kumparan
12 Agustus 2019 11:29

21 Menit yang Lumpuhkan Ibu Kota

LIPSUS: Ilustrasi mati listrik PLN
Ilustrasi mati listrik PLN Foto: Argy Pradypta/kumparan

Penghabisan akhir pekan Minggu (4/8) lalu berubah menjadi mimpi buruk bagi warga di tiga provinsi--DKI Jakarta, Jawa barat dan Banten. Listrik padam berjam-jam dalam skala luas. Aliran listrik yang terputus menyebabkan beberapa insiden fatal bahkan hingga merenggut nyawa.

Dampaknya kali ini juga terasa lebih parah karena sistem transportasi, komunikasi, hingga ekonomi yang kini semakin bergantung pada suplai listrik lumpuh. Penyebab blackout--yang di beberapa daerah baru pulih 24 jam kemudian--justru tak masuk radar mitigasi PLN. Perusahaan setrum itu gagap mengantisipasi gangguan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Susanto benar-benar khawatir melihat putri bungsunya terus menangis, Minggu (4/8) malam itu. Sudah satu jam lebih ia dan sang istri mencoba menenangkan Saliha, yang baru berumur enam bulan. Sejak siang, si kecil kepanasan.
Padamnya listrik membuat kipas angin yang biasa menemani Saliha tidur menjadi tidak berguna. Si bungsu juga kegerahan karena tak bisa mandi sore. Terganggunya jaringan listrik juga berakibat distribusi air dari PAM macet.
Susanto dan istrinya cuma bisa mengipasi Saliha untuk menenangkannya. Waktu menunjukkan pukul 20.30 WIB, ketika suara teriakan tiba-tiba mengagetkan Susanto. "Kebakaran, kebakaran, ada api," teriak warga sembari lari berhamburan.
Susanto buru-buru menggendong Saliha keluar rumah. Istri dan dua putrinya yang lain menyusul di belakang. Kondisi Gang 2 RT 05/RW 15, Menteng Atas, Jakarta Selatan, di depan rumah Susanto gelap gulita. Satu-satunya cahaya berasal dari api yang berkobar di belakang rumah.
Blackout, Mati listrik massal, kebakaran
Ilustrasi kebakaran. Foto: ANTARA FOTO/Amrizal
"Saya keluar ini aja udah tubruk-tubrukan sama orang. Nyelamatin nyawa dulu aja, saya enggak mikirin benda, yang penting anak-anak saya," tutur Susanto kepada kumparan, Rabu (7/8).
Warga cuma bisa menonton jilatan api melahap 28 rumah di kawasan tersebut. Listrik yang masih padam membuat tak ada air tersedia untuk memadamkan api. Satu orang tewas dan tiga lainnya mengalami luka bakar akibat kebakaran tersebut.
Asal api diduga dari lilin yang dinyalakan warga saat listrik padam. Api juga sempat membakar genset sehingga menimbulkan ledakan.
Kini, Susanto dan warga korban kebakaran mengungsi di dua tenda tak jauh dari TPU Menteng Pulo yang berjarak 30 meter dari rumahnya. Bagi Susanto, padamnya listrik selama berjam-jam di akhir pekan itu menjadi bencana.
Padamnya listrik bermula dari serangan gangguan beruntun pada jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kilovolt (kV) yang menghubungkan sistem kelistrikan Jawa bagian Timur dan Barat. Saluran transmisi terdiri dari empat sirkuit--dua di sisi Utara dan dua lagi di sisi Selatan Jawa.
Gangguan partial blackout sistem Jawa Bali
Gangguan partial blackout sistem Jawa Bali. Foto: Dok. PLN
Sripeni Inten Cahyani, Plt Direktur Utama PLN, menuturkan gangguan pertama terjadi pada sirkuit transmisi nomor 1 jalur Ungaran-Pemalang di sisi Utara pukul 11.27.04 WIB. Gangguan tersebut membuat sistem pengaman secara otomatis memutus aliran tegangan atau trip. Setelah sistem stabil, jaringan kembali terhubung.
Berselang 18 menit kemudian, gangguan kembali terjadi di transmisi sisi Utara pada 11.45.26 WIB. Kali ini masalah menimpa sirkuit nomor 2 Ungaran-Pemalang. Saat itu, dari empat jaringan transmisi tinggal dua yang berfungsi--satu di bagian Selatan dan satu di bagian utara, satu sirkuit lagi di bagian Selatan sedang dalam pemeliharaan.
