Konten dari Pengguna

Tiga Mahasiswa STT Nurul Fikri Tembus Final Kompetisi Keamanan Siber Dunia

foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
foto: Istimewa

DEPOK – Tiga mahasiswa dari Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Nurul Fikri berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan lolos ke babak final kompetisi keamanan siber global, Country-to-Country Capture The Flag (C2C-CTF) 2025. Mereka termasuk dalam 100 peserta terbaik dunia yang akan bertanding secara langsung di Northeastern University, Boston, Amerika Serikat, pada 6-10 Juli 2025.

Ketiga mahasiswa yang akan mewakili Indonesia tersebut adalah Muhammad Amir, Ferdiansyah, dan Gebby Wandikbo, yang seluruhnya merupakan mahasiswa program studi Teknik Informatika. Mereka akan didampingi oleh Slamet Santoso, S.Kom, yang merupakan dosen pembimbing keamanan siber di STT Nurul Fikri.

Perjalanan mereka menuju Boston dipastikan setelah berhasil melewati babak kualifikasi daring yang ketat pada 7-9 Februari 2025. Dalam babak tersebut, Muhammad Amir (codename: Frappe De Ketoprak) dan Gebby Wandikbo (codename: Namikaze Gebbz) sama-sama meraih skor 3120 dan menempati peringkat 59 serta 60 dunia. Sementara itu, Ferdiansyah (codename: Adakada) menyusul dengan skor 2710 di peringkat 71. Kelolosan mereka dikonfirmasi melalui surat undangan resmi dari panitia C2C-CTF.

C2C-CTF adalah kompetisi tahunan bergengsi yang diselenggarakan oleh International Cyber Security Center of Excellence (INCS-COE) bersama Northeastern University. Ajang ini mengumpulkan talenta-talenta keamanan siber terbaik dari berbagai negara untuk memecahkan berbagai tantangan yang mensimulasikan skenario dunia nyata. Kategori yang diujikan meliputi berbagai disiplin ilmu keamanan siber tingkat lanjut, seperti forensik digital, kriptografi, rekayasa balik, keamanan web, dan pertahanan siber.

Partisipasi dalam ajang ini menjadi sangat relevan di tengah meningkatnya ancaman siber di Indonesia terhadap berbagai sektor krusial seperti pemerintahan dan perbankan. Kehadiran para mahasiswa di panggung global ini sejalan dengan program transformasi digital nasional yang dicanangkan pemerintah Indonesia, yang menekankan mendesaknya pengembangan sumber daya manusia ahli di bidang keamanan siber.

Bagi para mahasiswa, kompetisi ini bukan sekadar adu keahlian. Muhammad Amir, yang sebelumnya telah berpartisipasi dalam kompetisi CyberJawara, berharap dapat memperdalam kemampuannya di tingkat internasional. Serupa dengan itu, Ferdiansyah bertekad menjadikan ajang ini sebagai pengalaman berharga untuk menjadi mahasiswa berprestasi dan memperluas jaringan dengan komunitas siber global. Sementara Gebby Wandikbo, mahasiswa asal Wamena, ingin memperluas wawasannya dan mendapatkan pengalaman baru di kompetisi tingkat dunia.

Keberhasilan tim STT Nurul Fikri ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi almamater, tetapi juga menjadi bukti potensi talenta lokal di kancah internasional. Partisipasi mereka di Boston diharapkan dapat mendorong kolaborasi internasional dan meningkatkan reputasi Indonesia dalam bidang keamanan siber global.