaruhi standar keberhasilan. Proyek internal mungkin dinilai dari kemudahan penggunaan, sedangkan proyek masyarakat dapat menuntut pengujian langsung di lapangan.
"Nanti selesai di semester tersebut produknya bisa digunakan oleh mitra," kata Endang. Pernyataan ini menggambarkan sasaran akhir yang ia inginkan, tetapi tidak berarti setiap hasil kerja mahasiswa otomatis siap dioperasikan. Produk masih memerlukan pengujian, pemeliharaan, dan penanggung jawab setelah semester berakhir. Kampus perlu menentukan siapa yang menerima hasil, siapa yang mengelola perbaikan, dan bagaimana kelanjutan proyek dicatat.
Kebutuhan semacam itu membuat hubungan antara pengajar dan unit pengguna lebih penting daripada kecanggihan alat yang digunakan. Tanpa pihak yang bersedia memberi umpan balik, tugas mudah berubah menjadi simulasi dengan asumsi sepihak. Sebaliknya, kebutuhan kecil yang jelas dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar menepati jadwal, menyampaikan kendala, dan mempertanggungjawabkan keputusan teknis.
Dokumen serah terima perlu dipikirkan sejak layanan internal dirancang. Unit kampus harus mengetahui akun pengelola, petunjuk pengoperasian, serta batas penggunaan aplikasi yang dibuat mahasiswa. Ketika semester selesai, pergantian anggota tim dapat terjadi. Tanpa informasi itu, karya yang semula memecahkan masalah administrasi berisiko tidak dapat dipakai pada tahun berikutnya.
Pengujian bersama staf administrasi memberi masukan yang tidak selalu muncul dari simulasi kelas. Staf mungkin membutuhkan kolom pencarian, aturan akses dokumen, atau fitur yang membuat pekerjaan berulang lebih sederhana. Setiap masukan sebaiknya dipilah berdasarkan tingkat kepentingannya, kemudian dihubungkan dengan waktu dan kemampuan tim.
Keberhasilan proyek internal kampus akhirnya bergantung pada kecocokan masalah dengan kemampuan mahasiswa serta kesediaan pengguna menguji hasilnya. Ukuran keberhasilannya bukan banyaknya aplikasi yang dibuat, melainkan apakah pengalaman tersebut membentuk kemampuan memecahkan masalah sekaligus menghasilkan pekerjaan yang dapat dievaluasi secara nyata.
Ketika sistem yang dikerjakan menyentuh alur kerja kampus, peserta proyek juga harus mengenali prosedur otorisasi. Mahasiswa tidak dapat mengubah proses administrasi hanya karena rancangan digitalnya lebih sederhana. Pengguna harus menyetujui perubahan, termasuk siapa yang berhak membaca dan memperbarui informasi. Persoalan ini memberi pengalaman bahwa pekerjaan teknologi membutuhkan komunikasi organisasi, bukan keterampilan pemrograman saja.