Gangguan partial blackout sistem Jawa Bali
Gangguan partial blackout sistem Jawa Bali. Foto: Dok. PLN
Lalu, gangguan ketiga menerjang sirkuit nomor 1 sisi Utara pada pukul 11.48.07 WIB. Alhasil, dua jaringan transmisi di sisi utara lumpuh. Lepasnya sirkuit dari jaringan transmisi, menurut Sripeni, menimbulkan goncangan dalam sistem.
Transfer daya 1.287 megawatt (MW) dari Timur ke Barat yang melewati jaringan Utara beralih ke sirkuit nomor 1 di Selatan. Padahal, sirkuit tersebut sebelumnya telah menopang 979 MW. Tambahan daya membuat sirkuit nomor 1 di sisi Selatan menanggung total 2.266 MW dari kapasitas maksimalnya 2.000 MW.
Gangguan partial blackout sistem Jawa Bali
Gangguan partial blackout sistem Jawa Bali. Foto: Dok. PLN
Sistem proteksi Sirkuit 1 Selatan, yang mendeteksi kelebihan daya, langsung menyetop aliran listrik di jalur Kesugihan-Tasikmalaya. Akibatnya, "Aliran pasokan daya dari Timur ke Barat mengalami putus," kata Sripeni yang saat kejadian baru dua hari menjabat Plt Dirut PLN.
Kebutuhan listrik di Jawa bagian Barat selama ini banyak dipasok dari sistem pembangkit di Timur karena pertimbangan efisiensi biaya. Ongkos produksi listrik di Timur lebih murah dibanding di Barat.
Putusnya sistem transmisi Timur dan Barat memantik efek berantai. Jawa bagian Barat mengalami kekurangan suplai. Defisit listrik kemudian berpengaruh pada stabilitas turbin pembangkit di Barat.
"Frekuensinya mengalami drop sampai 46 Hertz (Hz)," jelas Sripeni. Alhasil, pembangkit-pembangkit itu satu per satu melepaskan diri dari sistem. Aliran listrik di Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat pun padam.
Siang itu, Sripeni memimpin langsung proses pemulihan dari Pusat Pengatur Beban Jawa-Bali (P2B) di Gandul, Depok, Jawa Barat. Strategi yang disiapkan mengandalkan PLTU Suralaya di Banten untuk memasok listrik 2.800 MW ke wilayah Jawa bagian Barat.
Kronologi Pemadaman Listrik Massal (Blackout)
Kronologi Pemadaman Listrik Massal (Blackout) Foto: Basith Subastian/kumparan
Masalahnya, turbin Suralaya perlu aliran listrik dari luar untuk beroperasi. Lalu, dikirimlah tegangan dari sistem bagian Timur ke Suralaya lewat PLTA Saguling dan Cirata. Dua pembangkit ini punya peran sebagai penstabil tegangan.
"Diharapkan (saat listrik) masuk, (pembangkit) Suralaya masih dalam posisi hot start. Artinya, PLTU dalam kondisi masih bertegangan, dia tidak mati sama sekali, itu perlu waktu empat jam untuk distart kembali," papar Sripeni.
Skenario itu tak berjalan mulus. Tegangan baru sampai di PLTU Suralaya pukul 17.36 WIB atau lima jam lebih setelah pembangkit melepaskan diri dari jaringan.
"Posisinya sudah cukup lama, sehingga masuk Suralaya posisi (turbin) sudah cold start. Mesin sudah dingin," ungkap Sripeni.
Di sisi lain, PLN tak bisa gegabah mengoperasikan pembangkit di bagian Barat dalam waktu bersamaan. Pembangkit, papar Sripeni, harus dihidupkan satu per satu dengan cermat dan hati-hati. Bila frekuensi kembali turun, dikhawatirkan pembangkit yang telah beroperasi akan melepaskan diri lagi dari sistem.
Ini sebabnya perlu waktu 6-12 jam hingga seluruh daerah yang mengalami pemadaman bisa teraliri listrik. "Kami akui prosesnya lambat," ungkap Sripeni kepada Jokowi, di Kantor PLN, Kebayoran Baru, Jakarta Pusat, Senin (5/8).
