Kumparan Logo

5 Fakta Soal Kartu Prakerja Terungkap dari Survei BPS

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga mencari informasi tentang pendaftaran program Kartu Prakerja gelombang kedua di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
zoom-in-whitePerbesar
Warga mencari informasi tentang pendaftaran program Kartu Prakerja gelombang kedua di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Survei Angkatan Kerja (Sakernas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik atau BPS pada Agustus 2020, memvalidasi efektivitas program Kartu Prakerja dalam meningkatkan keterampilan angkatan kerja Indonesia pada masa pandemi COVID-19.

Sakernas secara rutin dilakukan BPS setiap bulan Februari dan Agustus. Untuk bulan Agustus 2020, sampel yang digunakan mencapai 30.000 blok sampel atau sekitar 300.000 rumah tangga yang tersebar secara proporsional hingga level kabupaten/kota se-Indonesia.

Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan pada Sakernas Agustus 2020 memang ada tambahan pertanyaan terkait dampak Covid-19, program Kartu Prakerja, dan persepsi mengenai program pemerintah terkait bantuan sosial.

Adapun Kartu Prakerja adalah program bantuan biaya pelatihan yang ditujukan untuk pencari kerja, pekerja ter-PHK, pelaku usaha mikro-kecil maupun pekerja aktif yang membutuhkan peningkatan kompetensi.

Berikut 5 Data yang diungkapkan dalam Sakernas BPS terkait Program Kartu Prakerja.

1. Ingin Tingkatkan Keterampilan Jadi Motif Utama

Dalam Sakernas Agustus 2020, BPS memotret alasan para pendaftar Kartu Prakerja. Hasilnya, 48,70 persen beralasan ingin meningkatkan keterampilan kerja.

Sakernas BPS soal program Kartu Prakerja. Foto: Dok. Istimewa

Sedangkan 27 persen pendaftar beralasan ingin mendapatkan uang saku insentif, 12 persen ikut teman atau hanya coba-coba, 5,01 persen untuk mengisi waktu luang, 3,46 persen karena pendaftaran gratis, dan lainnya sebanyak 2,13 persen.

2. Berhasil Tingkatkan Keterampilan Kerja

Meskipun program Kartu Prakerja sempat menuai kontroversi dan banyak orang skeptis dengan efektivitas pelatihan online, namun manfaatnya tak bisa dipungkiri.

Sakernas BPS soal program Kartu Prakerja. Foto: Dok. Istimewa

Sakernas BPS membuktikan jika 88,92 persen penerima Kartu Prakerja yang menyelesaikan telah pelatihan, menilai program Kartu Prakerja telah berhasil meningkatkan keterampilan kerja mereka.

"88,92 persen penerima manfaat merasa bahwa program ini dapat meningkatkan keterampilan kerja mereka," kata Kepala BPS, Suhariyanto.

3. Penerima Merata di Seluruh Provinsi, Muda, dan Cukup Terdidik

Meski pada saat disurvei pada bulan Agustus 2020 penerima Kartu Prakerja baru mencapai 50 persen dari kuota tahun 2020, BPS mencatat bahwa penerima Kartu Prakerja telah tersebar di 34 provinsi se-Indonesia. Penerima paling banyak ada di Jawa Barat (16,9 persen) dan paling sedikit di Papua Barat (0,08 persen).

Sakernas BPS soal program Kartu Prakerja. Foto: Dok. Istimewa

Adapun berdasarkan umur, sebanyak 37 persen berusia 18-24 tahun meskipun yang berusia di atas 60 tahun juga ada (0,46 persen). Sementara itu bila ditinjau dari pendidikannya, sebanyak 91 persen pendidikan SMA/SMK ke atas.

4. Pekerja Terdampak Pandemi Ikut Kartu Prakerja

Sakernas Agustus 2020 juga memberikan gambaran distribusi penerima Kartu Prakerja. Sebanyak 66,47 persen penerima Kartu Prakerja adalah mereka yang bekerja. Sedangkan pengangguran sebanyak 22,24 persen, dan Bukan Angkatan Kerja (BAK) sebanyak 11,29 persen.

Sakernas BPS soal program Kartu Prakerja. Foto: Dok. Istimewa

Kepala BPS, Suhariyanto, menegaskan meskipun sebagian besar penerima manfaat Kartu Prakerja adalah mereka yang bekerja, bukan berarti program ini tidak tepat sasaran.

Sebab, mereka yang bekerja ini merupakan pekerja yang terdampak pemotongan jam kerja sehingga berimbas pada penghasilannya. "Pandemi pandemi COVID-19 ini berdampak pada 29 juta pekerja. Sebanyak 24 juta di antaranya berkurang jam kerjanya. Jadi meski bekerja, income mereka memang sangat terbatas," ujarnya.

Menanggapi tudingan bahwa Kartu Prakerja salah sasaran, Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari, menjelaskan berdasarkan aturan program Kartu Prakerja membolehkan pekerja aktif menjadi penerima.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari. Foto: ANTARA

"Selain itu, perlu dipahami definisi bekerja menurut BPS adalah melakukan pekerjaan atau membantu orang melakukan pekerjaan minimal 1 jam selama 1 minggu terakhir. Mereka yang punya usaha atau pekerjaan tetapi selama seminggu terakhir tidak bekerja pun dikategorikan bekerja. Jadi jangan heran apabila persentase orang yang bekerja besar," katanya.

5. Ragam Penggunaan Insentif Kartu Prakerja

Program Kartu Prakerja memberikan insentif kepada peserta yang telah menyelesaikan pelatihan dan memberikan ulasan serta rating senilai Rp 600 ribu selama empat bulan.

Dengan insentif tersebut, Pemerintah bisa mendapatkan feedback dari pengguna, tapi peserta Prakerja bisa menggunakan insentif ini untuk beragam kebutuhan mereka.

Lalu digunakan untuk apa saja insentif tersebut?

Sakernas BPS soal program Kartu Prakerja. Foto: Dok. Istimewa

Dari hasil survei BPS, 81,24 persen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara 33,31 persen ditabung, 23,47 persen digunakan untuk modal usaha, 11,23 persen untuk membayar utang, dan lainnya 4,76 persen.

Melihat hasil survei BPS tersebut, Denni Puspa Purbasari menilai fitur Semi-Bansos Kartu Prakerja di masa pandemi ini telah divalidasi oleh BPS.

"Di satu sisi meningkatkan keterampilan kerja penerimanya, di sisi lain membantu meringankan beban hidup mereka," ujarnya.