Pendidikan Indonesia di Era Merdeka Belajar

Saya adalah mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kukuh Surya Atmaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan selalu menjadi sorotan utama di Indonesia. Ia bukan hanya soal sekolah dan kurikulum, tetapi juga tentang bagaimana bangsa ini mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global. Melalui program Merdeka Belajar, pemerintah mencoba menghadirkan terobosan: pendidikan yang lebih fleksibel, relevan, dan berpihak pada kebutuhan peserta didik.
Namun, kebijakan besar ini tidak akan berarti banyak bila tidak diterjemahkan dengan baik di lapangan. Pertanyaannya, apakah semangat Merdeka Belajar sudah benar-benar dirasakan oleh siswa, guru, dan orang tua?
Merdeka Belajar dan Pembangunan Manusia
Michael Todaro dalam Economic Development menegaskan bahwa pembangunan sejati bukan hanya pertumbuhan ekonomi, melainkan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pendidikan menjadi kunci karena ia membuka pilihan hidup yang lebih luas bagi setiap individu.
Merdeka Belajar adalah upaya ke arah itu. Dengan sistem yang lebih menekankan kompetensi dan minat bakat, siswa tidak lagi sekadar dipandang sebagai “produk ujian”. Mereka diarahkan untuk berkembang sesuai potensi masing-masing. Namun, praktiknya masih menghadapi tantangan: tidak semua sekolah siap berubah, dan tidak semua guru mendapat pelatihan memadai.
Digitalisasi: Peluang dan Kesenjangan
Pandemi Covid-19 memang mempercepat digitalisasi pendidikan. Platform seperti Rumah Belajar dan Merdeka Mengajar lahir untuk mempermudah akses belajar. Tapi realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan: siswa di kota besar bisa menikmati pembelajaran daring dengan lancar, sementara banyak anak di daerah 3T kesulitan karena keterbatasan jaringan dan perangkat.
Artinya, digitalisasi memang menjanjikan pemerataan, tapi perlu strategi tambahan agar tidak menciptakan jurang baru dalam akses pendidikan.
Peran Anggaran dan Program Inklusif
Komitmen pemerintah terlihat dari alokasi anggaran pendidikan sebesar minimal 20% dalam APBN. Program seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) menjadi bukti nyata keberpihakan pada kelompok rentan. Namun, anggaran besar harus disertai pengawasan dan inovasi agar benar-benar sampai ke tujuan.
Beasiswa dan bantuan bukan sekadar soal angka, melainkan kesempatan bagi anak-anak untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Di sinilah pendidikan berperan sebagai instrumen mobilitas sosial.
Kolaborasi: Kunci Keberhasilan
Pendidikan tidak bisa dibebankan hanya pada pemerintah. Sekolah, guru, orang tua, industri, dan masyarakat luas harus ikut terlibat. Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) misalnya, membuka ruang kolaborasi perguruan tinggi dengan dunia usaha. Hal ini bukan hanya melatih keterampilan mahasiswa, tetapi juga menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan dunia kerja.
Optimisme yang Realistis
Kita tidak bisa menutup mata bahwa masih ada pekerjaan rumah besar: kualitas guru yang belum merata, fasilitas sekolah yang tertinggal, hingga pola pikir orang tua yang masih menekankan nilai ujian daripada proses belajar.
Namun, optimisme tetap diperlukan. Jika Merdeka Belajar dipahami sebagai gerakan bersama, bukan hanya program pemerintah, maka mimpi mencetak generasi emas 2045 bukan sekadar slogan.
Penutup
Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Pemerintah sudah memberi arah lewat Merdeka Belajar, tapi suksesnya bergantung pada seberapa jauh masyarakat ikut bergerak. Dari guru yang mau berinovasi, orang tua yang mendukung proses, hingga komunitas yang menyediakan ruang belajar alternatif.
Merdeka Belajar bukan hanya soal kurikulum baru, tetapi soal budaya baru dalam belajar: lebih bebas, lebih relevan, dan lebih manusiawi.