Sripeni Inten Cahyani memenuhi panggilan pimpinan Komisi VII DPR RI
Plt Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani memberikan keterangan pers usai memenuhi panggilan pimpinan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Selasa (6/7). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Dalam catatan kumparan, insiden blackout serupa terjadi tujuh kali dalam kurun waktu 22 tahun terakhir. Pada 13 April 1997, pemadaman listrik melanda di sebagian besar wilayah Jawa-Bali pada pukul 10.15 WIB. Penyebabnya adalah gangguan dalam sistem saluran tegangan ekstra tinggi 500 kV yang menyalurkan listrik 1.000 MW dari PLTU Suralaya ke dalam sistem di Gardu Induk (GI) Gandul sirkuit 1 di Jakarta. Kala itu, listrik mati hingga 10 jam.
Mati listrik massal juga terjadi pada Kamis, 12 September 2002. Ledakan GI di Cibinong menjadi penyebab blackout selama enam jam. Peristiwa tersebut sempat disinggung Presiden Jokowi saat menyambangi Kantor Pusat PLN untuk meminta penjelasan penjelasan padam listrik massal.
"Saya tahu peristiwa seperti ini pernah kejadian di tahun 2002, 17 tahun lalu, untuk Jawa dan Bali. Mestinya itu bisa jadi pelajaran kita bersama jangan sampai kejadian yang sudah pernah terjadi kembali terjadi lagi," ujar Jokowi.
Presiden Joko Widodo berkunjung ke kantor pusat PLN
Presiden Joko Widodo (kanan) saat berkunjung ke kantor pusat PLN, Senin (5/8). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada Kamis, 18 Agustus 2005, jaringan transmisi SUTET 500 KV Saguling, Cibinong, dan Cilegon mengalami kerusakan sehingga mengganggu PLTGU Muara Karang, PLTU Suralaya, PLTGU Tambak Lorok, dan PLTU Paiton. Blackout meliputi Sukabumi, Bogor, Depok, Bekasi, Banten, serta beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Bali.
Akibat dampak yang ditimbulkan dari padamnya listrik kala itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) tentang Penghematan Energi tertanggal 10 Juli 2005.
Selanjutnya pada tahun 2012, listrik kembali padam. Hasil investigasi menunjukan terdapat unsur sabotase dalam peristiwa tersebut. Enam tahun berselang, blackout kembali menerpa Jakarta dan Tangerang sekitar pukul 07.00, tepatnya pada Selasa (2/1/2018) dengan durasi tiga hingga empat jam.
Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), memperkirakan blackout di tiga provinsi dua pekan lalu berdampak pada 22 juta pelanggan PLN. Pemadaman listrik kali ini, menurutnya, memunculkan efek turunan berantai lantaran kehidupan masyarakat yang semakin berbasis teknologi banyak bergantung pada aliran listrik.
"Bukan hanya telepon seluler, tapi juga telepon lain-lain juga tidak bisa dipakai. Jaringan internet mati, kemudian sistem transportasi mati, sistem perbankan untuk layanan ATM, online banking semua, belum lagi lampu lalu lintas, transportasi menjadi terganggu," kata Fabby.
Langkah-langkah pemulihan yang ditempuh PLN, dinilai Fabby, menunjukan perusahaan pelat merah berlogo petir itu punya contingency plan bila terjadi kondisi darurat. Meski begitu, ia menyoroti keandalan sistem interkoneksi yang diterapkan.
"Itu unexpected event. Harus ditinjau, diinvestigasi apakah syarat keandalannya sudah cukup atau perlu ditambah," kata Fabby kepada kumparan, di kantornya IESR, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (8/8).
Sripeni mengakui perusahaannya tidak mengantisipasi skenario terburuk seperti yang terjadi dua pekan lalu. Transfer daya dari sistem Timur ke Barat, berdasarkan kalkulasi PLN, bisa berjalan dengan minimal dua sirkuit yang beroperasi. Dalam kasus blackout kemarin, situasinya di luar perkiraan.
Sebab, dari empat jaringan transmisi yang tersedia, satu saluran di Selatan dalam proses perawatan. Dengan demikian, hanya tiga jaringan yang berfungsi. Begitu dua sirkuit di Utara mengalami trip, satu sirkuit tersisa tidak mampu menanggung daya.
"Ini yang kami tidak antisipasi adalah terjadinya gangguan dua sirkuit sekaligus," ungkapnya.
Bagi Alvin Lie, Anggota Ombudsman Republik Indonesia, pemeliharaan satu jaringan transmisi di sisi Selatan terasa janggal. Ombudsman akan membentuk tim untuk menginvestigasi hal ini.
Anggota Ombudsman RI Alvin Lie, klarifikasi PLN di Kantor Ombudsman RI
Anggota Ombudsman RI Alvin Lie memberikan keterangan saat menggelar pertemuan untuk meminta klarifikasi PLN di Kantor Ombudsman RI, Jakarta, Kamis (8/8/2019). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
"Perlu kami dalami lagi, misalnya jadwal perawatan, kemudian dokumen-dokumen bukti perawatan, dan ketika perawatan terjadi bagaimana sirkuit yang lain ini juga berfungsi untuk siaga mengambil alih beban dari perawatan yang ini," ucapnya.
Djoko Rahardjo Abumanan, Direktur Strategis 2 PLN, menjelaskan perihal perawatan satu sirkuit transmisi dalam pertemuan dengan Ombudsman, Kamis (8/8). Ia mengatakan, proses pemeliharaan sempat tertunda karena menunggu gelaran Asian Games 2018 dan Pemilu 2019 rampung.
Namun, Ombudsman tak mau menerima mentah-mentah argumen itu. "Ada hal-hal yang dijelaskan (PLN) tapi kami nggak bisa terima juga," ujar Alvin. Ia enggan mengungkapkan secara gamblang poin lain yang terungkap dalam pertemuan Ombudsman dengan PLN.
Sementara itu, penyebab trip dua jaringan transmisi di Utara juga masih misteri. PLN semula mengidentifikasi hubungan arus pendek di SUTET 500 kV dengan sebuah pohon sengon di Ungaran, Jawa Tengah, sebagai pemicu.
"Ada kebakaran di sana namun tidak besar, kecil namun membuat jaringan rusak fatal," jelas I Made Suprateka, Kepala Komunikasi Korporat PLN, Senin (5/8).
Sehari berselang, Sripeni meralatnya usai bertemu dengan Komisi VII DPR, Selasa (6/8).
"Itu bukan penyebab tunggal. Berikan kami waktu untuk melakukan investigasi, untuk melakukan asesmen menyeluruh. Kami mohon waktu karena kami ingin sangat komprehensif dalam memastikan penyebabnya dan langkah ke depan," pintanya.
Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, sampai turun tangan mengatasi persoalan setrum itu. Ia menginstruksikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengaudit PLN. Hammam Riza, Kepala BPPT, menuturkan permintaan tersebut diutarakan Luhut ketika ia berkunjung ke Kantor Kemenko Maritim untuk membahas hari jadi ke-41 instansinya.
Blackout, Mati listrik massal, Menara SUTET
Menara SUTET. Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq
"Pada saat ditanya apakah BPPT siap untuk melaksanakan audit tentang pemadaman listrik di Jabodetabek saya bilang siap," kata Hammam kepada kumparan, di Kantor BPPT, Jakarta Pusat, Jumat (9/8).
BPPT langsung menggelar rapat internal untuk menyiapkan materi dan membentuk tim. Hammam mengungkapkan, tim audit akan berisi 20 orang dan dipimpin langsung oleh Deputi Kebijakan Teknologi.
Proses audit akan mencakup aspek teknologi, organisasi, infrastruktur, dan juga sumber daya manusia PLN. Bila sesuai rencana, tim akan bekerja selama dua bulan.
Video
Hasilnya, lanjut Hammam, akan diberikan kepada PLN. Jika ditemukan kesalahan prosedur, BPPT akan memberikan rekomendasi untuk pembenahan. "Inti dari audit ini bukan untuk mencari kesalahan," ia menegaskan.
BPPT akan bertemu dengan manajemen PLN pekan ini. Hammam mengatakan, lembaganya harus terlebih dulu mendapat persetujuan PLN. Apalagi, PLN juga telah membentuk tim audit dengan melibatkan tujuh perguruan tinggi.
"Kalau PLN juga bilang, 'ah enggaklah kita mau melakukan sendiri'. Kita enggak bisa maksain," imbuhnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan